Skip to content

TUGAS ULUMUL QUR’AN

Juni 4, 2010

I’jaz  Qur’an

· Menurut bahasa: Kata I’jaz adalah isim mashdar dari ‘ajaza-yu’jizu-I’jazan yang mempunyai arti “ketidak berdayaan dan keluputan”.

· Secara istilah: Penampakan kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW. dalam ketidakmampuan orang Arab untuk menandingi mukjizat nabi yang abadi, yaitu Al-qur’an

· I’jazul Qur’an adalah kekuatan, keunggulan dan keistimewaan yang dimiliki Al-Qur’an yang menetapkan kelemahan manusia, baik secara terpisah maupun berkelompok-kelompok, untuk bisa mendatangkan minimal yang menyamainya. Kadar kemukjizatan Al-Qur’an itu meliputi tiga aspek, yaitu : aspek bahasa (sastra, badi’, balagah/ kefasihan), aspek ilmiah (science, knowledge, ketepatan ramalan) dan aspek tasyri’ (penetapan hukum syariat).

· Mukjizat adalah sebuah perkara luar biasa yang disertai tantangan, yangselamat, dari penging karan, dan muncul pada diri seorang yang mengaku nabi sebagi penguat dan penyesuai dakwahnya. Syarat disebutnya mukjizat diantaranya :

1. Hal yang diluar kebiasaan.

2. Disertai tantangan untuk meniru, agar mereka yang di tantang mrasa tidak mampu untuk kemudan mengakui bahwa itu dari Allah.

· Pembagian Jenis Mukjizat:

1. Mu’jizat Indrawi ( kekuatan yang muncul dari fisik ). Ini yang sering terdapat pada diri nabi, kekuatan yang timbul atau disebut kesaktian

2. Mukjizat Rasionalis (lebih banya ditopang oleh kemampuan intelektual) Kemampuan intelektual yang rasional.

· Seg-segi Mukjiza Al-Qur’an:

1. Al-Qur’an memberikan ruangan sebebas-bebasnya pada pergaulan pemikiran ilmu pengetahuan. Segi bahasa dan susunan redaksinya

2. stimulus Al-quran kepada manusia untuk selalu berfikir atas didrinya sendiri dan alam semesta yang mengitarinya

3. Al-quran dalam mengemukakan dali-dalil argument serta penjelasan ayat-ayat ilmiah, menyatakan isyarat-isyarat ilmiah yang sebagiannya baru terungkap.

4. Segi sejarah dan pemberitaan yang ghaib.diantaranya : Sejarah/keghaiban masa lampau, Keghaiban masa kini, Ramalan kejadian masa yang akan datang.

5. Segi petunjuk penetapan hukum : Hukum hudud bagi pelaku zina, pencurian dsb. Hukum qishas bagi pembunuhan. Hukum waris yang detil. Hukum perang dan perdamaian.

6. Susunan kalimatnya indah.

7. Terdapat uslub (cita rasa bahasa) yang unik, berbeda dengan semua uslub-uslub bahasa Arab.

8. Menantang semua mahkluk untuk membuat satu ayat saja yang bisa menyamai Al-Qur’an, tapi tantangan itu tidak pernah bisa dipenuhi sampai sekarang ini.

9. Bentuk perundang-undangan yang memuat prinsip dasar dan sebagian memuat detail rinci yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia melebihi setiap undang-undang ciptaan manusia.

10. Menerangkan hal-hal ghaib yang tidak diketahui bila mengandalkan akal semata-mata.

11. Tidak bertentangan dengan pengetahuan ilmiah (ilmu pasti, science).

12. Tepat terbukti semua janji (ramalan) yang dikhabarkan dalam Al-Qur’an.

13. Mengandung prinsip-prinsip ilmu pengetahuan ilmiah didalamnya.

14. Berpengaruh kepada hati pengikut dan musuhnya

15. Gaya bahasa Al-Qur’an membuat orang Arab pada saat itu kagum dan terpesona. Kehalusan ungkapan bahasanya membuat banyak diantara mereka masuk islam.

16. Al-Qur’an muncul dengan uslub yang begitu indah.di dalam susunan kalimat tersebut terkandung nilai-nilai istimewa yang tidak akan pernah ada ucapan manusia.

17. Al-Qur’an menjelaskan pokok-pokok akidah, norma-norma keutamaan, sopan santun, undang-undang ekonomi, politik, social dan kemasyarakatan,serta hukum-hukum ibadah.

18. Ketelitian Redaksinya:

a. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dan antonimnya, beberapa contoh diantaranya :

i. Al-Hayah (hidup) dan Al-Maut (mati), masing-masing sebanyak 145 kali

ii. An-Naf (manfaat) dan Al-Madharah (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali

iii. Al-Har (panas) dan Al-Bard (dingin) sebanyak 4 kali

iv. As-Shalihat (kebajikan) danAs-Syyiat (keburukan) sebanyak masing-masing 167 kali

v. Ath-thuma’ninah (kelapangan/ketenangan) dan Adh-dhiq (kesempitan/kekesalan) sebanyak masing-msing 13 kali

b. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya atau makna yang dikandungnya

i. Al-harts dan Az-zira’ah (membajak/bertani) masing-masing 14 kali

ii. Al-‘ushb dan Adh-dhurur (membanggakan diri/angkuh) masing-masing 27 kali

iii. Adh-dhaulun dan Al-mawta (orang sesat/mati jiwanya) masing-masing 17 kali

iv. Al-infaq (infaq) dengan Ar-ridha (kerelaan) masing-masing 73 kali

v. Al-bukhl (kekikiran) dengan Al-hasarah (penyesalan) masing-masing 12 kali

vi. Al-kafirun(orang- orang kafir) dengan An-nar/Al-ihraq (neraka/pembakaran) masing-masing 154 kali

c. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabny

i. Al-israf (pemborosan dengan As-sur’ah (ketergesaan) masing-masing 23 kali

ii. Al-maw’izhah (nasihat/petuah) dengan Al-lisan (lidah) masing-masing 25 kali

iii. Al-asra (tawanan) dengan Al-harb (perang) masing-masing 6 kali

19. Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun, sedangkan kata hari dalam bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni), berjumlah tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain, kata yang berarti bulan (syahr) hanya terdapat dua belas kali sama dengan jumlah bulan dalam setahun.

20. Al-Qur’an menjelaskan bahwa langit itu ada tujuh macam. Penjelasan ini diulangi sebanyak tujuh kali pula, yakni dalam surat Al-Baqarah ayat 29, surat Al-Isra ayat 44, surat Al-Mu’minun ayat 86, surat Fushilat ayat 12, surat Ath-thalaq 12, surat Al- Mulk ayat 3, surat Nuh ayat 15, selain itu, penjelasan tentang terciptanta langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat.

21. Kata-kata yang menunjukkan kepada utusan Tuhan, baik rasul atau nabi atau basyir (pembawa berita gembira) atau (nadzir pemberi peringatan), kesemuanya berjumlah 5189 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut yakni 518.

22. Berita tentang hal-hal yang gaib

23. Banyak sekali isyarat ilmiah yang di temukan dalam Al-Qur’an, misalnya :

a. Cahaya matahari bersumber dari dirinya dan cahaya bulan merupakan pantulan. surat Yunus: 5

b. Kurangnya oksigen pada ketinggian dapat menyesakkan napas. surat Al-An’am ayat 25

c. Perbedaan sidik jari manusia.surat Al-Qiyamah ayat 4

d. Aroma atau bau manusia berbeda-beda. surat Yusuf ayat 94

e. Masa penyusunan yang tepat dan masa kehamilan minimal, surat Al-Baqarah ayat 233

f. Adanya nurani {superego} dan bawah sadar manusia. surat Al-Qiyamah ayat 14

g. Yang merasakan nyeri adalah kulit. Al-Qur’an surat An-nisa ayat 56

· Pendapat Para Ulama : Al-Baqillani dalam jaz Al-Qur’an menyebutkan tiga mukjizat dalam Al-Qur’an. Yakni, pemberitaan tentang perkara ghaib, penuturan kisah umat terdahulu dan keserasian yang menakjubkan

· Faedah Kajian Mukjizat Al-Qur’an : Al-Qur’an sebagai sosok kitab mukjizat yang didalamnya terdapat ilmu-ilmu yang menjdai pedoman bagi kaum muslim

Sabtu, 12 April 2008
Oleh: el-Hurr

“Al-Qur’an al-Karim, sebagai kitab terakhir nan sempurna yang diturunkan kepada Nabi pamungkas Muhammad saaw. memiliki keistimewaan khusus dari kitab-kitab langit yang lain. Kita menemukan pengakuan banyak ulama baik agama samawi maupun yang bukan atas perubahan kitab mereka bahkan terkadang menafikan ‘sifat langit’-nya kitab agama mereka. Para ilmuan Kristen sendiri mengakui bahwa kitab Injil yang empat ditulis setelah wafatnya al-Masih oleh empat Hawari (pengikut dan murid al-Masih). Mereka tidak menulis langsung melalui diktasi al-Masih, tapi tulisan tersebut berupa remembering atas peristiwa-peristiwa yang mereka alami selama menyertai al-Masih, seperti biografi, perilaku dan nasehat-nasehat, kisah perjalanan al-Masih. Selain itu, di antara injil tersebut bahkan berisikan surat-surat yang ditulis dan dikirim oleh para Hawari dan ulama-ulama Kristen kepada pengikutnya.”

Karenanya Injil bagi umat Kristen bukanlah merupakan kitab langit, tapi lebih merupakan biografi hidup al-Masih dan para Hawari. Demikian halnya umat Yahudi. Mereka mengakui bahwa dalam kitab Perjanjian Lama, tidak ada kalimat apapun yang merupakan firman langsung Tuhan kepada nabi Musa as. Sedangkan penganut Zarahustra mengakui bahwa dari 50 jilid kitab Avista, hanya satu yang mereka terima selebihnya mereka bakar.

Tinggallah al-Qur’an satu-satunya kitab suci yang diturunkan Tuhan kepada Rasulullah saw. didiktekan langsung maupun melalui perantara  dan dibacakan kepada umat manusia yang originalitasnya otentik serta terjaga.

Dengan perbedaan yang tegas ini, penganut agama lain merasa bahwa bahwa al-Qur’an merupakan gangguan serius bagi kelangsungan agama mereka, dan dengan bermodalkan kedengkian, mereka kemudian melakukan kerja serius untuk merendahkan kitab suci ini.[1]

Mereka dengan membawa dua semangat; pertama; berusaha menyamai posisi atau berusaha lebih dari yang mereka anggap musuh. Kedua; apabila mereka tidak dapat melakukan yang pertama, maka mereka mencari-cari kesalahan dan kelemahan musuh.

Para pembesar Gereja mengalami kebuntuan di jalan pertama, selain itu mereka juga melihat bahwa, kaum muslim sendiri tidak memiliki kemampuan atau kemungkinan merubah al-Qur’an, maka mereka memilih menggembar-gemborkan serta memperluas isu perubahan al-Qur’an.

USAHA MENCARI KELEMAHAN AL-QUR’AN

Di Munich Jerman, sebelum perang dunia ke dua tahun 1939-1945 proyek penulisan dan penyebarluasan tulisan-tulisan menyangkut al-Qur’an digalakkan. Untuk menjamin save-nya karyakarya tersebut, dibangunlah kemudian sebuah pusat reseach dan kepustakaan yang mereka namakan The Qur’anic Centre.

Ribuan naskah al-Qur’an dalam beragam bentuk dari berbagai kota dan negara dikumpulkan serta terjaga dengan baik di tempat itu. Setelah dilakukan penelitian panjang, mereka menemukan bahwa dari semua naskah-naskah al-Qur’an dalam bentuk sama, tidak ditemukan perubahan atau kelainan satu naskah al-Qur’an dengan naskah al-Qur’an yang lain. Tidak adanya perbedaan dari masing-masing naskah memustahilkan kemungkinan campur tangan manusia dalam ‘proyek’ kitab suci ini.[2]

INJIL DAN AL-QUR’AN

Salah satu kerja keras yang dilakukan oleh kaum Orientalis adalah penelitian seputar sejarah dan metodologi penulisan dan pengumpulan al-Qur’an. Isu perubahan al-Qur’an dari usaha mereka tersebut dimulai dari banyaknya mushhab al-Qur’an masing-masing sahabat. Bukan hanya memperluas beberapa perbedaan yang ada dalam mushhah-mushhab sahabat tersebut, isu yang lebih serius kemudian dikembangkan (baca; membesar-besarkan?) yaitu perubahan al-Qur’an.

Apa yang melatari kerja besar para orientalis ini? Kontra prestasi apa yang diinginkan dalam  mega proyek yang menelan dana super besar ini? Dengan mudah jawabannya dapat kita dapatkan bila membaca kembali sejarah agama Kristen ataupun Yahudi. Dengan membandingkan Injil dan al-Qur’an. titik terang dari usaha mereka akan tampak jelas.

Dewasa ini, para peneliti beragama Kristen dalam penelitiannya terhadap Injil, menemukan sekaligus mengakui ahistoris-nya kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Inseklopedia Pengetahuan di Inggris, menulis, pada abad pertama Masehi, terdapat 25 Injil beredar di kalangan penganut Kristen. Kitab Injil yang empat yang diakui sekarang ini, sampai tahun 325 Masehi belum diterima atau direkomendasikan oleh umunya gereja-gereja. Barulah setelah Persatuan gereja-gereja dengan mengumpulkan ribuan tokoh dari beragam kota melakukan penelitian atas ratusan naskah Injil, dari 50 Injil yang dianggap paling muktabar, empat Injil yang ada sekarang dipilih secara resmi sebagai kitab suci agama Kristen dan melarang Injil selainnya.[3]

Perlu dicatat juga bahwa, dalam pertemuan tersebut, hadirin terbagi menjadi dua, 2/3 menyakini bahwa al-Masih adalah manusia biasa. Sedangkan 1/3 menyakini ketuhanan al-Masih dan keyakinan Trinitas untuk pertama kali menjadi akidah Kristiani. Tapi penguasa akhirnya mendukung minoritas, alasannya sangat politis; karena Pendeta Estasius (pemimpin agung gereja Roma) adalah teman akrab imperator Konstantin, dan mayoritas di bawah tekanan Konstantin menerima akidah tersebut, ditambah lagi pendeta Arius yang menentang akidah mayoritas ini, ditemukan terbunuh oleh pihak kerajaan.[4]

Dr. Husain Taufiqi, seorang peneliti agama Kristen dari Iran menulis; “Perhelatan akbar ini dilaksanakan di Lawekiyah Suria pada tahun 364 M.” Irinayus, untuk mendukung rekomendasi empat Injil ini menulis; “sebab penjuru angin berjumlah empat, Tuhan juga memiliki perjanjian dengan manusia, maka Injil pun berjumlah empat..”

DUA A’UDZU VERSI ORIENTALIS

Sebagian orientalis berusaha mencari perbedaan antara mashahib al-Qur’an kumpulan sahabat Nabi dengan mushhab sekarang (yang ditulis oleh Taha Utsmany). Sebagai contoh, salah seorang dari mereka mengatakan bahwa, Ibnu Mas’ud meyakini bahwa Ma’udzatain (surah an-Nas dan al-Falaq) bukan merupakan bagian al-Qur’an, di mana kedua surah ini merupakan yang paling terkenal.[5]

Pendapat ini tentu saja sangat lemah dan mudah dijawab. Berikut ini beberapa komentar dari tokoh-tokoh besar Islam;

  1. Fakhr ar-Razi mengatakan; nukil menukil riwayat lemah ini hanya terdapat dalam kitab-kitab tua saja dan tentu saja tidak dapat diterima. Bagi kami, selain bahwa al-Qur’an merupakan rangkaian yang tidak terputus bukan saja pada zaman sahabat, mengingkari sebagian dari al-Qur’an yang ada dihukumi sebagai kafir.[6]
  2. Ibnu Hazm dalam al-Muhalla menulis; nukilan ini adalah kebohongan atas Ibn Mas’ud dan ini hanya kabar yang dibuat-buat. Dalam bacaan Ashim dan Zar’an –yang menukil dari Ibn Mas’ud- terdapat kedua surah ini, ini sudah cukup membuktikan bahwa Ibn Mas’ud meyakini kedua surah ini merupakan bagian dari al-Qur’an.[7]
  3. Qadi Abu Bakar al-Baqlany menulis; seandainya tuduhan atas Ibn Mas’ud itu benar dan berbeda dengan mushhab sahabat yang lain, tentunya akan terjadi perdebatan di antara mereka, tapi berita tentang itu tidak pernah kita temukan.

Atau anggaplah Ibn Mas’ud tidak memasukan kedua surah  tersebut dalam mushhabnya, tapi bukan berarti bahwa ia tidak meyakini bahwa keduanya memang bukan bagian dari al-Qur’an, sebagaimana ia tidak menulis dalam mushhabnya surah al-Fatihah dengan alasan surah ini sangat terkenal dan sedemikian dihapal hingga tidak akan mungkin dilupakan oleh kaum muslim.[8]

TUDUHAN LAIN DARI BELACHER

Selain tuduhan di atas, Belacher menulis; ayat-ayat yang turun di Makkah belum dikumpulkan dan tidak ada di dalam al-Qur’an sekarang. Pengoleksian dan penulisan ayat al-Qur’an dimulai di Madinah, karenanya Qur’an yang ada sekarang ini hanya memuat ayat-ayat yang turun di Madinah saja.[9]

Dr. Dasuqy memberikan jawaban yang atas tuduhan  ini. Ia menulis; “ayat yang turun di Makkah sekitar 19/30 dari keseluruhan ayat al-Qur’an, atas dasar apa Belacher tidak memperhatikan dan menafikan hal ini?”

Rudi Paret, orirentalis asal Jerman dalam mukaddimah terjemahan al-Qur’an bahasa Jermannya, menulis; “kami tidak mendapatkan bukti apa-apa yang bisa meyakinkan kami walau satu ayat saja yang original berasa dari nabi Muhammad.”

Belacher jauh menukik ke jantung mazhab-mazhab dalam Islam. Dengan mengorek-ngorek riwayat simpan siur dari beberapa mazhab semisal Mu’tazilah, Abadhiyah dan Syi’ah dan lain-lain. Tuduhan yang paling keras ditujukan kepada mazhab Syi’ah.[10]

BEBERAPA JAWABAN

  1. Tuduhan ini sangat tidak berdasar pada sejarah yang kuat. Meski tidak sangkal bahwa ada dari kalangan mazhab-mazhab Islam yang menukil perubahan al-Qur’an. tapi jumlah mereka sangat minim dan tentu saja tidak bisa dijadikan sebagai ukuran.
  2. khusus terhadap Syi’ah, Belacher membagi Syi’ah ke dalam dua golongan; Rafidhy yang ia tuduh sangat meyakini terjadinya perubahan radikal dari al-Qur’an. Imamiyah tidak meyakini perubahan radikal dari al-Qur’an.

Kesimpulan Belacher, semua golongan Syi’ah meyakini adalah Tahrif (perubahan) al-Qur’an. Tapi kenyataan sebenarnya adalah sebaliknya. Sebab sepanjang sejarah, mayoritas Syi’ah menolak secara tegas adanya tahrif . Demikian halnya penganut Syi’ah yang sekarang meyakini hal yang sama. Kitab-kitab tafsir Syi’ah, ulum al-Qur’an dan Akidah Syi’ah bisa kita jadikan buktinya.

Sejumlah kitab Syi’ah semisal di bawah menjadi bukti bahwa tuduhan keyakinan Syi’ah atas tahrif adalah tidak berdasar dan sangat lemah.

  1. Syaikh Shaduq (w. 381 ) Risalah al-I’tiqad hal. 48
  2. Syaikh Mufid (w. 413 ) al-Masail as-Sururiyah hal. 78
  3. Sayyid Syarif Murtadha (w. 436 ) az-Zakhirah fi al-Kalam hal.361
  4. Syaikh Tusi (w. 460) at-Tibyan fi Tafsir al-Qur’an 1/3
  5. Syaikh Tabarsy (w. 548 ) Majma’ul Bayan 1/83
  6. Sayid Ibn Thawus (w. 664 ) Mir’at al-Uqul 5/58
  7. Muhaqqiq Karaki al-Amili (w. 940 ) at-Tahqiq fi Nafy at-Tahrif hal. 22
  8. Syaikh Baha’I (w. 1030) Risalah al-Urwah al-Wutsqah hal. 16
  9. Faizd Kasyany (w. 1090) Tasfir as-Shafi 1/46

10.    Ayatullah al-Khu’i al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an hal. 26

11.    Allamah Thabathabai al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an

Masih banyak ulama kontemporer Syi’ah menulis ulasan-ulasan penolakan atas tahrif yang tidak bisa disertakan di sini.[11]

Selayaknyalah Belacher sebelum mengeluarkan tuduhan, merujuk kepada kitab-kitab Syi’ah muktabar kemudian selanjutnya kepada Belacher; Fa undzuru kaifa tahkumun….!

TUDUHAN F. BUHL

Dalam akhir jilid ke empat Eksiklopedia Pengetahuan Leinden, Buhl menulis Tahrif. Dengan berang, ia menuduh al-Qur’an telah melakukan telah mendistorsi Taurat dan Injil. Sebenarnya dalam tulisannya ini, ia lebih menekankan penyerangan terhadap al-Qur’an dalam misinya mempertahankan Taurat dan Injil. Selebihnya ia hanya menulis sedikit tentang keyakinan perubahan al-Qur’an dalam mazhab-mazhab Islam, itu pun dengan dua kekeliruan fatal telah dilakukannya.

Ia menulis; “kaum Syi’ah menuduh Sunni telah menghilangkan ayat-ayat yang membenarkan mazhab Syi’ah, demikian sebaliknya Sunni menuduh Syi’ah.”[12]

Ia memberikan dua tuduhan;

  1. Syi’ah meyakini adanya pengurangan ayat al-Qur’an
  2. Syi’ah meyakini adanya Penanmbahan ayat al-Qur’an

Di atas telah dibuktikan penyataan ulama besar Syi’ah yang menolak adanya tahrif. Merujuk kepada kitab-kitab mereka akan memberikan penjelasan yang terang atas masalah ini.

TUDUHAN ETAN KOHLBERG

Kohlberg dengan nada prokatif menuduh bahwa tahrif yang dilakukan oleh Syi’ah sebagai pay back atas kekhalifahan –selain Imam Ali- meski sebenarnya nampak ia kurang yakin dengan tuduhannya sendiri;

sejumlah kitab ulama besar Syi’ah menunjukkan adanya keyakinan sejumlah kitab ulama besar Syi’ah menunjukkan adanya keyakinan tahrif. Semisal; Tafsir Ali bin Ibrahim al-Qummy, Tafsir Imam Askary, Tafsir Furat, Tafsir ‘Ayasy, Awail Maqalat oleh Syaikh Mufid dan Fashlul Khitab oleh Mirza Husein Nury.” “Usaha kaum Syi’ah melakukan tahrif ini, adalah untuk membalas tersingkirnya Ali bin Abi Thalib dari posisi khalifah dan ketidak mampuan kaum Syi’ah untuk mencapai kekuasaan.”

Setelah itu ia menulis; “Sebenarnya sejumlah ulama kontemporer Syi’ah juga menolak adanya tahrif, di antaranya; Sayyid Syahristany, Burujerdi dan Khu’i.”[13]

TUDUHAN MICHAEL BRASHER

Ia menulis dalam desertasi doktoralnya; “dengan menelaah kitab-kitab muktabar  Syi’ah (tafsir Qummi, Furat Kafi, ‘Ayasyi, Tulisan-tulisan Syaikh Thusi dan Thabarsi, Bashair ad-Darajat, as-Shafy Faidh Kasyani, Bihar al-Anwar dll..), bisa dikatakan bahwa; meski pun penambahan dalam tafsir adalah keterangan dan bukan penambahan ayat  al-Qur’an. Tapi dalam hal ini, itu secara tidak langsung mengindikasikan keyakinan Syi’ah akan adanya tahrif…… Dalam kitab Bashair ad-darajat juga diriwayatkan bahwa para Imam mengizinkan membaca al-Qur’an yang dikumpulkan khalifah Utsman sampai munculnya Imam Mahdi as.”

Tuduhan Brasher ini dapat disimpulkan dalam empat sisi:

  1. Ulama-ulama Syi’ah meyakini adanya Tahrif
  2. Riwayat di atas menunjukkan bahwa hadits Syi’ah juga menerima adanya tahrif.
  3. Hadits dalam Bashair ad-Darajat menunjukkan adanya tahrif dan tidak otentiknya Qur’an yang ada sekarang bagi orang Syi’ah

JAWABAN:

  1. Tidak benarnya tuduhan Tahrif terhadap Syaikh Mufid, at-Thusi, at-Thabarsi, Faidh Kasyani dan al-Qummi.

Meski tidak memungkiri adanya riwayat-riwayat tahrif dalam beberapa kitab di atas, tapi ulama-ulama Syi’ah sendiri menolak riwayat-riwayat tersebut. Dua catatan bisa diketengahkan untuk menjawab Kohlberg dan Brasher;

1.     Terkadang Ulama di bawah tekanan penguasa zalim terpaksa mengakui tahrif atau mengubah menyamarkan hukum agama. Meski tidak menafikan adanya hal tersebut, tapi tidak juga bisa secara otomatis menuduh bahwa itu adalah akidah mereka.

2.     Ulama-ulama yang disebutkan kedua orientalis di atas, dalam kitab mereka telah memberikan penjelasan ketiadaan tahrif. Adapun Kohlberg dan Brasher, entah keduanya tidak melihat atau membaca langsung kitab-kitab yang mereka sebutkan dan hanya menukil dari penulis-penulis barat atau orang-orang yang anti Syi’ah, atau kalaupun mereka membaca dan memahami kitab-kitab tersebut, maka mereka telah melakukan kebohongan dan tuduhan!

Untuk memperjelas, beberapa bagian dari kitab-kitab yang dituduhkan sebagai berikut;

1.    Syaikh Mufid (w. 413) dalam Awail Maqalat menulis; “Adapun bahwa terdapat penanmbahan ayat di dalam al-Qur’an, tidak saya terima, sebagaimana Imam Shadiq berpendapat demikian.”[14]

2.    Syaikh Thusi (w. 460) dalam mukadimah tafsirnya secara tegas menolak tahrif. Sayangnya kedua ilmuan (?) orientalis ini tidak bersedia membaca sama sekali awal-awal halaman at-Thusi.

At-Thusi menulis; “membicarakan tahrif al-Qur’an (bertambah atau berkurang) merupakan hal yang sia-sia, sebab itu sebuah kebatilan dan mayoritas ulama secara ijma’ menolaknya…dan mazhab kami Syi’ah demikian meyakininya (ketiadaan tahrif)…sebab al-Qur’an yang ada sekarang adalah sempurna secara benar…”[15]

At-Thusi dalam mukadimah juga selanjutnya mengmukakan beberapa bukti ringkas ketiadaan tahrif dan mengingatkan dengan tegas bahwa sejumlah sedikit dari riwayat-riwayat tahrif adalah hadis ahad, “tidak usah diperhatikan, dan jangan habiskan waktu anda untuk membahasnya!”

3.    Syaikh Thabarsi (w. 548) dalam mukadimah tafsirnya sebagaimana dengan Syaikh Thusi dengan tegas menulis;

Sia-sia bila dalam kitab tafsir, membicarakan tentang tahrif. Sebab ijma’ kaum muslim meyakini ketiadaan penambahan. Adapun pengurangan –meski ada sebagian golongan yang menerima- tapi menurut riwayat yang benar, ulama Syi’ah menentang hal tersebut.”[16]

4.    Feidz Kasyani (w. 1090) pada point keenam mukadimah tafsirnya, setelah menyebutkan beberapa riwayat tahrif kemudian mengkritik tajam. Ia menulis;

penolakan atas riwayat-riwayat tahrif adalah jelas, sebab bila kita terima riwayat-riwayat (yang bertentangan dengan al-Qur’an) ini, maka tidak akan tersisa dari ayat al-Qur’an, karena setiap ayat akan berpotensi sama terhadap tahrif dan alQur’an tidak bisa diterima sebagai hujjah yang mutlak dan diturunkannya merupakan kesia-siaan…”[17]

Ini merupakan pernyataan tegas Feidz Kasyani yang sayangnya tidak disebut oleh para orientalis. Lantas di manakah Buhl, Kohlberg dan Brasher serta tuduhan-tuduhan terhadap ulama-ulama yang telah menghabiskan dan mengabdikan hidup dan ilmunya untuk semangat akademis, ilmiah dan mencari hakikat?? Sekali lagi para orientalis tidak menunjukkan semangat keilmuan dalam setiap penelitian dan aktifitas ilmiah yang mereka lakukan.

Semangat permusuhan telah mendistorsi posisi ilmiah mereka. Mereka lebih mengedepankan emosi dan tendensi fanatic, ideologis buta dan….aktsaruhum li al-haqqi karihun!


[1] . Lihat Orientalis dan al-Qur’an (1) Antara Ilmu dan Tendensi

[2] . al-Mustasyriqun wa Tarjamah al-Qur’an, Hal. 24

[3] . Dairah al-Ma’arif al-Injiliziah, Hal. 13.

[4] . al-Bisyarat, Hal. 33-35

[5] . al-Istisyraq wa al-Khalifah, Hal. 29

[6] . Suyuty, al-Itqan, Hal. 79

[7] . Ibid

[8] . al-Baqlany, I’jaz al-Qur’an, Hal. 292

[9] . al-Fikr al-Istisyraqy, Hal. 112

[10] . Rangkaian tuduhan Belacher atas perubahan al-Qur’an kepada mazhab-mazhab dalam Islam akan dibahas pada bagian ke 3 dari rangkaian tulisan ini. Tulisan ini, hanya akan menyoroti dan menjawab tuduhan kepada Syi’ah atas perubahan al-Qur’an.

[11] . Lih. Ara’ Haul al-Qur’an, hal 22

[12] .  F. Buhl, 4/608

[13] . Nukatat Chan dar Baray-e Maudhe-e Imamiy-e Nisbat be Qur’an, Hal. 77

[14] .  Hal. 54

[15] . al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, 1/3

[16] . Majma’ al-Bayan, Hal. 1/15

[17] . as-Shafi, 1/46

Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), Maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” (QS: Yunus:38).

Al-quran sebagai pegangan dasar bagi umat islam tentu mencakup segala aspek kehidupan yang dijalani, karena islam itu bukanlah agama teori semata bahkan melebihi dari itu. Segala aspek yang mendasar baik pra-islam maupun yang akan datang nantinya telah tercantum di dalamnya.

Al-quran yang mempunyai ayat sebanyak 6436 ayat, 114 surah dan 30 juz, secara fisik tidak menampung semua jenis permasalahan. Namun dilihat dari sini maknanya sangat menghimpun segala permasalahan, bukan hanya di dunia bahkan mulai dari nol penciptaan alam semesta sampai digulungnya kembali tikar hamparan bumi, bahkan ke alam yang tidak ada penghujungnya.

Ilmu tafsir merupakan jalur yang tepat untuk menggali kandungan Alquran. I’jaz al-quran merupakan salah satu sub bidang yang tidak pernah ditinggalkan baik dalam buku berskala kecil apalagi ensiklopedia.

I’jaz atau mu’jizat sebagai mana didefenisikan Imam As-Suyuthy adalah kejadian atau perkara yang di luar jangkauan hukum alam untuk mengalahkan bantahan, terhindar dari kontradiksi baik secara fisik maupun rasional.

Al-quran sendiri adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad saw., dan Alquran juga mempunyai mu’jizat (mu’jizat di dalam mu’jizat) dari dua aspek.

Pertama; I’jaz bi Nafsihi yaitu mukjizat yang terkandung di dalamnya meliputi keindahan tata bahasa al-quran, kolaborasi antara susunan huruf, ayat dan surah, bahkan keserasian antara faktor turun ayatnya dengan ayat yang diturunkan. Kevalidan data yang tidak bisa dibantahkan juga mengukukuhkan posisi al-quran sebagai i’jaz di tengah-tengah masyarat. Sungguh indah sekali apa yang tercantum dalam al-quran pada awal ayat surah al-Baqarah Allah berfirman:
“Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS: Albaqarah: 2).

Kedua Ijaz ‘An Ghairihi artinya al-quran sebagai mukjizat ditilik dari luar subtansi Alquran. Allah telah menegaskan dalam firman-Nya:

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS: 23)

Kelemahan manusia meniru al-quran bahkan satu ayat sekalipun memperjelas i’jaz-nya al-quran. Hal ini berimbas dari i’jaz bi nafsihi. Sudah barang tentu kepribadian menggambarkan coraknya di mata orang lain.

Sebagai contoh kemukjizatan al-quran Allah ‘mempermainkan’ akal manusia melalui satu harkah tasydid saja namun menyibak arkeolegi yang terjadi di masa Nabi Musa as. (Baca; Tasydid Pembukti sejarah).

Informasi kepesatan tekhlonogi di akhir zaman jauh sebelumnya telah diinformasikan, melalui gaya bahasa sastra yang sensitive. Contoh kongkritnya seperti ilmu perkembangan Janin yang dipaparkan al-quran dalam beberapa ayat seperti berikut:

“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.” (QS: Al Mu’min: 12-15)

Tidak ada yang membantah konsep kandungan yang dipaparkan al-quran, karena pembuat konsep adalah Sang pencipta kandungan itu sendiri. Informasi Alquran walaupun bersifat pra-sejarah namun jika dili dan digali ternyata memiliki objek yang takkan pernah kadaluarsa.

Qashasul qur’an

A. Pendahuluan
“kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu (QS. Yusuf: 3)
Sebagai sebuah kitab suci, Al-Qur’an memuat kisah-kisah yang tak terkotori oleh oleh goresan pena tangan-tangan jahil dan tidak tercampuri kisah-kisah dusta dan rekayasa. Kisah-kisahnya merupakan kisah yang benar, yang Allah kisahkan untuk segenap manusia, sebagai cerminan dan contoh bagi kehidupan manusia sekarang dan yang akan datang.
Allah memberitahukan dan menceritakann kisah kepada kita agar kita berfikir, dan Allah memerintahkan kita untuk menceritakan (kembali) kisah ini kepada umat manusia agar mereka berfikir, sebagaimana Allah juga telah memberitahukan kepada kita bahwa ia menceritakan kisah itu kepada kita untuk memberikan hiburan ketabahan, keteguhan hati, dan kesabaran untuk tetap melakukan usaha dan perjuangan.
Tujuan dihadirkannya kajian kisah ini adalah dalam rangka menemukan tujuan-tujuan al-Qur’an dari kisahnya, mengalihkan perhatian kita kepada kisah ini dalam kebenaran, prinsip, dan pengarahan, dalam rangka melaksanakan perintah Allah untuk memperhatikan dan memikirkan, dan mengambil pelajaran dari setiap bait yang ada dalam kitab sucinya yaitu al-Qur’an al-Karim.
B. Kisah-Kisah Dalam Al-Qur’an
1. Pengertian Kisah
Al-Qur’an telah menyebutkan kata qashas dalam beberapa konteks, pemakaian, dan tashrif (konjungsi) nya: dalam bentuk fi’il madhi, fi’il mudhori’, fi’il amr, dan dalam bentuk mashdar . Menurut bahasa, kata qashash berarti kisah, cerita, berita atau keadaan . kisah sendiri berasal dari kata al-qassu yang berarti mencari atau mengikuti jejak . sependapat dengan al-Qattan, Imam ar-Raghib al-Isfahani dalam kitab al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an juga mengartikan kata “Qashashtu atsarahu” sebagai “Saya mengikuti jejaknya” .
Hasbi Ashiddieqy menyatakan bahwa pengertian dari qashash adalah mencari bekasan atau mengikuti bekasan (jejak). Lebih lanjut, beliau juga menerangkan bahwa Lafadz qashash adalah bentuk mashdar yang berarti mencari bekasan atau jejak , dengan memperhatikan ayat-ayat berikut ini.
“lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula” (QS. Al-Kahfi:64)
“Sesungguhnya Ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan Sesungguhnya Allah, dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” . (QS. Ali Imran : 62)
” Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS. Yusuf: 111)

Dari berbagai pengertian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa secara global pengertian dari qashash adalah pemberitahuan Qur’an tentang hal ihwal umat yang telah lalu, nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Di samping itu, Qur’an juga juga banyak mengandung keterangan-keterangan tentang kejadian pada masa lalu, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri dan peninggalan atau jejak setiap umat. Dan Qur’an juga menceritakan keadaan mereka dengan cara yang menarik dan mempesona baik dalam pengkisahan atau dalam setiap lafadz yang menceritakannya.
2. Metodologi Mencermati Kisah-kisah Dalam Al-Qur’an
Berbagai penelitian tentang kisah dalam al-Qur’an harus memiliki konsep yang jelas dan benar, sehingga dapat merenungkan letak-letak yang mengandung pelajaran dari kisah-kisah orang terdahulu agar tidak keluar menuju ketersesatan, mitos-mitos, dongeng-dongeng, cerita-cerita, legenda bohong. Dalam al-Qur’an, terdapat beberapa indikator seputar pengamatan terhadap kisah orang-orang terdahulu dan seputar metodologi ilmiah yang benar .
Banyak sekali terdapat metodologi dalam memahami kisah-kisah dalam al-Qur’an, namun diantara yang paling mudah dipahami adalah metode dimana kisah-kisah tersebut di kelompokan dalam katagori “berita-berita gaib” . Kategori gaib dijadikan tawaran metode dengan kenyataan bahwa diantara karakteristik orang-orang mu’min yang paling nayata dan menonjol adalah beriman kepada ayang gaib (transenden), selain itu hal ini juga diperkuat dengan landasan dari bagian rukun iman yaitu beriman kepada yang gaib.
Rasionalitas ghaib dalam karakteristik pemahaman terhadap Islam adalah unsur utama pembentukan rukun iman , dan al-Qur’an sendiri dengan tegas mengkategorikan bahwa kisah-kisah orang-orang terdahulu yang termaktub di dalam-nya adalah termasuk ke dalam alam gaib. Dalam memahami kisah gaib dalam al-Qur’an, kisah tersebut dapat ditinjau dari segi waktu, antara lain:
1. Gaib pada masa lalu; dikatakan masa lalu karena kisah-kisah tersebut merupakan hal gaib yang terjadi pada masa lampau, dan disadari atau tidak kita tidak menyaksikan peristiwa tersebut, tidak mendengarkan juga tidak mengalaminya sendiri. Contoh-contoh dari kisah ini adalah:
a. Kisah tentang dialog malaikat dengan tuhannya mengenai penciptaan kholifah di bumi, sebabagaimana tercantum dalam QS. Al-Baqarah: 30-34
b. Kisah tentang penciptaan alam semesta, sebagaimana diceritakan dalam QS. Al-Furqon: 59 dan QS. Qaf: 38.
c. Kisah tentang penciptaan nabi Adam AS dan kehidupannya ketika d surga, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-A’raf: 7
2. Gaib pada masa kini; dalam artian bahwa kisah tersebut terjadi pada masa sekarang, namun kita tidak dapat melihatnya di bumi ini. Contoh-contoh dari kisah ini adalah;
a. Kisah tentang turunnya Malaikat-malaikat pada malam Lailatul Qadar, seperti disebutkan dalam QS. Al-Qadar: 1-5
b. Kisah tentang kehidupan makhluq-mahkluq gaib seperti setan, jin, Iblis, seperti tercantum dalam QS. Al-A’raf: 13-14.
3. Gaib pada masa depan; dengan penjelasan bahwa semua akan terjadi pada masa depan ( di akhir zaman), Contoh-contoh dari kisah ini adalah;
a. Kisah tentang akan datangnya hari kiamat, seperti tercamtu dalam QS. Qori’ah, Al-Zalzalah.
b. Kisah Abu Lahab kelak di akhirat, seperti terdapat pada QS. Al-Lahab.
c. Kisah tentang surga dan neraka orang-orang di dalamnya, seperti dijelaskan dalam QS. Al-Ghosiyah dan surat-surat yang lain .
Mengamati pembagian diatas, hemat penulis masih terdapat sedikit kekurangan yang menyangkut qashashul Qur’an atau kisah-kisah dalam al-Qur’an. Kalau kita teliti lebih lanjut, ternyata ktiteria ghaib yang terjadi pada masa sekarang yang dipakai oleh Shalah Al-Khalidy tidak cukup mewakili terhadap kejadian-kejadian yang diprediksikan oleh al-Qur’an. Labih jauh, terdapat beberapa ayat al-Qur’an yang menceritakan berbagai kisah dan prediksi tentang masa sekarang yang sifatnya nyata (bukan goib), seperti ayat tentang perputaran bumi, tata surya dan planet-planet yang mengelilinginya, ataupun ayat yang menceritakan tentang kerusakan yang akan terjadi di bumi ini adalah ulah dari manusia itu sendiri.
Dengan melihat kenyataan pada masa kekinian, ternyata kisah ataupun cerita-cerita dalam al-Qur’an banyak yang sudah bisa dirasionalkan oleh manusia, dengan berbagai teknologi yang telah dikembangkan, ini artinya kisah yang terdapat dalam al-Qur’an tidak selamanya bersifat gaib. Selain itu, fenomena alam yang banyak terjadi seperti gempa bumi, tanah longsor dan lain sebagainya juga sangat mendukung kenyataan bahwa al-Qur’an tetap mengakui rasionalitas dan eksistensi yang dimiliki manusia sebagai kholifah yang diperintahkan untuk membaca dan menjaga ayat-ayat qouniyah Allah yang ada di muka bumi ini.
2. Macam-macam Isi Kisah Dalam Al-Qur’an
Secara garis besar, ksah-kisah yang terdapat dalam al-Qur’an dibedakan menjadi tiga bagian, dengan pembagian sebagai berikut;
a. Kisah para nabi, kisah ini bercerita mengenai dakwah mereka kepada umatnya, mu’jizat-mu’jizat yang diberikan Allah kepadanya, sikap dan reaksi orang yang menentag dakwahnya, tahapan dakwah serta akibat-akibat yang diterima mereka dari orang-orang yang mempercayai dan menentangnya. Kisahkisah ini bayak diceritakan al-Qur’an seperti kisah tentang Nabi Adam (QS. Al-Baqarah: 30-39 dan QS. Al-A’raf; 11), kisah tentang Nabi Nuh (QS. Hud: 25-49), kisah tentang Nabi Ibrahim (QS. QS. Al-Baqarah: 124, 132, dan QS. Al-An’am: 74-83) dan kisah para nabi dan rosul yang lainnya.
b. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi pada masa lalu, dan orang-orang yang tidak dipastikan kenabiannya. Diantara kisah ini adalah kisah tentang Luqman (QS. Luqman: 12-13), kisah tentang Dzul Qornain (QS. Al-Kahfi: 9-26), kisah tentang Thalut dan Jalut (QS. Al-Baqarah: 246-251), dan kisah-kisah yang lain.
c. Kisah-kisah yang terjadi pada msa Rosulullah Muhammad SAW, seperti kisah tentang Perang Badar dan Perang Uhud (QS. Ali Imran), kisah tentang Ababil (QS. Al-Fil: 1-5), kisah tentang peristiwa hijrah (QS. Muhammad: 13) .
3. Hikmah dan Tujuan dari Kisah-Kisah Dalam Al-Qur’an
Allah menetapkan bahwa dalam kisah orang-orang tedahulu tedapat hikmah dan pelajaran yang bagi orang-orang yang berakal, serta yang mampu merenungi kisah-kisah itu, menemukan hikmah dan nasihat yang ada di dalamnya, serta menggali pelajarn dan petunjuk hidup dari kisah-kisah tersebut. Allah juga memerintahkan kita untuk ber-tadabbur terhadapnya, mnyuruh unutk meneladani kisah orang-rang yang sholeh dan mushlih, serta mengambil metode mereka dalam berdakwah dalam posisi kita sebagai makhluq dan kholfah di muka bumi ini.
Diantara hikmah yang dapat kita ambil dari kajian kisah-kisah dalam al-Qur’an seperti yang disebutkan oleh Manna Khalil al-Qattan dan Ahmad Syadali dalam buku mereka masing-masing antara lain sebagai berikut;
a. Menjelaskan asas-asas dan dasar-dasar dakwah agama Allah dan menerangkan pokok pokok syari’at yang diajarkan oleh para Nabi.
b. Meneguhkan Hati Rosulullah SAW dan umatnya dalam mengamalkan agama Allah (Islam), serta menguatkan kepercayaan para mu’min tentang datangnya pertolongan Allah dan kehancurang orang-orang yang sesat.
c. Menyibak kebohongan para Ahli Kitab dengan hujjah yang membenarkan keterangan dan petunjuk yang mereka sembunyikan, dan menentang mereka tentang isi kitab mereka sendiri sebelum kitab tersebut diubah dan diganti seperti firman Allah;

“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan[212]. Katakanlah: “(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), Maka bawalah Taurat itu, lalu Bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar”. (QS. Ali Imran: 93)

dan masih banyak faedah-faedah lain yang kita dapt dari kisah-kisah yang ada dalam al-Qur’an .

4. Bukti Arkeologis yang Mendukung Kisah-kisah dalam Al-Qur’an
Banyak temuan arkeolog yang memuat catatan-catatan kuno dan bukti-bukti geografis yang mendukung atau sesuai dengan penuturan al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa cerita atau kisah-kisah yang dimuat oleh al-Qur’an adalah benar adanya, karena secara periwayatan Allah sendiri telah menjamin . Catatan tertua yang ditemukan adalah catatan inskripsi atau naskah Ebla yang diperkirakan berumur 2500 tahun SM. Kumpulan naskah ini digali dari sebuah tempat yang bernama Tell Mardikh, sebelah barat Syiria, dan sekarang terdiri dari 15000 potongan lembengan tablet dan fragmen. Lempengan ini bersama temuan-temuah di Timur Dekat, Mesir dan Arabia dapat digunakan sebagai catatan Independen untuk membenarkan dan menguatkan kisah-kisah dalam al-Qur’an .
Sayangnya, kebanyakan temuan-temuan arkeologis tersebut banyak ditemukan oleh lembaga-lembaga arkeologi Barat-Kristen, seperti Pontifical Biblical Institute di Vatican, Misi Arkeolog lemabaga-lembaga AS, Perancis, Inggris dan lain sebagainya. Meskipun penelitian mereka didasarkan atas metode ilmiah, namun tidak diragukan lagi bahwa kepentingan mereka adalah untuk mencocokan tablet atau lempeng arkeologis tersebut dengan kisah-kisah Injil yang mempengaruhi mereka-baik sengaja ataupun yang tidak sengaja-telah banyak melakukan kesalahan tafsir terhadap lempeng-lempeng tersebut dan menguntungkan kepentingan mereka .
Bukti sejarah yang dapat kita lihat sampai sekarang dan masih tetap eksis adalah adalah baitullah Ka’bah serta runtutan ritual ibadah Hajji yang dilaksanakan di Mekkah, yang kebanyakan diambil dari kisah nabi Ibrahim dan keluarganya. Selain itu, sudah banyak video-video yang memperlihatakan kepada kita peninggalan dari para Nabi terdahulu, seperti penayangan “Jejak Rosul” yang dapat kita saksikan di setiap bulan Ramadhan, serta bukti-bukti arkeolog lain yang telah banyak ditemukan.
C. Nilai-Nilai Pendidikan dari Kisah-kisah Dalam Al-Qur’an
Tidak diragukan lagi bahwa kisah yang baik dan cermat akan digemari dan menembus relung jiwa manusia dengan mudah. Segenap perasaan mengikuti alur kisah tersebut tanpa merasa jemu atau kesal, serta unsur-unsurnya dapat dijelajahi akal sehingga ia dapat memetik dari keindahan tamannya aneka ragam bunga dan buah-buahan.
Dalam kisah-kisah Qur’ani terdapat lahan subur yang dapat membantu kesuksesan para pendidik dan peserta didik dalam melaksanakan tugasnya dan membekali mereka dengan bekal pendidikan berupa peri hidup para Nabi, berita-berita tentang umat terdahulu, sunnatullah dalam kehidupan dan hal ihwal bangsa-bangsa pada masa sebelumnya. Para pendidik terutama harus dapat menyuguhkan kisah-kisah Qur’ani dengan uskub bahasa yang sesuai dengan tingkat nalar para peserta didik dalam segala tingkatan.
Ada beberapa nilai pendidikan yang dapat di ambil dari beragam kisah yang terdapat dalam al-Qur’an. Para ulama’ besar sepeerti Sayyid Qutub dan yang lain telah banyak menyusun kisah-kisah tersbeut dan berhasil membekali kita dengan beragam manfaat sebagai i’tibar. Demikian juga Al-Jarim yang telah menyajikan kisah-kisah Qur’ani dengan gaya sastra yang indah dan tinggi .
Hasbi Ash Shiddieqy dalam buku Ilmu-ilmu al-Qur’an; Media Pokok Dalam Penafsiran al-Qur’an menyebutkan, beberapa nilai pendidikan yang terdapat dalam kisah-kisah Qur’ani diantaranya sebagai berikut.
a. menjelaskan dasar-dasar metode dakwah agama Allah dan menerangkan pokok-pokok syari’at yang disampaikan oleh para Nabi .
b. Mengokohkan hati Rosul dan hati umat Muhammad dalam menyembah Allah dan menguatkan kepercayaan para mu’min tentang datangnya pertolongan Allah dan hancurnya kebhatilan .

c. Menyikap kebohongan Ahlul Kitab yang telah menyembunyikan isi kita mereka yang masih murni .
D. Kesimpulan
Sungguh al-Qur’an merupakan sebuah kitab suci yang layak untuk dipuji dan diamalkan oleh seluruh hamba Allah yang ada di muka bumi ini, khususnya umat Muhammad SAW. Bagaimana tidak, karena di dalam al-Qur’an kita dapat menjumpai berbagai pembahasan seputar kehidupan yang ada dan terdahulu.
Dari berbagai pemaparan yang telah disebutkan, kita selayaknya dapat mengambil beberapa manfaat dari Qashashul Qur’an. Kita wajib percay bahwasanya kisah-kisah dalam al-Qur’an merupakan bagian sejarah umat manusia yang diungkapkan oleh Allah berupa kisah- kisah dan cerita-cerita gaib yang mengisahkan para Nabi dan Rosul Allah, peristiwa para umat terdahulu baik individu maupun golongan dan kehidupan Muhammad SAW serta kehidupan yang semasa dengan beliau.
Kita juga harus percaya bahwa kisah-kisah dalam al-Qur’an itu dikemukakan bukan sekedar untuk menambah pengetahuan yang dapat dibuktikan dengan berbagai temun ilmiah yang ada, karena jauh dari semuanya maksud dari cerita-cerita dalam al-Qur’an adalah menuntun manusia agar mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut.

Daftar Pustaka

Ahmad Ash-Shouwi, Dkk, Mukjizat al-Qur’an dan as-Sunnah Tentang IPTEK, Gema Insani Press, Jakarta 1995

Ahmad Syadali, Ahmad Rafi’I, Ulumul Qur’an, Jilid II, Pustaka Setia, Bandung 1997

Al-Qur’an Dan Terjemahannya, Depag RI, Jakarta 1989

Shalah Al-Khalidy, Terj. Setiawan Budi Utomo, Kisah-kisah Al-Qur’an; Pelajaran Dari orang-orang Terdahulu Jilid I, Gema Insani Press, Jakarta 1999

———————–, Terj. Setiawan Budi Utomo, Kisah-kisah Al-Qur’an; Pelajaran Dari orang-orang Terdahulu Jilid II, Gema Insani Press, Jakarta 1999

Manna Khalil al-Qattan, Terj. Mudzakir AS, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an,Litera Antar Nusa, Jakarta 2006

M. Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-ilmu al-Qur’an; Media Pokok Dalam Penafsiran al-Qur’an, Bulan Bintang, Jakarta 1972

Quraish Shihab, Mu’jizat Al-Qur’an, Mizan, Bandung 1998

A. Pengertian Kisah Dalam Al-Qur’an.
Menurut bahasa kata Qashash jamak dari Qishah, artinya kisah, cerita, berita, atau keadaaan. Sedangkan menurut istilah Qashashul Qur’an ialah kisah-kisah dalam Al-Qur’an tentang para Nabi dan Rasul mereka, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini dan masa akan datang.

B. Macam-Macam Kisah Dalam Al-Qur’an.
Didalam Al-Qur’an banyak dikisahkan beberapa peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah. Dari Al Qur’an dapat diketahui beberapa kisah yang pernah dialami orang-orang jauh sebelum kita sejak Nabi Adam ; seperti kisah para Nabi dan kaumnya. Kisah orang-orang Yahudi, Nasrani, Sabi’in, Majuzi dan lain sebagainya.
Selain itu Al-Qur’an juga menceritakan beberapa peristiwa yang terjadi di jaman Rasulullah SAW. Seperti kisah beberapa peperangan ( Badar, Uhud, Hunain ) dan perdamaian ( Hudaibiyah ) dan lain sebagainya.
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an dapat dibagi menjadi beberapa macam, adalah sebagai berikut :
1. Dari segi waktu.
Ditinjau dari segi waktu kisah-kisah dalam Al-Qur’an ada tiga macam, yaitu :
a) Kisah hal gaib yang terjadi pada masa lalu.
Contohnya :
q Kisah tentang dialog Malaikat dengan Tuhannya mengenai penciptaan khalifah bumi sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 30 – 34.
Kisah tentang penciptaan ama semesta sebagaimana terdapat dalam ( QS Al-Furqan : 59 ).q
Kisah tentang penciptaan Nabi Adam dan kehidupannya ketika di surga sebagaimana terdapat didalam ( QS Al-Araf : 11 – 25 ).q

b) Kisah hal gaib yang terjadi pada masa kini.
– Kisah tentang turunya malaikat-malaikat pad malam Laitlatul Qadar seperti diungkapkan dalalm ( QS Al-Qadar : 13 – 14 ).
– Kisah tentang kehidupan makhluk-makhluk gaib seperti jin, syetan, jin atau iblis seperti diungkapkan dalam ( QS Al-Araf : 13 –14 )

c) Kisah hal gaib yang akan terjadi pada masa akan datang.
– Kisah tentang akan datangnya hari kiamat seperti dijelaskan dalam Al-Quran Surat Al-Qaria’ah, surat Al-Zalzalah dan lainnya.
– Kisah tentang kehidupan Abu Lahab kelak diakhirat seperti diungkapkan dalam Al-Qur’an surat Al-Lahab.
– Kisah tentang kehidupan orang-orang di Surga dan orang-orang yang hidup didalam neraka seperti diungkapkan dalam Al-Quran surat Al-Gasyiah dan lainnya.

2. Dari segi materi.
Ditinjau dari segi materi, kisah-kisah dalam Al-Qur’an ada tiga yaitu :
a. Kisah-kisah para Nabi, seperti :
– Kisah Nabi Adam ( QS Al-Baqarah : 30-39 ).
– Kisah Nabi Nuh ( QS Al-Baqarah : 25 – 49 ).
– Kisah Nabi Hud ( QS Al-Araf : 65 –72 ).
– Kisah Nabi Yunus ( QS Al-Anam : 86 – 87 )
– Dll
a. Kisah tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi masa lampau yang tidak dapat dipastikannya kenabiannya.
– Kisah Tentang Luqman ( Qs Luqman : 12-13 ).
– Kisah tentang Zulqarnain ( QS Al-Kahfi : 83-98 ).
– Kisah tentang Thalut dan Jalut : ( QS Al-Baqarah : 246 – 251 ).
– Dll.
a. Kisah yang berpautan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dimasa Rasulullah SAW.
– Kisah tentang Ababil ( QS Al-Fil : 1 –5 ).
– Kisah tentang Hijrahnya Nabi SAW ( QS Muhammad : 13 ).
– Kisah tentang perang Hunain dan At-Tabuk dan lainnya.

C. Faedah Kisah Dalam Al-Qur’an.
Pertama, Qashash yang terdapat didalam Al-Quran itu bentuknya dapat ditangkap dan dimengerti oleh orang banyak. Karena artin-artinya itu masuk akal, masuk kedalam hati sanubari orang yang membacanya itu.
Kedua, Qashash itu dapat menyingkapkan tabir tentang hakikat mengemukakan yang ghaib kepada orang-orang yang mendengarkannya.
Ketiga, Mengumpukan Qashash yang mengagumkan didalam ibarat-ibarat pendek, seperti Qashahul Kaminah dan Qashashul Mursalah seperti ayat yang terdahulu.
Keempat, contoh yang dikemukakan itu untuk merangsang orang-orang yang dicontohkan, karena yang diumpamakan itu dalam hal ini sesuatu yang dapat merangsang jiwa.
Kelima, ada pula contoh yang dikemukakan itu ialah untuk mengejutkan yang dicontohkannya itu yaitu tentang apa yang tidak disukai.
Keenam, contoh yang dikemukakan itu untuk memuji orang yang dicontohkan.
Ketujuh, contoh yang dikemukakan itu adalah karena orang-orang yang dicontohkan itu mempunyai sifat-sifat yang menjengkelkan.
Kedelapan, contoh-contoh yang terjadi pada diri, disampaikan dengan pengajaran, dikuatkan dalam mencela, dan ditegakkan dalam sifat qana’ah.

Amtsal Qur’an

BAB I
PENDAHULUAN

Sebuah kata yang indah akan tampak lebih indah jika penggunaan kata tersebut menggunakan permitsalan, karena dengan permitsalan seseorang dapat mudah untuk memahami arti makna kalimat tersebut. Tamtsil merupakan kerangka yang dapat menampilkan makna-makna dalam bentuk yang hidup dan mantapdidalam pikiran.

A. Latar Belakang
Salah satu aspek keindahan retorika al-Qur’an adalah amtsal (perumpamaan-perumpamaan)-Nya. Al-Qur’an tidak hanya membicarakan kehidupan dunia yang di indra, tetapi juga memuat kehidupan akhirat dan hakikat lainnya yang memiliki makna dan tujuan ideal yang tidak dapat di indra dan berada di luar pemikiran akal manusia. Pembicaraan yang terakhir ini dituangkan dalam bentuk kata yang indah, mempesona dan mudah dipahami, yang dirangkai dalam untaian perumpamaan dengan sesuatu yang telah diketahui secara yakin yang dinamai tamtsil (perumpamaan) itu. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini saya akan mencoba membahas tentang amtsal al-Qur’an lebih dalam pada makalah saya.

B. Rumusan Masalah

1. Pengertian amtsal
2. Rukun amtsal
3. Macam-macam amtsal
4. Manfaat amtsal
5. Penggunaan amtsal

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Amtsal

Secara bahasa amtsal adalah bentuk jamak dari matsal, mitsl dan matsil yang berarti sama dengan syabah, syibh, dan syabih, yang sering kita artikan dengan perumpamaan : الأمثال جمع المثل كا لشبة والشبيه . Sedangkan menurut istilah ada beberapa pendapat, yaitu :
1. Menurut ulama ahli ‘Adab, amtsal adalah upacara yang banyak menyamakan keadaan sesuatu yang diceritakan dengan sesuatu yang dituju.
2. Menurut ulama ahli Bayan, amtsal adalah ungkapan majaz yang disamakan dengan asalnya karena adanya persamaan yang dalam ilmu-ilmu balaghoh disebut tasyabih.
3. Menurut ulama ahli tafsir adalah menampakkan pengertian yang abstrak dalam ungkapan yang indah, singkat dan menarik yang mengena dalam jiwa, baik dengan bentuk tasybih maupun majaz mursal

B. Rukun Amtsal (Tasybih)

Rukun amtsal ada empat, yaitu:
1. Wajah syabbah;
Yaitu pengertian yang bersama-sama yang ada pada musyabbah dan musyabbah bih.
2. Alat tasybih;
Yaitu kaf, mitsil, kaanna, dan semua lafadz yang menunjukkan makna perseruan
3. Musyabbah;
Yaitu sesuatu yang diserupakan (menyerupai) musyabbah bih.
4. Musyabbah bih;
Yaitu sesuatu yang diserupai oleh musyabbah.
Sebagai contoh, firman Allah SWT (QS. 2: 261)

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ في كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةَ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَآءُ وَ اللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah milipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Wajhu Syabah yang terdapat pada ayat ini adalah pertumbuhan yang berlipat-lipat. Tasybihnya adalah kata matsal. Musyabahnya adalah infaq atau shodaqoh dijalan Allah, sedangkan musyabbah bihnya adalah benih.

C. Macam-Macam Amtsal

1. Amtsal musharrahah
Yaitu amtsal yang jelas, yakni yang jelas menggunakan kata-kata perumpamaan atau kata menunjukkan penyerupaan.
Contohnya : QS Al-Baqarah [2] : 17-20 :
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka ini bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat. …. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”

2. Amtsal kaminah
Yaitu amtsal yang tidak menyebutkan dengan jelas kata-kata yang menunjukkan perumpamaan tetapi kalimat itu mengandung pengertian mempesona, sebagaimana yang terkandung di dalam ungkapan-ungkapan singkat (ijaz).
Contohnya : QS Al-Baqarah [2] : 68 :
“Sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan dari itu “

3. Amtsal mursalah
Yaitu kalimat-kalimat al-Qur’an yang disebut secara lepas tanpa ditegaskan redaksi penyerupaan, tetapi dapat digunakan untuk penyerupaan. Tetapi khusus mengenai amtsal mursalah, para ulama berbeda pendapat dalam menganggapinya.
a. Sebagian ulama menganggap amtsal mursalah telah keluar dari etika al-Qur’an. Menurut Ar-Razi ada sebagaian orang-orang menjadikan ayat lakum dinukum wa liyadin sebagai perumpamaan ketika mereka lalai dan tak mau menaati perintah Allah. Ar-Razi lebih lanjut mengatakan bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan sebab Allah tidak menurunkan ayat ini untuk dijadikan perumpamaan, tetapi untuk diteliti, direnungkan dan kemudian diamalkan.
b. Sebagian ulama lain beranggapan bahwa mempergunakan amtsal mursalah itu boleh saja karena amtsal, termasuk amtsal mursalah lebih berkesan dan dapat mempengaruhi jiwa manusia. Seseorang boleh saja menggunakan amtsal dalam suasana tertentu.
Contoh : QS [11] : 81 :
“Bukankah subuh itu sudah dekat” sebagai perumpamaan waktu yang udah dekat. Kitab yang khusus membahas Amtsalul Qur’an diantaranya Amtsal Al-Qur’an karangan Ibnu Qayyim Jauziah.

D. Manfaat Amtsal Al-Qur’an

Manna al-Qaththan menjelaskan bahwa diantara manfaat al-Qur’an adalah berikut ini:
1. Menampilkan sesuatu yang abstrak (yang hanya ada dalam pikiran) ke dalam sesuatu yang konkret-material yang dapat di indera manusia.
2. Menyingkap makna yang sebenarnya dan memperlihatkan hal yang gaib melalui paparan yang nyata.
3. Menghimpun arti yang indah dalam ungkapan yang singkat sebagaimana terlihat dalam amtsal kaminah dan amtsal mursalah.
4. Membuat si pelaku amtsal menjadi senang dan bersemangat.
5. Menjauhkan seseorang dari sesuatu yang tidak disenangi.
6. Memberikan pujian kepada pelaku.
7. Mendorong giat beramal, melakukan hal-hal yang menarik dalam al-Qur’an.
8. Pesan yang disampaikan melalui amtsal lebih mengena di hati lebih mantap dalam menyampaikan nasehat dan lebih kuat pengaruhnya.
9. Menghindarikan dari perbuatan tercela. Allah banyak menyebut amtsal dalam al-Qur’an untuk pengajaran dan peringatan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar : 27:

Artinya: “Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini Setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran”.
QS. Al-Ankabut : 43

Artinya: “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”.

E. Penggunaan Amtsal Sebagai Media Dakwah.

Berkaitan dengan media dakwah, Musthafa Mansyur menyatakan bahwa setiap pendakwah harus membekali dirinya dengan pengetahuan yang dapat mengetuk dan membuka hati pendengarnya sehingga ia dapat menyampaikan pesan-pesannya. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah melalui media amtsal. Pesan yang disampaikan melalui amtsal lebih mengena di hati, lebih mantap dalam menyampaikan nasehat, dan lebih kuat pengaruhnya. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW banyak menggunakan amtsal ketika menyampaikan dakwahnya dan banyak pula juru dakwah dan pendidik yang menyampaikan pesan-pesannya melalui media matsal.

Contoh-contoh amtsal dalam al-Qur’an

Berikut ini adalah beberapa contoh amtsal dalam al-Qur’an:

1. Perumpamaan tentang orang kafir (QS. Al-baqarah : 71)

Artinya : Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”. kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

2. Perumpamaan orang-orang musyrik (QS. Al-Ankabut : 41)

Artinya : Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.

3. Perumpamaan orang mukmin (QS. Huud ; 24)
*
Artinya : Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama Keadaan dan sifatnya?. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada Perbandingan itu)?.

4. Perumpamaan orang menafkahkan harta (QS. Al-Baqarah : 261)

Artinya : Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.

5. Perumpamaan tentang kehidupan dunia (QS. Yunus : 24)
$
Artinya : Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya[683], dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya[684], tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.

[683] Maksudnya: bumi yang indah dengan gunung-gunung dan lembah-lembahnya telah menghijau dengan tanam-tanamannya.
[684] Maksudnya: dapat memetik hasilnya.

6. Perumpamaan tentang pergunjingan (QS. Al-Hujurat : 12)
$
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Amtsal Al-qur’anBAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Allah menggunakan banyak perumpamaan (amtsal) dalam Al-Qur’an. Perumpamaan-perumpamaan itu dimaksudkan agar manusia memperhatikan, memahami, mengambil pelajaran, berpikir dan selalu mengingat. Sayangnya banyaknya perumpamaan itu tidak selalu membuat manusia mengerti, melainkan tetap ada yang mengingkarinya/ tidak percaya. Karena memang tidaklah mudah untuk memahami suatu perumpamaan. Kita perlu ilmu untuk memahaminya. Sudah digambarkan dengan perumpamaan saja masih susah apalagi tidak. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami mencoba menjelaskan sedikit tentang ilmu amtsal Al-Qur’an.

B. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah tentang amtsal Qur’an ini adalah menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu amtsal sehingga para pembaca yang awalnya belum pernah mengetahuinya menjadi tahu. Setelah memahami ilmu amtsal Qur’an diharapkan para pembaca mampu memahami, mangambil pelajaran, berpikir, dan selalu mengingat ayat-ayat Al-Qur’an.

C. Rumusan masalah
Dalam makalah ini kami hanya membahas beberapa ruang lingkup saja, yaitu:
1. Definisi Amtsal Al-Qur’an
2. Unsur-unsur Amtsal Al-Qur’an
3. Macam-macam Amtsal Al-Qur’an
4. Faedah Amtsal Al-Qur’an

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Amtsal Al-Qur’an
Dari segi bahasa, Amtsal merupakan bentuk jama’ dari matsal, mitsl, dan matsil yang berarti sama dengan syabah, syibh, dan syabih, yang sering diartikan dengan perumpamaan. Sedangkan dari segi istilah, amtsal adalah menonjolkan makna dalam bentuk perkataan yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh mendalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih ataupun perkataan bebas (lepas, bukan tasybih).

B. Unsur-unsur Amtsal Al-Qur’an
Sebagian Ulama mengatakan bahwa Amtsal memiliki empat unsur, yaitu:
1. Wajhu Syabah: segi perumpamaan
2. Adaatu Tasybih: alat yang dipergunakan untuk tasybih
3. Musyabbah: yang diperumpamakan
4. Musyabbah bih: sesuatu yang dijadikan perumpamaan.
Sebagai contoh, firman Allah swt. (Q. S. Al-Baqarah: 261)
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Wajhu Syabah pada ayat di atas adalah “pertumbuhan yang berlipat-lipat”. Adaatu tasybihnya adalah kata matsal. Musyabbahnya adalah infaq atau shadaqah di jalan Allah. Sedangkan musyabbah bihnya adalah benih.

C. Macam-macam Amtsal dalam Al-Qur’an
1. Al-Amtsal Al-Musharrahah
Yaitu matsal yang di dalamnya dijelaskan dengan lafadz matsal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih. Contohnya Q. S. Al-Baqarah: 261 sebagaiamana telah dijelaskan di atas.
2. Al-Amtsal Al-Kaminah
Yaitu matsal yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafadz tamsil tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik dalam kepadatan redaksinya dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya.
Misalnya adalah firman Allah Q. S. Al-Furqan: 67
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
Contoh lainnya adalah Q. S. Al-Isra’: 29
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.”
Kedua ayat di atas menggambarkan tentang keutamaan sebaik-baik perkara adalah yang pertengahannya.
3. Al-Amtsal Al-Mursalah
Yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafadz tasybih secara jelas, tetapi kalimat-kalimat tersebut berlaku sebagai tasybih.
Contohnya adalah Q. S. Hud: 81
“Bukankah subuh itu sudah dekat?”

Q. S. Fathir : 43
“rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.”

D. Faedah Amtsal Al-Qur’an
1. Menonjolkan sesuatu yang hanya dapat dijangkau dengan akal menjadi bentuk kongkrit yang dapat dirasakan atau difahami oleh indera manusia.
2. Menyingkapkan hakikat dari mengemukakan sesuatu yang tidak nampak menjadi sesuatu yang seakan-akan nampak. Contohnya Q. S. Al-Baqarah: 275
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
3. Mengumpulkan makna yang menarik dan indah dalam ungkapan yang padat, seperti dalam amtsal kaminah dan amtsal mursalah dalam ayat-ayat di atas.
4. Memotivasi orang untuk mengikuti atau mencontoh perbuatan baik seperti apa yang digambarkan dalam amtsal
5. Menghindarkan diri dari perbuatan negatif
6. Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat memuaskan hati. Dalam Al-Qur’an Allah swt. banyak menyebut amtsal untuk peringatan dan supaya dapat diambil ibrahnya.
7. Memberikan kesempatan kepada setiap budaya dan juga bagi nalar para cendekiawan untuk menafsirkan dan mengaktualisasikan diri dalam wadah nilai-nilai universalnya.

BAB III
KESIMPULAN

Allah menggunakan banyak perumpamaan (amtsal) dalam Al-Qur’an. Perumpamaan-perumpamaan itu dimaksudkan agar manusia memperhatikan, memahami, mengambil pelajaran, berpikir dan selalu mengingat. Sayangnya banyaknya perumpamaan itu tidak selalu membuat manusia mengerti, melainkan tetap ada yang mengingkarinya/ tidak percaya. Karena memang tidaklah mudah untuk memahami suatu perumpamaan. Kita perlu ilmu untuk memahaminya.
Amtsal Qur’an penting untuk memotivasi orang untuk mengikuti atau mencontoh perbuatan baik seperti apa yang digambarkan dalam amtsal, menghindarkan diri dari perbuatan negatif. Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat memuaskan hati. Dalam Al-Qur’an Allah swt. banyak menyebut amtsal untuk peringatan dan supaya dapat diambil ibrahnya. Amtsal juga memberikan kesempatan kepada setiap budaya dan juga bagi nalar para cendekiawan untuk menafsirkan dan mengaktualisasikan diri dalam wadah nilai-nilai universalnya.

PENDAHULUAN
Segala puja dan puji sukur kepada Allah dan nabi nmuhammad SAW atas selsainya makalah ini.salah satu aspek keindahan retorika Al Quran tidak hanya memuat masalah kehidupan dunia yang diindera, tetapi juga memuat kehidupan akhirat dan hakikit ainnya yang memiliki tujuan dan makna ideal yang tidak dapat diindera dan berada diluar pemikiran akal manusia. Pembicaran yang terakhir ini dituang kan dalam bentuk kata yang indah mempesona dan mudah dipahami, yang dirangkai dalam untaian perumpamaan dengan ssuatu yang telah diketahuisecara yakin yang dinamai tamtsil (perumpamaan) itu.
Tamtsil (membuat prumpamaan) merupakan gaya bahasa yang dapat menampilkan pesan yang bebekas pada Hti snubari. Muhammad Mahmud Hujazi enyatakan bahwa entuk amtsal yang merupakan inti sebuah kaimat yang sangat berdampak bagi jiwa dan berbekas bagi akal.Oleh karena itu Allah membuat perumpamaan bagi manusa bukan binatang atau makhluk lainnya agar manusia dapat memikirkan dam memahami rahasia serta isyarat yang terkandung didalamnya.
Berkaitan dengan amtsal Al quran ini, kuntowjoyo memandang bahwa pada dasarnya kandungan Al Quran itu terbagi menjadi dua bagian, bagian pertama: erisi konsep-konsep dan baian kedua berisi kisah-kisa sejarah dan amtsal. Bagia pertama dimaksudkan untuk membentu pemahaman dan komprehansif mengenai nilai-nilai sejarah islam,sedangkan bagian kedua dimaksdkan sebagai ajakan perenungan untuk memeperoleh hikmah. Kisah kesabaran nabi ayyub

AMSTSAL AL-QURAN
Aamtsal adalah bentuk jamak darikata matsal (perumpaman)atau mutsil (serupa) atau matsil, sama halnya dengan kata syabah atau syabih karena itu dalam kata syabah atau syabih karena itu dalam ilmu balaghah. pembahasan ini lebih dikenal dengan istilah yasybih, bukan amtsal.Dalam pengertian bahasa (etimoligi) amtsal dalam menurut ibn Al Asfahani, amtsal berasal dari kata al mutsul , yakni al iuntishab (asal bagian) mastal berarti perumpamaan,

Amtsal menurut pengertian istilsah (tertimologi)dirumuskan oleh para ulama dengan redaksi yang berbeda-beda,
1. Menurut Rasyid Ridha
Amtsal adalah kalimat yang digunakan untuk memberi kesan dan menggerakkan hati nurani, Bila didengar terus, pengaruhnya akan menyentuh lubuk hati yang paling dalam
2. Menurut Ibnu Al-Qayyim

Artinya:
”Menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hukumya. Mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan sesuatu yang kongkret, atau salah satu dari keduanya dengan yang lainnya”
3. Menurut Muhammad Bakar Ismail
Amtsal alquran adalah mengumpamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Baik dengan jalan isti’arah. Kinayah. Atau tasbiyah
Berdasarkan pengertian diatas . baik secara bahasa atau istilah. Dapat disimpulkan bahwa amtsal Al-Quran adalah menampilkan sesuatu yang hanya ada dalam pikiran. dengan diskripsi sesuatu yang dapat dindera. Melalui pengungkapan yang indah dan mempesona. Baik dengan jalan tasbiyah. Istiarah. Kinayah.atau mursal.
Dilihat dari segi istilah amtsal dikenal sebagai salah satu aspek ilmu sastra arab. Pengertian amtsal dalam Al-Quran lebih tepat digunakan untuk mengacu pada kesan dan sentuhan perasaan terhadap apa yang dikandungnya. Tanpa mempersoalkan ada atau tidak adanya kisah yang berhubungan dengan amtsal itu.

A. Macam-macam amtsal Al-Quran
Menurut Al Qathan. Amtsal Al Quran dapat dibagi menjadi tiga bagian. Yaitu berikut ini,
1) Amtsal Musharrahah
Yang dimaksudkan dengan amtsal musharrahah adalah amtsal yang jelas. Yakni yang jelas menggunakan kata-kata perumpamaan atau kata yang menunjukkan penyerupaan tasybih
2) Amtsal kaminah
Yang dimaksud dengan amtsal kaminah adalah matsal yang tidak menyebutkan dengan jelas dengan kata-kata yang menunjukkan kata-kata perumpamaan tetapi kalimat itu mengandung pengertian yang mempesona. Sebagaimana terkandung didalam ungkapan-ungkapan singkat (ijaz).
3) Amtsal mutsalah yang dimaksud dengan amtsal mursalah adalah kalimat-kalimat Al Quran yang deisebut secara secara lepas tanpa ditegaskan redaksi penyerupaan. Tetapi dapat digunakan untuk penyerupaan.

B. Manfaat-manfaat amtsalul Quran
Ungakapan-ungkapan dalam bentuk amtsal dalam Al Quran mempunyai beberapa manfaat, diantaranya:
a) Pengungakapan pengertian yang abstrak dengan bentuk yang kongkrit yang dapat ditangkap dengan indera manusia,
b) Dapat mengungkapkan kenyataan dan mengkongkitkan hal yang abstrrak.
c) Dapat mengumpulkan kata yang indah , menarik dalam ungkapan yang singkat dan padat,
d) Mendorong giat beramal, melakukan hal-hal menarik dalam Al Quran,
e) Menghindarkan dari perbuatan tercela.

C. Rukun amtsal terbagi empat macam:
a) Wajah syabbah
Yaitu pengertian yang bersama-sama yang ada musyabbah dam musyabbah bih.
b) Alat tasybih
Yaitu kaf, mistily, kaanna, dan semua lafadz yang menunjukkan makna perserupaan.
c) Musyabbah
Yaitu sesuatu yang diserupakan (mwnyerupai) musyabbah bih.
d) Musyabbah bih
Yaitu sesuatu yang diserupai oleh musyuabbah.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: