Skip to content

Makalah Filsafat Pendidikan Kelompok 9 (Aliran-aliran Filsafat Pendidikan)

Oktober 13, 2010

BAB I

ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN

  1. A. Aliran Eksistensialisme
    1. 1. Sejarah munculnya eksistensialisme

Istilah eksistensialisme dikemukakan oleh ahli filsafat Jerman Martin Heidegger (1889-1976). Eksistensialisme adalah merupakan filsafat dan akar metodologinya berasal dari metoda fenomologi yang dikembangkan oleh Hussel (1859-1938). Munculnya eksistensialisme berawal dari ahli filsafat Kieggard dan Nietzche. Kiergaard Filsafat Jerman (1813-1855) filsafatnya untuk menjawab pertanyaan “Bagaimanakah aku menjadi seorang individu)”. Hal ini terjadi karena pada saat itu terjadi krisis eksistensial (manusia melupakan individualitasnya). Kiergaard menemukan jawaban untuk pertanyaan tersebut manusia (aku) bisa menjadi individu yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan, dan komitmen pribadi dalam kehidupan. Nitzsche (1844-1900) filsuf jerman tujuan filsafatnya adalah untuk menjawab pertanyaan “bagaimana caranya menjadi manusia unggul”. Jawabannya manusia bisa menjadi unggul jika mempunyai keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani

Eksistensialisme merupakan filsafat yang secara khusus mendeskripsikan eksistensi dan pengalaman manusia dengan metedologi fenomenologi, atau cara manusia berada. Eksistensialisme adalah suatu reaksi terhadap materialisme dan idealisme. Pendapat materialisme bahwa manusia adalah benda dunia, manusia itu adalah materi , manusia adalah sesuatu yang ada tanpa menjadi Subjek. Pandangan manusia menurut idealisme adalah manusia hanya sebagai subjek atau hanya sebagai suatu kesadaran. Eksistensialisme berkayakinan bahwa paparan manusia harus berpangkalkan eksistensi, sehingga aliran eksistensialisme penuh dengan lukisan-lukisan yang kongkrit.

Eksistensi oleh kaum eksistensialis disebut Eks bearti keluar, sintesi bearti berdiri. Jadi ektensi bearti berdiri sebagai diri sendiri

Gerakan eksistensialis dalam pendidikan berangkat dari aliran filsafat yang menamakan dirinya eksistensialisme, yang para tokohnya antara lain Kierkegaard (1813 – 1915), Nietzsche (1811 – 1900) dan Jean Paul Sartre. Inti ajaran ini adalah respek terhadap individu yang unik pada setiap orang. Eksistensi mendahului esensi. Kita lahir dan eksis lalu menentukan dengan bebas esensi kita masing-masing. Setiap individu menentukan untuk dirinya sendiri apa itu yang benar, salah, indah dan jelek. Tidak ada bentuk universal, setiap orang memiliki keinginan untuk bebas (free will) dan berkembang. Pendidikan seyogyanya menekankan refleksi yang mendalam terhadap komitmen dan pilihan sendiri.

Manusia adalah pencipta esensi dirinya. Dalam kelas guru berperan sebagai fasilitator untuk membiarkan siswa berkembang menjadi dirinya dengan membiarkan berbagai bentuk pajanan (exposure) dan jalan untuk dilalui. Karena perasaan tidak terlepas dari nalar, maka kaum eksistensialis menganjurkan pendidikan sebagai cara membentuk manusia secara utuh, bukan hanya sebagai pembangunan nalar. Sejalan dengan tujuan itu, kurikulum menjadi fleksibel dengan menyajikan sejumlah pilihan untuk dipilih siswa. Kelas mesti kaya dengan materi ajar yang memungkinkan siswa melakukan ekspresi diri, antara lain dalam bentuk karya sastra film, dan drama. Semua itu merupakan alat untuk memungkinkan siswa ‘berfilsafat’ ihwal makna dari pengalaman hidup, cinta dan kematian.

Eksistensialisme biasa dialamatkan sebagai salah satu reaksi dari sebagian terbesar reaksi terhadap peradaban manusia yang hampir punah akibat perang dunia kedua.[1] Dengan demikian Eksistensialisme pada hakikatnya adalah merupakan aliran filsafat yang bertujuan mengembalikan keberadaan umat manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya.

Sebagai aliran filsafat, eksistensialisme berbeda dengan filsafat eksistensi. Paham Eksistensialisme secara radikal menghadapkan manusia pada dirinya sendiri, sedangkan filsafat eksistensi adalah benar-benar sebagai arti katanya, yaitu: “filsafat yang menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral.”[2]

Secara singkat Kierkegaard memberikan pengertian eksistensialisme adalah suatu penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logis atau tidak ilmiah. Eksistensialisme menolak segala bentuk kemutkan rasional.[3] Dengan demikian aliran ini hendak memadukan hidup yang dimiliki dengan pengalaman, dan situasi sejarah yang ia alami, dan tidak mau terikat oleh hal-hal yang sifatnya abstrak serta spekulatif. Baginya, segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dari dirinya dan kemampuan serta keluasan jalan untuk mencapai keyakinan hidupnya.

Atas dasar pandangannya itu, sikap di kalangan kaum Eksistensialisme atau penganut aliran ini seringkali Nampak aneh atau lepas dari norma-norma umum. Kebebasan untuk freedom to[4] adalah lebih banyak menjadi ukuran dalam sikap dan perbuatannya.

Pandangannya tentang prendidikan, disimpulkan oleh Van Cleve Morris dalam Existentialism and Education, bahwa “Eksistensialisme tidak menghendaki adanya aturan-aturan pendidikan dalam segala bentuk.”[5] Oleh sebab itu Eksistensialisme dalam hal ini menolak bentuk-bentuk pendidikan sebagaimana yang ada sekarang. Namun bagaimana konsep pendidikan eksistensialisme yang diajukan oleh Morris sebagai “Eksistensialisme’s concept of freedom in education”, menurut Bruce F. Baker, tidak memberikan kejelasan. Barangkali Ivan Illich dengan Deschooling Society, yang banyak mengundang reaksi di kalangan ahli pendidikan, merupakan salah satu model pendidikan yang dikehendikan aliran Eksistensialisme tidak banyak dibicarakan dalam filsafat pendidikan.

Pandangan eksistensialisme adalah:

  1. Menurut metafisika: (hakekat kenyataan) pribadi manusia tak sempurna, dapat diperbaiki melalui penyadaran diri dengan menerapkan prinsip & standar pengembangan ke pribadian
  2. Epistimologi: (hakekat pengetahuan), data-internal–pribadi, acuannya kebebasan individu memilih
  3. Logika: (hakekat penalaran), mencari pemahaman tentang kebutuhan & dorongan internal melaui analis & introfeksi diri \
  4. Aksiologi (hakekat nilai), Standar dan prinsip yang bervariasi pada tiap individu bebas untuk dipilih-diambil
  5. Etika (hakekat kebaikan), tuntutan moral bagi kepentingan pribadi tanpa menyakiti yang lain
  6. Estetika (hakekat keindahan), keindahan ditentukan secara individual pada tiap orang oleh dirinya
  7. Tujuan hidup menyempurnakan diri melalui pilihan standar secara bebas oleh tiap individu, mencari kesempurnaan hidup
  8. B. Perenialisme

Perennialisme diambil dari kata Perennial, yang dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English diartikan sebagai “Continuing throughout the whole year” atau “Lasting for a very long time” abadi atau kekal. Dari makna yang terkandung dalam kata itu aliran perenialisme mengandung kepercayaan filsafat yang berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal abadi.

Perennial berarti everlasting, tahan lama atau abadi. Aliran ini mengikuti paham realisme, yang sejalan dengan pemikrian Aristoteles bahwa manusia itu rasional. Sekolah adalah lembaga yang didesain untuk menumbuhkan kecerdasan. Siswa seyogyianya diajari gagasan besar agar mencintainya, sehingga mereka menjadi intelektual sejati. Akar filsafat ini datang dari gagasan besar Plato, Aristoteles dan kemudian dari St. Thomas Aquinas yang sangat berpengaruh pada model-model sekolah Katolik.

Kaum perrenialis mendasarkan teorinya pada pandangan universal bahwa semua manusia memiliki sifat esensial sebagai mahluk rasional, jadi tidaklah baik menggiring dan mencocok hidung mereka ke penguasaan keterampilan vokasional. Berbeda dari esensialis, eksperimen saintifik dianggap mengurangi pentingnya kapasitas manusia untuk berpikir. Pelajaran filsafat dengan demikian menjadi penting, agar siswa mampu berpikir mendalam, analitik, fleksibel, dan penuh imajinatif.

Perennialisme melihat bahwa akibat dari kehidupan zaman modern telah menimbulkan banyak krisis di berbagai bidang kehidupan umat manusia. Untuk mengatasi krisis ini perennialisme memeberikan jalan keluar berupa “kembali kepada kebudayaan masa lampau” regressive road to cultural.[6] Oleh karena itu perennialisme memandang penting peranan pendidikan dalam proses mengembalikan keadaan manusia zaman modern ini kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan yang telah terpuji ketangguhannya. Sikap kembali kepada masa lampau bukan berarti nostalgia, sikap yang membanggakan kesuksesan dan memulihkan kepercayaan pada nilai-nilai asasi abad silam yang juga diperlukan dalam kehidupan abad modern.

Perennialisme adalah gerakan pendidikan yang mempertahankan bahwa nilai-nilai universal itu ada, dan bahwa pendidikan hendaknya merupakan suatu pencarian, penanaman kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai tersebut.[7]

Asas yang dianut perennialisme bersumber pada filsafat kebudayaan yang berkiblat dua[8], yaitu:

  1. Perennialisme yang theologis, bernaung di bawah supremasi gereja katolik, dengan orientasi pada ajaran dan tafsir Thomas Aquinasa.
  2. Perennialisme sekuler berpegang pada ide dan cita filosofis Plato dan Aristoteles.

Pendidikan menurut filsafat ini mesti membangun sejumlah mata pelajaran yang umum bukan spesialis, liberal bukan vokasional, yang humanistik bukan teknikal. Dengan cara inilah pendidikan akan memenuhi fungsinya humanistiknya yang mesti dimiliki manusia. Ada empat prinsip dari aliran ini :

  1. Kebenaran bersifat universal dan tidak tergantung pada tempat, waktu, dan orang;
  2. Pendidikan yang baik melibatkan pencarian pemahaman atas kebenaran;
  3. Kebenaran dapat ditemukan dalam karya-karya agung; dan
  4. pendidikan adalah kegiatan liberal untuk mengembangkan nalar.

Prinsip-prinsip pendidikan Perennialisme

Di bidang pendidikan, perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya: Plato, Arietoteles, dan Thomas Aquinas. Dalam hal ini pokok pemikiran Plato tentang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai adalah manifestasi dari hukum universal yang abadi dan sempurna, yakni ideal sehingga ketertiban social hanya akan mungkin bila ide itu menjadi ukuran, asas normative dalam tata pemerintahan. Maka tujuan utama pendidikan adalah: “membina pemimpin yang sadar dan mempraktikkan asas-asas normative itu dalam semua aspek kehidupan.

Menurut Plato, manusia secara kodrati memiliki tiga potensi, yaitu: nafsu, kemauan, dan pikiran. Pendidikan hendaknya berorientasi pada potensi itu dan kepada masyarakat, agar kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi.

Prinsip-prinsip pendidikan perennialisme tersaebut perkembangannya telah mempengaruhi system pendidikan modern, seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar, menengah, perguruan tinggi dan pendidikan orang dewasa.

  1. C. Aliran Rekonstruksionalisme
    1. 1. Pengertian

Rekonstruksionalisme dipelopori oleh Jhon Dewey, yang memandang pendidikan sebagai rekonstruksi pengalaman-pengalaman yang berlangsung terus dalam hidup. Sekolah yang menjadi tempat utama berlangsungnya pendidikan haruslah merupakan gambaran kecil dari kehidupan social di masyarakat. Perkembangan lebih lanjut dari rekonstruksionalisme Dewey adalah rekonstruksionalisme radikal, yang memendang pendidkan sebagai alat untuk membangun masyarakat masa depan.

Persahabatan pendidikan Amerika (Amerivcan Education Fellowship atau AEF)

Prinsip-prinsip yang menjadi landasan kerja AEF yaitu:

  1. Memberikan kesempatan pendidikan yang sama kepada setiap anak, tanpa membedakan Ras, kepercayaan, atau latar belakang ekonomi
  2. Memberikan “pendidikan tinggi” –latihan akademik, professional, dan teknikal– kepada setiap mahasiswanya untuk dapat menyerap dan menggunakan ilmu dan teknologi yang diajarkan
  3. Memebuat sekolah-sekolah Amerika menjadi berperanan sangat penting sebagai satu bagian dari kehidupan nasional kita yang akan menarik karena para gurunya adalah laki-laki dan perempuan kita yang sangat bersemangat
  4. Menyusun sebuah program pemuda untuk usia 17-23 tahun untuk membawa mereka dan sekolah aktif menuju pada berpatisipasi dalam masyarakat orang dewasa
  5. Mengusahakan penggunaan penuh dari perlengkapan sekolah dalam waktu di luar sekolah untuk pertemuan-pertemuan pemuda, kegiatan-kegiatan masyarakat pendidikan orang dewasa
  6. Bekerjasama penuh dengan semua lembaga masyaraklat dan lemabaga social menuju sebuah masyarakat demopkratis yang sesungguhnya, tetapi dalam waktu yang bersamaan menjaga pendidkan yang bebas dari kekuasaan suatu kelompok atau kepentingan tertentu
  7. Terus memperluas penelitian dan eksperimentasi pendidikan
  8. Mengajak pemimpin-pemimpin masyarakat untuk menjadikan pendidikan sebagai bagian dari masyarakat dan masyarakat menjadi bagian dari sekolah

Pada dasarnya aliran Rekonstruksionalisme adalah sepaham dengan aliran Perennialisme dalam hendak mengatasi krisis kehidupan modern. Hanya saja jalan yang ditempuhnya berbeda dengan apa yang dipakai oleh perennialisme, tetapi sesuai dengan istilah yang dikandungnya, yang berusaha membina suatu consensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia.

Untuk mencapai tujuan itu, Rekonstruksionalisme berusaha mencari kesepakatan semua orang mengenai tujuan utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tataan baru seluruh lingkungannya. Maka melalui lembaga dan proses pendidikan Rekonstruksionalisme ingin.

Aliran rekonstruksi juga memiliki akar-akar filsafat eksistensialisme namun terutama berlandaskan pada pemikiran aliran progresif. Persamaan antara dua aliran filsafat ini adalah bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat relatif dan semua manusia mengelola dunia ini untuk memahaminya dan mengubahnya. Aliran rekonstruksi menginginkan transformasi kultur yang ada berdasarkan analisis terhadap ketidakadilan dan kesalahan-kesalahan mendasar dalam praktik-praktik pendidikan selama ini. Mereka kritis terhadap masyarakat kontemporer dan dianggap sebagai penggiat sosial yang peduli terhadap isu-isu nasional dan internasional.
Bila tujuan pendidikan untuk menyiapkan anak didik sebagai pengubah dunia, maka sekolah harus membekali siswa dengan alat untuk melakukan perubahan, yakni demi transformasi dunia ini lewat rekonstruksi sosial. Guru dengan demikian memiliki peran penting dalam mengubah kebudayaan. Tokoh-tokoh besar aliran ini antara lain George Counts, Theodore Brameld, Ivan Illich, dan Paulo Freire.

Dalam bukunya Education for the Emerging Age (1950) Brameld menyarankan bahwa tujuan pendidikan bukan untuk memperoleh kredit atau sekedar pengetahuan, tetapi memberi manusia apapun rasanya, kepercayaannya, dan kehidupan yang lebih memuaskan dirinya dan masyarakatnya. Pengetahuan, pelatihan dan keterampilan adalah alat untuk mencapai tujuan ini, yakni realisasi diri.

Illich dalam bukunya Deschooling Society (1970) mempertanyakan apakah dunia ini rela membiarkan mayoritas penduduk tidak sekolah, membiarkan drop out anak-anak dari golongan kelas bawah. Konstribusi aliran ini bukan untuk menghapus sekolah, tetapi untuk melonggarkan pelembagaan (deinstituionalize) pengalaman pendidikan di sekolah, agar siswa mampu mentransformasi kultur yang ada. Illich melihat keterkaitan bahasa dengan kekuasaan. Dengan menguasai bahasa sampai tingkat literasi tinggi seseorang dapat menggapai kekuasaan dan mampu mentransformasi kebudayaan. Dalam Pedagogy of the Oppressed (1995), Illich menekankan pentingnya kemampuan manusia untuk mengidentifikasi dan mempertanyakan asumsi-asumsi ihwal hakikat dunia lewat dialog dan diskusi.


[1] Fernando R. Molina. The Sources of Eks`       istentialism As Philophys. New Jersey, Prentice-Hall, 1969 hal 1

[2] Fuad Hassan. Kita dan kami. Bulan Bintang, Jakarta, 1974 hal 7-8

[3] Paul Roubickzek. Existensialism For and Agiant. Cambridge University Press. 1966 hal 10

[4] Fuad Hassan. Op. cit. hal 71

[5] Joe Park. Op. cit. hal 128-138

[6] Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Bumi Aksara. Jakarta 1995 hal 28

[7] Redja Mudyahardjo. Pengantar Pendidikan. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta 2008 hal 164-165

[8] Mohammad Noor Syam. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Usaha Nasional, Surabaya

1983 hal 297

JANIS-JENIS METODOLOGI PENELITIAN AGAMA

Juni 18, 2010

JANIS-JENIS METODOLOGI PENELITIAN AGAMA

2.1 Pengertian

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta mengartikan metodologi/konstruksi adalah cara membuat (menyusun) bangunan-bangunan (jembatan dan sebagainya), dan dapat pula berarti  susunan dan hubungan kata di kalimat atau kata di kelompok kata.[1]

Agama sebagai elemen yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia dapat dilihat dari dua segi yakni, dari segi isi dan dari segi bentuknya. Dari segi isinya, agama adalah ajaran atau wahyu Tuhan yang dengan sendirinya tidak dapat dikategorikan sebagai kebudayaan. Sedangkan dari segi bentuknya agama dapat dipandang sebagai kebudayaan batin manusia yang mengandung potensi psikologi yang mempengaruhi  jalan hidup manusia. Dengan demikian, yang dapat diteliti adalah pada bentuk atau praktik yang tampak dalam kehidupan sosial, yang dipandang sebagai kebudayaan batin manusia.[2]

Penelitian dapat dilakukan pada bentuk pengalaman dari ajaran agama tersebut, misalnya kita dapat meneliti tingkat keimanan dan ketaqwaan yang dianut masyarakat. Selain itu penelitian agama juga dapat dilakukan dalam upaya menggali ajaran-ajaran agama yang terdapat dalam kitab suci serta kemungkinan aplikasinya sesuai dengan perkembangan zaman.

Salah satu penelitian itu adalah tela’ah konstruksi teori penelitian agama Islam. Teori penelitian ini merupakan upaya untuk mempelajari dan memahami gejala keagamaan secara seksama, menyusun antara satu bagian dengan bagian lainnya untuk melakukan penelitian. Secara sederhana telaah konstruksi teori penelitian agama adalah suatu upaya untuk mempelajari, menguraikan kaidah-kaidah dan dimensi ilmiah tentang kebenaran serta memahami ajaran agama Islam secara Ilmiah.[3]

Seseorang yang akan menyusun konstruksi teori penelitian terlebih dahulu perlu mengetahui bentuk dari macam-macam penelitian karena perbedaan bentuk atau macam-macam penelitian yang dilakukan akan mempengarui bentuk konstruksi teori penelitian yang dilakukan, termasuk pula penelitian agama. Penelitian dapat mengambil bentuk bermacam-macam tergantung dari sudut pandang mana yang akan digunakan untuk melihatnya

2.2 Jenis-Jenis Penelitian Islam

Dilihat dari segi hasil yang ingin dicapainya, penelitian dapat dibagi menjadi penelitian menjelajah (eksploratory atau deskriptif) dan penelitian yang bersifat menerangkan (Eksplanattory).

Jika dilihat dari segi bahan-bahan atau obyek yang akan diteliti, penelitian dapat dibagi menjadi penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research).

Jika dilihat dari segi cara penganalisisannya, peneliian dapat dibagi menjadi penelitian yang bersifat kualitatif dan yang bersifat kuantitatif. Jika dilihat dari metode dasar dan rancangan penelitian yang digunakan, peneliian dapat dibagi menjadi penelitian yang bersifat historis, perkembangan, kasus, korelasional, kausal komparatif, eksperimen sungguhan, eksperimen semu, dan penelitian tindakan atau (action research).

Dari berbagai cara melihat penelitian yang menimbulkan macam-macam itu cara melihat, penelitian dari segi metode dan rancangan yang digunakan itulah yang umumya digunakan sebagai acuan, karena cara pandang yang disebutkan sebelumnya dinilai sudah tercakup dalam cara melihat penelitian dari segi metode dan rancangannya. Berbagai macam penelitian yang didasarkan pada segi metode, dan rancangan ini dapat di kemukakan sebagai berikut:

2.2.1 Penelitian Kuantitatif

Penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang banyak menggunakan data angka dengan segala bentuk analisisnya. Metode ini mempunyai sifat deduktif artinya hasil penelitian diarahkan menuju suatu kesimpulabn yang menyempit, focus untuk dijadikan rujukan general.

Berdasarkan ciri karakteristik penelitian kuantitatif maka penyusunan laporan hasil penelitian dapat mengikuti format laporan hasil penelitian sebagai berikut:

DAFTAR ISI

BAB I    PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Identifikasi Masalah
  3. Pembatasan Masalah
  4. Perumusan Masalah
  5. Tujuan Penelitian
  6. Manfaat Penelitian
  7. Sistematika Penulisan
  8. Kerangka Pikir Penelitian

BAB II   RUJUKAN TEORI

  1. Sejarah Perusahaan
  2. Teori yang berhubungan dengan topik yang akan diteliti
  3. Kerangka Pikir Penelitian

BAN III    METODOLOGI PENELITIAN

  1. Rancangan Penelitian
  2. Tempat dan Waktu Penelitian
  3. Populasi, Sampel, dan Teknik Samping
  4. Bahan dan Alat Penelitian
  5. Teknik Analisis Data
  6. Prosedur Pelaksanaan Penelitian

BAB IV    HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Gambaran Umum Sampel Penelitian
  2. Analisis Utama
  3. Analisis Tambahan
  4. Pembahasan

BAB V      KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR KEPUSTAKAAN

LAMPIRAN-LAMPIRAN

2.2.2 Penelitian Kualitatif

Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miller (1986:9) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Lalu mereka mendefinisikan bahwa metodologi kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kaasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.[4] Penelitian kualitatif memiliki ciri atau karakteristik  yang membedakan dengan penelitian jenis lainnya. Dari hasil penelaahan pustaka yang dilakukan Moleong atas hasil dari mensintesakan pendapatnya Bogdan dan Biklen (1982:27-30) dengan Lincoln dan Guba (1985 :39-44) ada sebelas ciri penelitian kualitatif[5], yaitu:

1)      Penelitian kualitatif menggunakan latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan (enity)

2)      Penelitian kualitatif intrumennya adalah manusia, baik peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain

3)      Penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif

4)      Penelitian kualitatif menggunakan analisis data secara induktif

5)      Penelitian kualitatif lebih menghendaki arah bimbingan  penyusunan  teori subtantif yang berasal dari data

6)      Penelitian kualitatif  mengumpulkan data deskriptif (kata-kata, gambar) bukan angka-angka

7)      Penelitian kualitatif lebih mementingkan proses dari pada hasil

8)      Penelitian kualitatif menghendaki adanya batas dalam penelitian nya atas dasar fokus  yang timbul sebagai masalah dalam peneltian.

9)      Penelitian kualitatif meredefinisikan validitas, realibilitas, dan objektivitas dalam versi lain dibandingkan dengan yang lazim digunakan dalam penelitian klasik

10)  Penelitian kualitatif menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan kenyataan lapangan (bersifat sementara)

11)  Penelitian kualitatif menghendaki agar pengertian  dan hasil interpretasi yang diperoleh dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan sumber data.

Dari awal, tampak bahwa penelitian kualitatif merupakan bidang penyelidikan tersendiri. Bidang ini bersilang dengan disiplin dan pokok permasalahan lainnya. Suatu kumpulan istilah, konsep, asumsi yang kompleks dan saling terkait meliputi istilah penelitian kualitatif.[6]

Munculnya penelitian kualitatif adalah karena reaksi dari tradisi yang terkait dengan positivisme dan postpositivisme yang berupaya melakukan kajian budaya dan interpretatif sifatnya. Penelitian kualitatif melibatkan  penggunaan dan pengumpulan  berbagai bahan empiris, seperti studi kasus, pengalaman pribadi, instropeksi, riwayat hidup, wawancara, pengamatan, teks sejarah, interaksional dan visual: yang benggambarkan momen rutin dan problematis, serta maknanya  dalam kehidupan individual dan kolektif (denzin dan Lincoln,1994;2).[7]

Penelitian kualitatif secara inheren merupakan multi-metode di dalam satu fokus, yaitu yang dikendalikan oleh masalah yang diteliti. Penggunaan multi-metode atau yang lebih dikenal tringulation, mencerminkan suatu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai fenomena yang sedang diteliti. Yang bernama realitas objektif sebetulnya tidak pernah bisa ditangkap. Tringulation bukanlah alat atau strategi untuk pembuktian, tetapi hanyalah suatu alternatif terhadap  pembuktian. Kombinasi yang dilakukan dengan multi-metode, bahan-bahan empiris, sudut pandang dan pengamatan yang teratur tampaknya menjadi strategi yang lebih baik untuk menambah kekuatan, keluasan dan kedalaman suatu penelitian.

Penelitian kualitatif menekankan sifat realita yang dibangun secara sosial, hubungan yang intim antara peneliti  dengan yang diteliti dan kendala situasional yang membentuk penyelidikan. Penelitian kualitatif menekan bahwa sifat peneliti itu penuh dengan nilai (value-laden). Mereka mencoba menjawab pertanyaan yang menekankan bagaimana pengalaman sosial diciptakan dan diberi arti.

Kegiatan generik  dalam penelitian kualitatif selalu menampilkan lima fase tataran yang dimiliki oleh masing-masing pendekatan;

1)      Peneliti dan apa yang diteliti sebagai subjek multi-kultural

2)      Paradigma penting dan sudut pandang interpretative

3)      Strategi penelitian

4)      Metode pengumpulan data dan penganalisisan bahan empiri

5)      Seni menginterpretasi dan memaparkan hasil penelitian.

2.2.3 Penelitian Eksploratif

Jenis penelitian eksploratif, adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru itu dapat saja berupa pengelompokan suatu gejala, fakta, dan penyakit tertentu. Penelitian ini banyak memakan waktu dan biaya.

Penelitian ini dapat digunakan untuk mengamati gejala keagamaan yang ssedang terjadi atau gejala keagamaan yang terjadi di masa lalu. Berdasarkan data yang diperoleh dari peneliti eksploratif, dapat dikembangkan berbagai penelitian lain, seperti penelitian historis, deskriptif, korelasional, dan eksperimen. Oleh karena itu, penelitian ini sering juga disebut dengan penelitian pendahuluan.[8]

Contoh: Gejala berkembangnya berbagai macam aliran yang menyimpang dari ajaran agama Islam yang diyakini kebenarannya. Gejala ini biasanya marak pada daerah-daerah pinggir perkotaan atau di daerah pedesaan yang kurang kesejahteraannya. Misalnya penelitian yang mengarah kepada komunitas Ahmadiyah, komunitas Lia Eden dan sebagainya.

2.2.4 Penelitian Historis (Historical Research)

Penelitian Historis adalah penelitian yang berhubungan dengan sejarah. Sejarah adalah study tentang masa lalu dengan menggunakan kerangka paparan dan penjelasan. Dengan metode historis seorang ilmuan mencoba menjawab masalah-masalah yang ia hadapi.

Tujuan penelitian historis adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifisi, serta mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.[9] Seringkali penelitian yang demikian itu berkaitan dengan hipotesis-hipotesis tertentu.

Ciri yang menonjol dari penelitian historis adalah:

1)      Bergantung kepada data yang diobservasi oleh peneliti sendiri. Data yang baik akan dihasilkan oleh kerja yang cermat yang menganalisis keotentikan, ketepatan, dan pentingnya sumber-sumbernya.

2)      Harus tertib ketat, sistematis, dan tuntas; seringkali penelitian yang dikatakan sebagai suatu “penelitian historis” hanyalah koleksi informasi-informasi yang tak layak, tak reliabel, dan berat sebelah.

3)      “Penelitian historis” tergantung kepada dua macam data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari sumber primer, yaitu Si peneliti (penulis) secara langsung melakukan observasi atau menyaksikan kejadian-kejadian yang dituliskan. Data sekunder diperoleh dari sumber sekunder, yaitu peneliti melaporkan hasil observasi orang lain yang satu kali atau lebih telah lepas dari kejadian aslinya.

4)      Untuk menentukan bobot data, biasa dilakukan dua macam kritik, yaitu kritik eksternal dan kritik internal.[10] Kritik eksternal menanyakan “apakah dokumen relik itu otentik”, sedang kritik internal menanyakan “Apabila data itu otentik, apakah data tersebut akurat dan relevan?”. Kritik internal harus menguji motif, keberatsebelahan, dan keterbatasan si penulis yang mungkin melebih-lebihkan atau mengabaikan sesuatu dan memberikan informasi yang terpalsu. Evaluasi kritis inilah yang menyebabkan “penelitian historis” itu sangat tertib-ketat, yang dalam banyak hal lebih dibanding dari pada studi eksperimental

5)      Walaupun penelitian historis mirip dengan penelaahan kepustakaan yang mendahului lain-lain bentuk rancangan penelitian, namun cara pendekatan historis adalah lebih tuntas, mencari informasi dan sumber yang lebih luas. “Penelitian historis” juga menggali informasi-informasi yang lebih tua dari pada yang umum dituntut dalam penelaahan kepustakaan, dan banyak juga menggali bahan-bahan tak diterbitkan yang tak dikutip dalam bahan acuan yang standar. Langkah pokok untuk melaksanakan penelitian historis sebagai berikut:

6)      Definisi masalah. Ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut kepada diri sendiri:

a)      Apakah cara pendekatan historis ini merupakan yang terbaik bagi masalah yang sedang digarap?

b)      Apakah data penting yang diperlukan mungkin di dapat?

c)      Apakah hasilnya nanti mempunyai cukup kegunaan?

d)     Rumuskan tujuan penelitian dan jika mungkin, rumuskan hipotesis yang akan memberi arah dan fokus bagi kegiatan penelitian itu.

e)      Kumpulkan data, dengan selalu mengingat perbedaan antara sumber primer dan sumber sekunder

f)       Suatu keterampilan yang sangat penting dalam penelitian historis adalah cara pencatatan data : dengan sistem kartu atau dengan sistem lembaran, kedua duanya dapat dilakukan

g)      Evaluasi data yang diperoleh dengan melakukan kritik eksternal dan kritik internal

h)      Tuliskan laporan

Bebrapa pakar yang teglah meggunakan analisis historis dalam sebuah penelitian agama.[11]

  • Talcott Parson dan Bellah ketika ia menjelaskan evolusi agama
  • Berger dalam uraiannya tentang memudarnya agama dalam masyarakat modern
  • Max Weber ketika ia menjelaskan sumbangan teologi Protestan terhadap lahhirnya kapitalisme

Contoh: Seorang guru PAI ingin meneliti bagaimana sejarah pendidikan Islam pada masa Rasullullah. Mengapa pendidikan Islam pada waktu itu bisa mengalami kemajuan. Peneliti sejarah bisa mengajukan pertanyaan: siapa, apa, bila mana, di mana, mengapa, dan bagaimana (5 W+1 H).

2.2.5 Penelitian Deskriptif

Penelitian deskriptif adalah sebuah penelitian yang memaparkan sebuah situasi atau peristiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengambarkan gejala sosial, politik, ekonomi, sosial budaya, dan keagamaan.[12] Seorang peneliti mencoba menggambarkan bagaimana terjadi suatu peristiwa.

Penelitian deskriptif melakukan analisis hanya sampai taraf deskripsi, yaitu menganalisis dan menyajikan data secara sistematik, sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristrik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu. Analisis yang sering digunakan adalah: analisis persentase dan analisis kecenderungan. Kesimpulan yang dihasilkan tidak bersifat umum.

Menurut Usman dan Ali, penelitian deskriptif adalah akumulasi data dasar dalam cara deskriptif semata-mata, tidak perlu mencari hubungan korelasi, hubungan sebab akiabat dan tidak dan tidak perlu mencari hipotesis sebagai jawaban sementara terhadap suatu penelitian. Sebagai para ahli menyatakan bahwa penelitian. Sebagian para ahli menyatakan bahwa penelitian deskriptif lebih luas cakupan penelitiannya, kecuali dalam penelitian sejarah dan penelitian eksperimental.

Ciri-ciri dari penelitian ini secara umum adalah sebagai berikut:[13]

  1. Penelliti mengenai unit sosial tertentu yang hasilnya merupakan gambaran lengkap dan terorganisasi dengan baik
  2. Studi yang cenderung meneliti sejumlah kecil variabel pada unit sampel yang besar
  3. Cenderung meneliti jumlah unit yang kecil, tetapi mengenai variabel-variabel dan kondisi-kondisi yang besar jumlahnya

Contoh: Dikutip sebuah skripsi mahasiswa Fakultas Syariah UIN Jakarta asal Irian Jaya: Penelitian ini berjudul: Mas kawin menurut suku Dani di Irian Jaya Tinjauan Hukum Islam. Mas kawin seorang gadis suku Dani yaitu 5 ekor babi muda walaupun si gadis itu beragama Islam. Babi merupakan binatang ternak yang terkenal dalam kebudayaan masyarakat Dani. Bagaimanakah tinjauan hukum Islam.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa babi haram menjadi mas kawin bagi gadis suku Dani yang beragama Islam. Hasil ujian Skripsinya mendapatkan nilai terbaik Penguji bertanya: Apakah anda berani mensosialisasikan hasil penelitianmu kepada suku Dani?

2.2.6 Penelitian Korelasional

Korelasi adalah penelitian yang berusaha menghubungkan atau mencari hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya[14] untuk mengetahui kekuatan hubungan antara dua variabel tersebut, dengan tingkatan hubungan dapat dilihat berdasarkan koefisien. Nilai korelasi ini disdimbolkan dengan huruf, dengan nilai r antara -1 sampai dengan 1. Nilai -1 sangat kuat sempurna, dan berbanding terbalik, sedangkan nilai 1 sangat kuat sempurna, dan berbanding lurus. Sedangkan nilai 0,5 berarti sedang, atau cukup kuat.

Penelitian ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1)      Penelitian ini dilakukan bila variabel yang diteliti cukup rumit dan data-datanya tidak dapat dimanipulasi

2)      Penelitian ini dapat dilakukan denngan menggunakan beberapa variabel secara serentak

3)      Penelitian ini terdapat kelemahan-kelemahan yaitu, penelitian ini tidak menggunakan variabel control, pola hubungan antara kedua variabel tidak saling mempengaruhi dan cenderung tidak jelas atau kabur. Hasil penelitian tidak menunjukkan saling hubungan yang bersifat kausal

Contoh: Ada seorang dosen mengajar Pendidikan Agama Islam pada sebuah Universitas Swasta yang berbasis IT (Information Technology). Tiap ia mengajar, mahasiswa yang hadir hanya 5 orang dari 40 orang. Ia mengajar sangat teks book dan hanya menyuruh siswanya mencatat. Ketika ujian siswanya tidak bisa menjawab dan prestasinya jelek. Pertanyaan: mengapa mahasiswanya tidak termotivasi belajar agama Islam? Mengapa prestasi pelajaran Agama Islam jelek? Dari masalah tersebut ia bisa mencari sebab dengan mengamati dan membaca teori-teori yang berkaitan dengan cara meningkatkan prestasi mahasiswanya. Dalam teori disebutkan bahawa prestasi belajar berhubungan dengan motivasi. Lalu ia mencoba melakukan penelitian hubungan motivasi (X) dengan prestasi belajar (Y).

2.2.7 Penelitian Eksperimen

Metode Eksperimen merupakan metode penelitian yang menguji suatu cara, teori, terhadap suatu penyelesaian masalah. Yang dicari adalah bentuk hubungan sebab akibat melalui pemanipulasian variabel independen dan menguji perubahan yang diakibatkan oleh pemanipulasian dari variabel tersebut. Hubungan sebab akibat bisa diketahui, peneliti melakukan perlakuan (Treatment) terhadap objek penelitian.[15]

Ciri-ciri penelitian ini adalah sebagai berikut:[16]

1)            Adanya perlakuan untuk melihat pengaruh satu variabel bebas terhadap variabel terikat

2)            Adanya teknik-teknik tertentu yangn digunakan untuk mgendalikan berbagai variabel yang mempengaruhi variabel terikat di luar variabel yang sedang dikaji

3)            Adanya unit-unit eksperimen

4)            Pengaturan variabel secara tertib ketat dan baik

5)            Menggunakan kelompok kontrol sebagai garis dasar untuk membandingkan dengan kelompok yang dibahas

Tujuan penelitian eksperimental adalah untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab-akibat dengan cara mengenakan kepada satu atau lebih kelompok eksperimental satu atau lebih kondisi perlakuan dan memperbandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan. Sehingga bisa memperoleh informasi yang merupakan perkiraan.[17]

Contoh: Seorang Dosen Kiraatul Kutub (cara membaca kitab dalam bahasa Arab) mengalami kesulitan dalam mengajar cara membaca huruf Arab yang kecil-kecil itu pada mahasiswa nya. Ia mencoba memecahkan masalah nya dengan mendesign pengajarannya lebih menarik. Dosen tersebut mencoba membuat sebuah CD interaktif dengan menggunakan Multimedia. Multimedia adalah gabungan grafik, animasi, teks dan suara yang dibuat dengan program komputer. CD Multi media yang telah dibuat perlu diuji coba. Caranya adalah kelas A diajarkan dengan menggunakan CD Multimedia sedangkan kelas B tidak menggunakan CD Multimedia tetapi menggunakan buku-buku tentang kitab kuning saja, media karton dan tulisan yang ia lukis dengan baik. Sebagai kelompok kontrol dosen ini perlu membagi mahasiswanya dalam tingkat IQ yang tinggi dan rendah. Sebelum mengajar dosen ini melakukan tes awal kemampuan membaca pada kelas A dan Kelas B. Setelah selesai mengajar dengan menggunakan CD multimedia maka ia melakukan Post Test pada kedua kelas tersebut. Jika kelas A lebih mudah membaca dari kelas B maka disimpulkan CD multi media meningkatkan kemampuan membaca kitab mahasiswanya.

2.2.8 Causal-Comparative Research

Penelitian ini disebut juga penelitian sebab akibat yaitu, penelitian yang mengungkapkan pengaruh sebab akibat berdasarkan variabel yang ada, dengan melakukan pengamatan. Tujuan penelitian kausal komparatif adalah untuk mengetahui hubungan antara dua atau beberapa variabel tentang kemungkinan sebab akibat berdasarkan suatu pengamtan

Penelitian ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1)      Dikumpulkan setelah semua kejadian berlangsung

2)      Kejadian yang dipersoalkan adalah yang terjadi melalui masanya

3)      Peneliti mengambil satu atau lebih akibat (sebagai dependent variabel) dan menguji data itu dengan menelusuri kembali ke masa lampau untuk mencari sebab-sebab saling berhubungan dan maknanya[18]

4)      Penelitian ini mempunyai keunggulan yaitu penelitian ini sangat bagus untuk berbagai keadaan, bila metode yang lebih kuat, yaitu metode eksperimental tak dapat digunakan

5)      Kelemahannya adalah tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas

Contoh: Penelitian tentang perspektif aliran kalam yang mengeluarkan pendapat yang berbeda tentang ayat contohnya yang mengakibatkan berbagai pendapa yang berbeda. Seperti pendapat aliran kalam tentang ayat dalam surat ar-Ra’d ayat 11:

……اِنَّ اللَّهَ لاَيُغَيِّرُمَابِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْامَابِاَنْفُسِهِمْ………..

“……Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga merekalah yang akan merubah keadaannya sendiri……” (Ar-Ra’d: 11)

2.2.9 Penelitian Tindakan (Action Research)

Kemmis mendefenisikan penelitian tindakan sebagai berikut: penelitian untuk menguji cobakan ide-ide ke dalam praktik untuk memperbaiki/mengubah sesuatu agar memperoleh dampak nyata dari suatu situasi. Dalam penelitian ini ada empat tahapan penting yang harus diperhatikan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

Action research termasuk penelitian kualitatif meskipun dalam penelitian action research ada data kuantitatif. Action research bertujuan memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi.

Ciri-ciri penelitian ini adalah sebagai berikut:

1)      Praktis dan relevan untuk situasi aktual dalam dunia kerja

2)      Fleksibel, membolehkan perubahan-perubahan selama masa penelitiannya dan mengorbankan kontrol untuk kepentingan inovasi[19]

Contoh: Hasep Perlia mahasiswa semester VII, jurusan PAI, FITK UIN Jakarta angkatan 2003/2004 melakukan penelitian Action Research pada mata kuliah Character Building Guru PAI pada mahasiswa semester I jurusan PAI, FITK, UIN Jakarta, dengan judul: Meningkatkan upaya pembentukan karakter mahasiswa pada mata kuliah Character Building Guru PAI dengan social Cognitive Theory. Step ia lakukan adalah merencanakan suatu cara untuk meningkatkan karakter mahasiswa, lalu di laksanakan di kelas bersama dosen collaboratornya, meneliti hasilnya dan melakukan evaluasi. Kegiatan seperti ini perlu dilakukan sampai 3 siklus atau 4 siklus. Maksudnya terus menerus merencanakan, melakukan, meneliti, dan evaluasi sampai 3 atau 4 kali. Inilah yang sering disebut Siklus dalam penelitian Action Research.

2.2.10 Penelitian Survey

Penelitian survey adalah sebuah penelitian atau penelitian tentang kelompok besar melalui penelitian langsung dari subset (sampel dari kelompok tersebut. Tujuan penelitian survey adalah untuk memahami dan meneliti tentang karakteristik dari seluruh kelompok yang hendak diteliti atau populasi dengan meneliti sebagian sampel dari kelompok populasi tersebut yang selanjutnya disebut dengan sample.

Dalam melakukan penelitian Survey maka ada dua hal yang perlu diperhatikan:

1)      Cara pengambilan sampel. Jika salah dalam pengambilan sampel maka bisa salah dalam prediksi. Untuk memperkecil kesalahan maka bisa mengambil sampel dalam ukuran yang lebih besar.

2)      Cara pengumpulan data. Jika salah dalam pengumpulan data maka akan tejadi kesalahan dalam analisis.

Penelitian survey dapat digunakan dalam tujuan berikut ini:[20]

1)      Digunakan untuk maksud penjagaan, (eksploratif).

2)      Untuk  menggambarkan (deskriptif)

3)      Untuk penjelasan (explanatory)

4)      Penegasan (compormatory)

5)      Untuk prediksi atau meramalkan kejadian-kejadian yang mungkin akan timbul di masa mendatganng.

6)      Sebagai landasan bagi penelitian yang lebih bersifat operasional.

7)      Sebagai upaya untuk mengembangkan indikator-indikator sosial.

Contoh: Seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI) ingin mengetahui berapa orang siswa di lingkungan nya yang tidak bisa membaca al-Quran. Contoh lain seorang guru ingin mengetahui berapa orang siswa yang tidak tahu arti surat al-Fatihah, berapa orang siswanya yang tidak tahu arti bacaan sholat. Hasil penelitiannya nanti dihitung dan dipresentasikan dalam bentuk table

2.2.11 Ground Research

Ground research adalah penelitian dasar, yang dikumpulkan dengan menggunakan wawancara bebas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fenomena masyarakat keagamaan yang merupakan pengembangan keterampilan keagamaan ke lapangan.

Jika penelitian Survai sebagaimana dikumpulkan di atas merupakan pendekatan kuantitatif titik berat grounded research adalah pada pendekatan yang bersifat kualitatif, pada peneliian data dikumpulkan dengan menggunakan wawancara bebas dimana para peneliti tidak memulai penelitiannya dengan teori atau hipotesis yang akan diuji, melainkan bertolak dari data yang dikumpulkan. berkenaan dengan penelitian ini Glaser dan Strauss (1967) mengatakan bahwa Grounded research merupakan reaksi yang tajam dan sekaligus menyajikan jalan keluar dari” stagnasi teori” dalam ilmu sosial, dengan menitikberatkan pada sosiologi, kritik dilontarkan baik kepada pendekatan yang kuantiattif maupun yang kualitatif yang selama ini dilakukan.[21]

Contoh: Seorang siswa Filsafat meneliti tentang penciptaan alam dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang sedetil-detilnya kepada guru dan ahli Filsafat. Sehingga dengan pertanyaan ini terbukalah cakrawala pemikiran yang mendalam tentang penciptaan alam semesta dan isinya.

2.3 Macam-Macam Penelitian Ditijau dari Disiplin Ilmu lainnya

2.3.1 Penelitian Agama Islam ditinjau disiplin Ilmu Sosiologi

Sosiologi dapat dipahami sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan sosial manusia dalam tata kehidupan bersama. Ilmu ini memusatkan telaahnya tentang kehidupan kelompok dan tingkah laku sosial lengkap dengan produk kehidupannya.

Ada empat pendekatan yang umum digunakan dalam tinjauan disiplin kerja ilmu sosiologi, yaitu sebagai berikut:

  1. Evolusionisme, memusatkan pada telaah mencari pola perubahan dan perkembangan yang muncul dalam masyarakat yang berbeda
  2. Interaksionisme, memusatkan perhatian pada interaksi antara individu dan kelompok
  3. Masyarakat dipandang sebagai satu jaringan kerja sama kelompok yang salling membutuhkan satu sama lain dalam system yang harmonis
  4. Konflik, reaksi keras terhadap pendekatan fungsionalisme, yaitu bahwa masyarakat itu dianggap terikat kerja sama yang erat hubungan dengan yang lain karena kekuatan kelompok atau kelas yang dominan

Penelitian ini memiliki lima cara dalam menentukan kebenaran, yaitu:[22]

  1. Teracity, yaitu perolehan data melalui penyaksian
  2. Authority, kebenaran diperoleh dengan menyandarkan dari sumber yang berwenang untuk menyatukan kebenaran.
  3. A-Priory (intuition), yaitu kebenaran yang diperoleh melaui intuisi.
  4. Trial and Error, yaitu kebenaran melalui uji coba  dan perbaikan.
  5. Keilmuan, kebenaran melalui teori penelitian, kajian dalam empiris, melalui langkah-langkah yang sistematik dan logis.

2.3.2 Penelitian Agama Islam Tinjauan Disiplin Ilmu Antropologi

Penelitian ini menggunakan pendekatan-pendekatan yang telah dikaji secara empiris. Isinya adalah pendekatan kebudayaan dalam agama yang dikaji secara eksplisit dan implisit.

  1. a. Pendekatan kebudayaan

Pendekatan kebudayaan dapat diartikan sebagai sudut pandangan atau cara melihat dan memperlakukan sesuautu gejala yang menjadi perhatian dengan menggunakan kebudayaan dari gejala yang dikaji sebagai nukuran dalam melihat, memperlakukan, dan menelitigejala yang dikaji.

  1. b. Pendekatan Kualitatif

Pendekatan ini, agama dilihat sebagai pengetahuan dan keyakinan yang dimiliki oelh masyarakat yang pengetahuan dan keyakinan tersebut menjadi patokan sacral yang berlaku. Inti dari pendekatan kualitatif  adalah upaya memahami dari sasaran kajian atau penelitiannya.[23]


  1. c. Pendekatan Sejarah Pemikiran Islam

Menurut Edwar Freeman, sejarah adalah politik masa lampau. Earnest Bernheim mendefinisikan sejarah adalah ilmu tentang perkembangan manusia dalam upaya-upaya mereka sebagai makhluk sosial.

Asumsi pertama adalah sejarah seluruh masyarakat dapat disajikan dalam kerangka sistem-sistem institusional. Asumsi kedua adalah bahwa sejarah masyarakat Islam dapat ditingkatkan dalam kerangka membentuk dasar institusi.

2.3.3 Penelitian Agama Islam Ditinjau Disiplin  Ilmu Hukum  Islam

Mengingat hukum Islam yang berlapis sebagaimana telah disebutkan, yaitu mengenai tiga sumber, yaitu al-Qur’an, al-Hadits, dan ar-Ra’yu. Hukum Islam dilandasi oleh aqidah dan akhlak.

Secara kuantitatif metodologi penelitian agama Islam dari disiplin ilmu hukum Islam diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. a. Metodologi Islam Normatif

Objek penelitian ini adalah asas-asas , doktrin, konsep, sistematika, dan substansi hukum Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan al-Hadits, baik menurut alliran klasik maupun kontemporer.

  1. b. Metodologi Islam Empirisme

Empirisme secara bahasa (etimologi) diambil dari bahasa Yunani, yaitu empiria yang berarti pengalaman, pengenalan konkret atau keakraban dengan sesuatu.[24] Secara istilah (terminology) empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peranan akal.

2.4 Dalil Al-Qur’an Tentang Penelitian

2.4.1 Surat Al-Hasyr ayat 18

يَأيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْااتَّقُوااللَّهَ وَلْتَنْظُرْنَفْسٌ مَّا قّدَّمَتْ لِغَدٍۖ وَاتَّقُوااللَّهَ ۚ اِنَّ اللََّهَ خَبِيْرٌبِمَاتَعْمَلُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Hasyr: 18)

2.4.2 Surat Al-Hujurat ayat 6

يَأيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْااِنْ جَاءَ كُمْ فَاسِقٌ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْا اَنْ تُسِيْبُوْاقَوْمًابِجَهَالَةٍ فَتُسْبِحُوْاعَلَى مَافَعَلْتُمْ

نَدِمِيْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (Al-Hujurat: 6)

2.4.3 Surat Maryam ayat 84

فَلاَتَعْجَلْ عَلَيْهِمْ ۗۗ اِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّاۗ

“Maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan siksa terhadap mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti” (Maryam: 84)

2.4.4 Surat Shaad ayat 29

ë=»tGÏ. çm»oYø9t“Rr& y7ø‹s9Î) Ô8t»t6ãB (#ÿr㍭/£‰u‹Ïj9 ¾ÏmÏG»tƒ#uä t©.x‹tFuŠÏ9ur (#qä9′ré& É=»t6ø9F{$#

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Shaad : 29)

2.4.5 Surat An-Nisa’ ayat 7

ÉA%y`Ìh=Ïj9 Ò=ŠÅÁtR $£JÏiB x8ts? Èb#t$Î!ºuqø9$# tbqç/tø%F{$#ur Ïä!$|¡ÏiY=Ï9ur Ò=ŠÅÁtR $£JÏiB x8ts? Èb#t$Î!ºuqø9$# šcqç/tø%F{$#ur $£JÏB ¨@s% çm÷ZÏB ÷rr& uŽèYx. 4 $Y7ŠÅÁtR $ZÊrãøÿ¨B

”Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan”. (an-Nisa’: 7)


[1] W.J.S. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta. 1991, cet. XII hlm 520

[2] Abuddinnata. Metodologi Studi Islam. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta: 1998 hlm 122

[3] Abdullah, Yatimin. Studi Islam Kontemporer. Sinar Grafika Offest. Jakarta: 2006 hlm 217

[4] Noeng Muhajir. Metodologi Penelitian Kualitatif, edisi IV. Penerbit Rake Sarasin. Jogjakarta: 2000

[5] Lexy Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif, cet. 13. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung: 2000

[6] Agus Salim (ed.). Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Tiara Wacana. Yogyakarta: 2001 hlm 26

[7] Ibid

[8] Yatimin Abdullah.Studi Islam Kontemporer. Amzah, Jakarta. 2006 hlm 220-221

[9] Abuddin Nata. Op. Cit. hlm 126

[10] Sumadi Suryabrata. Metodologi Penelitan, Cet. VIII. Jakarta, PT Raja Grafindo Persada. 1994 hlm 16-17

[11] Atang, abd. Hakim & Jaih Mubarok. Metodologi Studi Islam. Bandung, Remaja Rosdakarya. 1999 hlm55

[12] M. Deden Ridwan. Tradisi Baru Penelitian AgamaIslam dalam tujuan antar disiplin ilmu. Bandung, Yayasan Nuansa Cendekia. 2001 hlm 225

[13] Yatimin Abdullah. Op. Cit. hlm222-223

[14] M. Deden Ridwan. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam dalam Tinjauan antar Disiplin Ilmu. Yayasan Nuansa Cendekia, Bandubng. 2001 hlm 232

[15] Ronny Kountur. Metodologi Penelitian untuk Penulisan Skripsi dan Tesis. PPM Jakarta Pusat, Jakarta. 2003 hlm 116

[16] Yatimin Abdullah. Op. Cit. hlm 224

[17] Ibid

[18] Abuddin Nata. Op. Cit. hlm 128

[19] Sumadi Suryabrata. Op. Cit. hlm16-17

[20] Abuddin Nata. Op. Cit. hlm 130

[21] Masri Singarimbun dan Sofian Affendi. Metode Penelitian Survey. LP3ES, Jakarta. 1989 hlm 8

[22] Yatimin Abdullah. Op. Cit. hlm 228

[23] Max Weber. The Protestant Ethics and The Spirit of Capitalism With an Introduction by Anthony Guiddens, Cet. 2.  Charles Saribness’sson, New York. 1976 hlm 123

[24] Jalaluddin Rakhmat. Kamus Filsafat. Remaja Rosda Karya, Bandung. 1985 hlm 92

SEJARAH PERADABAN ISLAM

Juni 18, 2010

SEJARAH PERADABAN ISLAM

1. Pengertian sejarah

Pengertian sejarah secara etimologis berasal dari kata arab “syajarah” yang mempunyai arti “pohon kehidupan” dan yang kita kenal didalam bahasa ilmiyah yakni History, dan makna sehjarah mempunyai 2 konsep :

sejarah yang tesusun dari serangkaian pristiwa pada masa lampau, keseluruhan pengalaman manusia dan juga sejarah sebagai suatu cara yang dengannya fakta fakta di seleksi, di ubah ubah, di jabarkan dan di analisis.

Pertama : konsep sejarah yang memberikan pemahaman akan arti objektif tentang masa lampau.

Kedua : sejarah menunjukan maknanya yang subjektif, sebab masa lampau tersebut telah menjadi sebuah kisah atau cerita.

A. Karakteristik sejarah

Karakteristik sejarah dengan disiplinnya dapta dilihat berdasarkan 3 orientasi

Pertama : sejarah merupakan pengetahuan mengenai kejadian kejadian, peristiwa peristiwa dan keadaan manusia dalam masa lampau dalam kaitannya dengan keadaan masa kini.

Kedua : sejarah merupakan pengetahuan tentang hokum hokum yang tampak menguasai kehidupan masa lampau, yang di peroleh melalui penyelidikan dan analisis atau peristiwa peristiwa masa lampau.

Ketiga : sejarah ssebagai falsafah yang di dasarkan kepada pengetahuan tentang perubahan perubahan masyarakat, dengan kata lain sejarah seperti ini merupakan ilmu tentang proses suatu masyarakat.

B. Kegunaan sejarah

Sejarah mempunyai arti penting dalam kehidupan begitu juga sejarah mempunyai beberapa kegunaan, diantara kegunaan sejarah antara lain :

Pertama : Untuk keleatarian identitas kelompok dan memperkuat daya tahan kelompok itu bagi kelangsungan hidup.

Kedua : sejarah berguna sebagi pengambilan pelajaran dan tauladan dari contoh contoh di masa lampau, sehingga sejarah memberikan azas manfaat secara lebih khusus demi kelangsungan hidup.

Ketiga : sejarah berfungsi sebagai sarana pemahaman mengenai hidup dan mati.

Dengan begitu penntingnya sejarah dalam kehidupan ini di dalam ALQur’an sendiri terdapat beberapa kisah para nabi dan tokoh masa lampau diantaranya:

111. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

9. Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebihkuat dari mereka (sendiri) dan Telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang Telah mereka makmurkan. dan Telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.

2. Pengertian sejarah peradaban islam

Sejarah peradaban islam diartikan sebagai perekembangan atau kemajuan kebudayaan islam dalam perspektif sejarahnya, dan peradaban islam mempunyai berbgai macam pengetian lain diantaranya

Pertama : sejarah peradaban islam merupakan kemajuan dan tingkat kecerdasan akal yang di hasilkan dalam satu periode kekuasaan islam mulai dari periode nabi Muhammad Saw sampai perkembangan kekuasaan islam sekarang.

Kedua : sejarah peradaban islam merupakan hasil hasil yang dicapai oleh ummat islam dalam lapangan kesustraan, ilmu pengetahuan dan kesenian.

Ketiga : sejarah perdaban islam merupakan kemajuan politik atau kekuasaan islam yang berperan melindungi pandangan hidup islam terutama dalam hubungannya dengan ibadah ibadah, penggunaan bahasa, dan kebiasaan hidup bermasyarakat.

3. Peran dan fungsi manusia sebagai pembuat peradaban

Dalam perspektif islam manusia sebagai pelaku sekaligus pembuat peradaban memiliki kedudukan dan peran inti, kedudukan dan posisi manusia di kisahkan dalam Al Qur’an diantaranya:

Pertama : manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna dan paling utama Allah berfirman :

70. Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.

Sebagai konsekwensi logis manusia memilki kebebasan yang bertanggung jawab, dalam arti yang seluas luasnya dan pada dimensi yang beragam yang pasa gilirannya merupakan amanat yang harus di pikul.

Kedua : guna mengemban tugasnya sebagai mahluk yang di mulyakan Allah, tidak sepeti ciptaan Allah yang lain. Semuanya mempunyai tekanan yang sama yaitu agar manusia menggunakan akalnya hanya untuk hal hal yang positif sesuai dengan fitrah dan panggilan hati nuraninya, dan amatlah tercella bagi orang yang teperdaya oleh hawa nafsu terlepas dari kemanusiaannya dan fitrahnya.dan dalam hal ini

Al Qur’an menegaskan :

10. Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”.

11. Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.

4. Dasar dasar kemasyarakatan yang di letakan rosul

Dasar dasar peradaban yang di letakan Rasulullah itu pada umumnya merupakan sejumlah nilai dan norma yang mengatur manusia dan masyarakat dalam hal yang berkaitan dengan periabadatan, social, ekonomi, politik, yang bersumber dari Al Qur’an dan sunnah.

Dan beberapa asas islam yang di letakan Rasulullah diantarnya : Al Ikha (persaudaraan), Al-Musawa(persamaan), Al-tasamuh(toleransi), Al-tasyawur(musyawarah), Al-ta’awun(tolong menolong), Al-adalah(keadilan)

5. Pembelajaran sejarah peradaban islam di ISID (Institute Studi Islam Darussalam)

Pembelajaran sejarah peradaban islam di ISID memakai langkah langkah yang strategis dalam pembelajarannya diantaranya :

materi kuliah di sampaikan dengan menggunkan bahasa arab yang merupakan bahasa Al Qur’an dan Hadist.

pokok pokok bahasan dan topic inti, disamping di sampaikan dengan metode diskriktif, juga di barengi dengan penyampaian analisa kritis

prinsip gontor dalam proses pembelajaran,

الطريقة اهم من المدة … والاستاذ اهم من الطريقه …..وروح الاستاذ هو الاهم

ISID selalu meletakan mata kuliah sejarah perdaban islam sebagai di siplin ilmu yang hidup dan selalu memberikan nuansa nuansa baru sesuai dengan semangat panca jiwa pondok modern Darussalam Gontor, Keiklasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiah, kebebasan yang bertanggung jawab.

VIII Abad Kejayaan Islam di Spanyol
Oleh: Med HATTA

Pada Bulan Ramadhan 92 Hijriah, tepatnya tanggal 27 April 711 M, kala itu tentara Islam yang dipimpin oleh Thariq Bin Ziad berangkat mengarungi samudera dan menyeberangi selat “Jabal Thariq” (Gibraltar), ketika berlabuh ditepi pantai “Fandalas” (pelesetan dari Andalus), tentara Islam di uji mental dan keberaniaanya.

Waktu itu mereka diuji dengan ketakutan dan kecemasan karena pasukan musuh dibawah pimpinan Raja Frederick yang akan dihadapi sangat besar melebihi beberapa kali lipat dari jumlah mereka. Sebagian besar dari pasukan muslim kecut hati dan berniat untuk mundur. Maka detik-detik itulah penentuan sejarah diukir dengan kepiawaian dan keberanian seorang Thariq berjuang di jalan Allah.

Seketika itu Thariq bin Ziad membakar seluruh perahu dan kapal pasukannya, seraya mengeluarkan ungkapan fundamental yang dahsyat dari mulutnya yang telah mengubah wajah Andalusia saat itu…

Thariq bin Ziad membakar semangat juang dan patriotis tentara muslim dengan ungkapannya yang terkenal: “Wahai pejuang-pejuang Allah… Perahu kalian telah hangus terbakar, dibelakang kalian terbentang selat Gibraltar nan luas, Jika kalian mau lari dari jalan Allah, kalian akan meberangi lautan ini dan yakinlah kalian pasti akan celaka, dan mati kalian terhina di mata Allah dan para Malaikatnya, serta api neraka membara menunggu kalian… Sedangkan di depan kalian ada musuh Allah dan rasulnya jika kalian mati karenanya maka keabadian di syurga Allah dan bidadari menantimu… Silahkan pilih mana jalan yang akan kalian tempuh diantara keduanya…”

Ungkapan thariq ini benar-benar ampuh dan membakar semangat pasukan islam, dan mereka gagah melangkah dengan basmalah bersama malaikat Allah. Kala itu, Raja Federick dan pasukannya bertekuk lutut dan Pulau Rhodes yang ada dibagian Andalusia, tunduk di bawah pimpinan Islam. Sejak itu asma Allah bergema diseluruh belahan bumi Andalusia, Syariat islam menjadi aturan dan jalan hidupnya.
Sejarah kedatangan Thariq bin Ziyad bersama pasukannya teluk inilah, sebagai cikal bakal perkembangan kebudayaan Islam dan kerajaan-kerajaan Islam yang mulai bercokol di bumi Andalusia (sekarang Spanyol). Berkat kedatangan Islam di Andalusia hampir delapan abad lamanya kaum Muslim mengusasi kota-kota penting seperti Toledo, Saragosa, Cordoba, Valencia, Malaga, Seville, Granada dan lain sebagainya, mereka membawa panji-panji ke-Islaman, baik dari segi Ilmu pengetahuan, Kebudayaan, maupun segi Arsitektur bangunan.

Di negeri inilah lahir tokoh-tokoh muslim ternama yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan, seperti Ilmu Agama Islam, Kedokteran, Filsafat, Ilmu Hayat, Ilmu Hisab, Ilmu Hukum, Sastra, Ilmu Alam, Astronomi, dan lain sebagainya. Oleh karena itu dengan segala kemajuan dalam berbagai ilmu pengetahuan, kebudayaan serta aspek-aspek ke-islaman, Andalusia kala itu boleh dikatakan sebagai pusat kebudayaan Islam dan Ilmu Pengetahuan yang tiada tandingannya setelah Konstantinopel dan Bagdad. Maka tak heran waktu itu pula bangsa-bangsa Eropa lainnya mulai berdatangan ke negeri Andalusia ini untuk mempelajari berbagai Ilmu pengetahuan dari orang-orang Muslim Spanyol, dengan mempelejari buku-buku buah karya cendekiawan Andalusia baik secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.

Diantara cendekiawan-cendekiawan asal andalusia tercatat, sebagai berikut:

Ibnu Thufail (1107-1185): Dilahirkan di Asya, Granada, bernama lengkap Abu Bakr Muhammad ibn Abdul Malik ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Thufail al-Qisi, ia pernah menjabat Menteri Urusan Politik di pemerintahan, dan juga pernah menjabat Gubernur untuk Wilayah Sabtah (Ceuta) dan Tanger di daratan Morocco.

Sebagai ahli falsafah, Ibnu Thufail (Abubacer: sebutan Eropanya) adalah guru dari Ibnu Rusyd (Averroes), ia mengusai ilmu lainnya seperti ilmu hukum, pendidikan, dan kedokteran, sehingga Ibn Thufail pernah menjadi dokter pribadi Abu Ya’kub Yusuf seorang Pangeran Muwahhidin. Ibnu Thufail di kenal pula sebagai penulis Roman Filasafat dalam literatur abad pertengahan dengan nama Kitabnya “Hayy ibn Yaqzan“, salah satu buku warisan dari ahli filsafat Islam tempo dulu yang sampai kepada kita, sedangkan sebagian karyanya hilang.

Al-Idrisi: lahir di Sebta (Ceuta) pada tahun 1100 M salah seorang ahli Geografi dengan nama lengkapnya Abu Abadallah Muhammad al-Idrisi, yang menulis Kitab Ar-Rujari atau dikenal dengan Buku Roger salah satu buku yang menjelaskan tentang peta dunia terlengkap, akurat, serta menerangkan pembagian-pembagian zona iklim di dunia. Ar-Rujari sebuah karya yang diperbantukan untuk Raja Roger II, dimana buku ini sempat dimanfaatkan oleh orang-orang Eropa baik Muslim maupun non Muslim.

Al-Idrisi adalah seorang yang tekun, pekerja keras dan tanpa lelah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat, ia menggali ilmu Geografi dan ilmu Botani di Cordoba Spanyol.

Ibn Baitar (1190-1248): Abu Muhammad ibn Baitar, lahir di Malaga. Ahli Botani Islam terkenal, dialah yang petama kali menggabungkan ilmu-ilmu botani Islam, dimana karyanya dijadikan sebagai standar referensi hingga abad ke-16.

Ibnu Bajjah (1082-1138): Lahir di Saragosa dengan nama lengkap Abu Bakr Muhammad Ibn Yahya al-Saigh, ia adalah seorang yang cerdas sebagai ahli matematika, fisika, astronomi, kedokteran, filsafat, dan penyair dari golongan Murabitin, selain hafal Al-Qur’an beliaupun piawai dalam bermain musik gambus. Kepercayaanya terhadap Ibnu Bajjah dalam bermain politik semasa kepemimpinan Abu Bakr Ibrahim ia diangkat menjadi Menteri di Saragosa.

Karangannya yang terkenal adalah an-Nafs (Jiwa) yang menguraikan tentang keadaan jiwa yang terpengaruhi oleh filsafat Aristoles, Galenos, al-Farabi, dan Ar-Razi. Dalam usia 56 tahun Ibnu Bajjah meninggal sebab diracuni dan hasil karyanya banyak yang dimusnahkan, namun ajaran-ajarannya mempengaruhi para ilmuwan berikutnya di tanah Andalusia.

Ibnu Rusyd (1126-1198): Lahir di Cordova yang nama lengkapnya adalah Abdul Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Ibnu Rusyd, atau lebih dikenal di Eropa “Averroes”. Ibnu Rusyd adalah seorang ahli hukum, ilmu hisab (arithmatic), kedokteran, dan ahli filsafat terbesar dalam sejarah Islam dimana ia sempat berguru kepada Ibnu Zuhr, Ibn Thufail, dan Abu Ja’far Harun dari Truxillo.

Pada tahun 1169 Ibn Rusyd dilantik sebagai hakim di Sevilla, kemudian tahun 1171 menjabat hakim di Cordova. Karena kepiawaiannya dalam bidang kedokteran Ibnu Rusyd diangkat menjadi dokter istana tahun 1182.

Karya besar yang di hasilkan oleh Ibnu Rusyd adalah Kitab Kuliyah fith-Thibb (Encyclopaedia of Medicine) yang terdiri dari 16 jilid, pernah di terjemahkan kedalam bahasa Latin pada tahun 1255 oleh seorang Yahudi bernama Bonacosa, kemudian buku ini diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan nama “General Rules of Medicine” sebuah buku wajib di universitas-universitas di Eropa.

Karya lainnya Mabaadi-il Falsafah (pengantar ilmu falsafah), Taslul, Kasyful Adillah, Tahafatul Tahafut, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Tafsir Urjuza (menguraikan tentang pengobatan dan ilmu kalam), sedangkan dalam bidang musik Ibnu Rusyd telah menulis buku yang berjudul “De Anima Aristotles” (Commentary on the Aristotles De Animo).

Selain itu Ibnu Rusyd telah berhasil menerjemahan buku-buku karya Aristoteles (384-322 SM) sehingga ia dijuluki sebagai asy-Syarih (comentator) berkat Ibnu Rusyd-lah karya-karya Aristoteles dunia dapat menikmatinya. Selain itu ia-pun mengomentari buku-buku Plato (429-347 SM), Nicolaus, Al-Farabi (874-950), dan Ibnu Sina (980-1037).

Ibnu Rusyd seorang yang cerdas dan berpikiran kedepan sempat dituduh sebagai orang Yahudi karena pemikiran-pemikirannya sehingga beliau di asingkan ke Lucena dan sebagian karyanya dimusnahkan. Doktrin Averoism mampu pengaruhi Yahudi dan Kristen, baik barat maupun timur, seperti halnya pengaruhi Maimonides, Voltiare dan Jean Jaques Rousseau, maka boleh dikatakan bahwa Eropah seharusnya berhutang budi pada Ibnu Rusyd.

Ibnu Zuhr (1091-1162): atau Abumeron dikenal pula dengan nama Avenzoar yang lahir di Seville adalah seorang ahli fisika dan kedokteran beliau telah menulis buku “The Method of Preparing Medicines and Diet” yang diterjemahkan kedalam bahasa Yahudi (1280) dan bahasa Latin (1490) sebuah karya yang mampu pengaruhi Eropa dalam bidang kedokteran setelah karya-karya Ibnu Sina Qanun fit thibb atau Canon of Medicine yang terdiri dari delapan belas jilid.

Ibnu Arabi (1164-1240): dikenal juga sebagai Ibnu Suraqah, Ash-Shaikhul Akbar, atau Doktor Maximus yang dilahirkan di Murcia (tenggara Spanyol). Pada usia delapan tahun tepatnya tahun 1172 ia pergi ke Lisbon untuk belajar pendidikan Agama Islam, belajar Al-Qur’an dan hukum-hukum Islam dari Syekh Abu Bakar bin Khalaf. Setelah itu ia pergi ke Seville salah satu pusat Sufi di Spanyol, disana ia menetap selama 30 tahun untuk belajar Ilmu Hukum, Theologi Islam, Hadits, dan ilmu-ilmu tashawwuf (Sufi).

Karyanya sungguh luar biasa, konon Ibnu Arabi menulis lebih dari 500 buah buku, sekarang di perpustakaan Kerajaan Mesir di Kairo saja masih tersimpan 150 karya Ibnu Arabi yang masih ada dan utuh. Diantara karya-karyanya adalah Tafsir Al-Qur’an yang terdiri 29 jilid, Muhadaratul Abrar Satu jilid, Futuhat terdiri 20 jilid, Muhadarat 5 jilid, Mawaqi’in Nujum, at-Tadbiratul Ilahiyyah, Risalah al-khalwah, Mahiyyatul Qalb, Mishkatul Anwar, al Futuhat al Makiyyah yaitu suatu sistim tasawwuf yang terdiri dari 560 bab dan masih banyak lagi karangan-karangan hasil pemikiran Ibnu Arabi yang mempengaruhi para sarjana dan pemikir baik di Barat maupun Timur setelah kepergiaanya.

Ibnu Arabi dengan nama lengkapnya Syekh Mukhyiddin Muhammad Ibnu ‘Ali adalah salah seorang sahabat dekat Ibnu Rusyd. Ia sering berkelana untuk thalabul ‘ilmi (mencari ilmu) dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya seperti ke Cordova, Mesir, Tunisia, Fez, Maroko, Jerussalem, Makkah, Hejaz, Allepo, Asia kecil, dan Damaskus hingga wafatnya disana dan dimakamkan di Gunung Qasiyun.

Delapan abad lamanya Islam berkuasa di Andalusia sejak tahun 711 M hingga berakhirnya kekuasaan Islam di Granada pada tanggal 2 Januari 1492 M/ 2 Rabiul Awwal 898 H tepatnya 516 tahun lalu, Andalusia dalam masa kejayaan Islam telah melahirkan cendekiawan-cendekiawan muslim yang tertulis dengan tinta emas di sepanjang jaman. Karya mereka yang masih ada banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa di penjuru dunia. Sehingga universitas-universitas dibangun di negeri ini ditengah ancaman musuh-musuhnya.

Itulah keunikan para ulama, cendekiawan-cendekiawan tempo dulu bukan saja menguasai satu bidang ilmu pengetahuan namun mereka menguasai berbagai ilmu pengetahuan yang disegani dan tanpa pamrih, hingga nama mereka dikenang oleh setiap insan. Kini bukti kemajuan akan peradaban Islam tempo dulu di Spanyol dapat kita lihat sisa-sisa bangunan yang penuh sejarah dari Toledo hingga Granada, dari Istana Cordova hingga Alhambra. Dan disinilah berkat kekuasaan Tuhan walaupun kekuasaan Islam di Spanyol telah jatuh kepada umat Kristen beberapa abad silam yang menjadikan Katolik sebagai agama resmi, namun karya-karya anak negeri ini mampu memberikan sumbangsih yang luar biasa bagi umat manusia hingga di abad milenium yang super canggih.

ISLAM DI ANDALUSIA

Sebelum kedatangan umat Islam, daerah Iberia merupakan kerajaan Hispania yang dikuasai oleh orang Kristen Visigoth. Pada tahun 711 M, pasukan Umayyah yang sebagian besar merupakan bangsa Moor dari Afrika Barat Laut, menyerbu Hispania dipimpin jenderal Tariq bin Ziyad, dan dibawah perintah dari Kekhalifahan Umayyah di Damaskus.

Pasukan ini mendarat di Gibraltar pada 30 April, dan terus menuju utara. Setelah mengalahkan Raja Roderic dari Visigoth dalam Pertempuran Guadalete ( 711 M ), kekuasaan Islam terus berkembang hingga pada tahun 719 M. Hanya daerah Galicia, Basque dan Asturias yang tidak tunduk kepada kekuasaan Islam. Setelah itu, pasukan Islam menyeberangi Pirenia untuk menaklukkan Perancis, namun berhasil dihentikan oleh kaum Frank dalam pertempuran Tours (732 M). Daerah yang dikuasai Muslim Umayyah ini disebut provinsi Al-Andalus, terdiri dari Spanyol, Portugal dan Perancis bagian selatan yang disebut sekarang.

A. Perkembangan Politik

Pada awalnya, Al-Andalus dikuasai oleh seorang wali Yusuf Al-Fihri (gubernur) yang ditunjuk oleh Khalifah di Damaskus, dengan masa jabatan biasanya 3 tahun. Namun pada tahun 740an M, terjadi perang saudara yang menyebabkan melemahnya kekuasaan Khalifah. Dan pada tahun 746 M, Yusuf Al-Fihri memenangkan perang saudara tersebut, menjadi seorang penguasa yang tidak terikat kepada pemerintahan di Damaskus.

Pada tahun 750 M, bani Abbasiyah menjatuhkan pemerintahan Umayyah di Damaskus, dan merebut kekuasaan atas daerah-daerah Arabia. Namun pada tahun 756 M, Abdurrahman I (Ad-Dakhil) melengserkan Yusuf Al-Fihri, dan menjadi penguasa Kordoba dengan gelar Amir Kordoba. Abdurrahman menolak untuk tunduk kepada kekhalifahan Abbasiyah yang baru terbentuk, karena pasukan Abbasiyah telah membunuh sebagian besar keluarganya.

Ia memerintah selama 30 tahun, namun memiliki kekuasaan yang lemah di Al-Andalus dan ia berusaha menekan perlawanan dari pendukung Al-Fihri maupun khalifah Abbasiyah.

Selama satu setengah abad berikutnya, keturunannya menggantikannya sebagai Amir Kordoba, yang memiliki kekuasaan tertulis atas seluruh Al-Andalus bahkan kadang-kadang meliputi Afrika Utara bagian barat. Pada kenyataannya, kekuasaan Amir Kordoba, terutama di daerah yang berbatasan dengan kaum Kristen, sering mengalami naik-turun politik, itu tergantung kecakapan dari sang Amir yang sedang berkuasa. Amir Abdullah bin Muhammad bahkan hanya memiliki kekuasaan atas Kordoba saja.

Cucu Abdullah, Abdurrahman III, menggantikannya pada tahun 912 M, dan dengan cepat mengembalikan kekuasaan Umayyah atas Al-Andalus dan bahkan Afrika Utara bagian barat. Pada tahun 929 M ia mengangkat dirinya sebagai Khalifah, sehingga keamiran ini sekarang memiliki kedudukan setara dengan kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad dan kekhalifahan Syi’ah di Tunis.

B. Masa kekhalifahan

Andalusia – Spanyol diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid Rahimahullah (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, dimana Ummat Islam sebelumnya telah mengusasi Afrika Utara. Dalam proses penaklukan Spanyol ini terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa yaitu Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair Rahimahullahum ajma’in.

Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, lima ratus orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian.

Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad Rahimahullah.

Thariq ibn Ziyad Rahimahullah lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair Rahimahullah dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid Rahimahullah. Pasukan itu kemudian menyeberangi Selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad Rahimahullah. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq).

Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq Rahimahullah dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibu kota kerajaan Gothik saat itu). Sebelum Thariq Rahimahullah berhasil menaklukkan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa ibn Nushair Rahimahullah di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5000 personel, sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Gothik yang jauh lebih besar, 100.000 orang.

Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad Rahimahullah membuat jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa ibn Nushair Rahimahullah merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat menyeberangi selat itu, dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukkannya. Setelah Musa Rahimahullah berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navarre.

Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz Rahimahullah tahun 99 H/717 M. Kali ini sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah Rahimahullah, tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H. Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada Abdurrahman ibn Abdullah al-Ghafiqi Rahimahullah. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordreu, Poiter, dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours. Akan tetapi, diantara kota Poiter dan Tours itu ia ditahan oleh Charles Martel, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan tentara yang dipimpinnya mundur kembali ke Spanyol.

Sesudah itu, masih juga terdapat penyerangan-penyerangan, seperti ke Avirignon tahun 734 M, ke Lyon tahun 743 M, dan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah, Majorca, Corsia, Sardinia, Creta, Rhodes, Cyprus dan sebagian dari Sicilia juga jatuh ke tangan Islam di zaman Bani Umayah. Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum Muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh menjangkau Perancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia. Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yang menguntungkan.

Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothic bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama Kristen. Yang tidak bersedia disiksa, dan dibunuh secara brutal.

Rakyat dibagi-bagi ke dalam sistem kelas, sehingga keadaannya diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan, dan ketiadaan persamaan hak. Di dalam situasi seperti itu, kaum tertindas menanti kedatangan juru pembebas, dan juru pembebasnya mereka temukan dari orang Islam. Berkenaan dengan itu Amer Ali, seperti dikutip oleh Imamuddin mengatakan, ketika Afrika (Timur dan Barat) menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan, tetangganya di jazirah Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan tangan besi penguasa Visighotic. Di sisi lain, kerajaan berada dalam kemelut yang membawa akibat pada penderitaan masyarakat. Akibat perlakuan yang keji, koloni-koloni Yahudi yang penting menjadi tempat-tempat perlawanan dan pemberontakkan. Perpecahan dalam negeri Spanyol ini banyak membantu keberhasilan campur tangan Islam di tahun 711 M. Perpecahan itu amat banyak coraknya, dan sudah ada jauh sebelum kerajaan Gothic berdiri.

Perpecahan politik memperburuk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol, ekonomi masyarakat dalam keadaan lumpuh. Padahal, sewaktu Spanyol masih berada di bawah pemerintahan Romawi (Byzantine), berkat kesuburan tanahnya, pertanian maju pesat. Demikian juga pertambangan, industri dan perdagangan karena didukung oleh sarana transportasi yang baik. Akan tetapi, setelah Spanyol berada di bawah kekuasaan kerajaan Goth, perekonomian lumpuh dan kesejahteraan masyarakat menurun. Hektaran tanah dibiarkan terlantar tanpa digarap, beberapa pabrik ditutup, dan antara satu daerah dan daerah lain sulit dilalui akibat jalan-jalan tidak mendapat perawatan.

Buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderick, Raja Goth terakhir yang dikalahkan Islam. Awal kehancuran kerajaan Ghoth adalah ketika Raja Roderick memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderick. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum muslimin.

Sementara itu terjadi pula konflik antara Roderick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan kaum Muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol, Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tharif, Tariq dan Musa Rahimahumullah.

Hal menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang Selain itu, orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.

Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokon-tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu, dan penuh percaya diri. Mereka pun cakap, berani, dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.

C. Perkembangan Peradaban

Umat Islam di Spanyol telah mencapai kejayaan yang gemilang, banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan juga dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks, terutama dalam hal kemajuan intelektual.

Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa, dan kemudian membawa dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks.

Kemajuan Intelektual

Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan pemikir.

Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari :

- Komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan)

- Al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam)

- Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara)

- Al-Shaqalibah (tentara bayaran yang dijual Jerman kepada penguasa Islam)

- Yahudi

- Kristen Muzareb yang berbudaya Arab

- Kristen yang masih menentang kehadiran Islam

Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan Kebangkitan Ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Andalusia – Spanyol.

1. Filsafat

Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M).

Atas inisiatif al-Hakam (961-976 M), karya-karya ilmiah dan filosofis diimpor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam. Apa yang dilakukan oleh para pemimpin dinasti Bani Umayyah di Spanyol ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.

Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibn Rusyd dari Cordova. Ia lahir tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M. Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama. Dia juga ahli fiqh dengan karyanya Bidayah al- Mujtahid.

2. Sains

IImu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Famas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ialah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umm al-Hasan bint Abi Ja’far dan saudara perempuan al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.

Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal, Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia dan Ibn Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai Samudera Pasai dan Cina. Ibn al-Khatib (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunis adalah perumus filsafat sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat tinggal di Spanyol, yang kemudian pindah ke Afrika. Itulah sebagian nama-nama besar dalam bidang sains.

3. Fiqih

Dalam bidang fiqh, Spanyol Islam dikenal sebagai penganut mazhab Maliki. Yang memperkenalkan mazhab ini di sana adalah Ziad ibn Abdurrahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi Qadhi pada masa Hisyam Ibn Abdurrahman. Ahli-ahli Fiqh lainnya diantaranya adalah Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir Ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.

4. Musik dan Kesenian

Dalam bidang musik dan suara, Spanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan Ibn Nafi yang dijiluki Zaryab. Setiap kali diselenggarkan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya. Ia juga terkenal sebagai penggubah lagu. Ilmu yang dimiliknya itu diturunkan kepada anak-anaknya baik pria maupun wanita, dan juga kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.

5. Bahasa dan Sastra

Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non-Islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menomor duakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa. Mereka itu antara lain: Ibn Sayyidih, Ibn Malik pengarang Aljiyah, Ibn Khuruf, Ibn al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan al-Ghamathi. Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karya-karya sastra bermunculan, seperti Al-’Iqd al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, al-Dzakhirahji Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, Kitab al-Qalaid buah karya al-Fath ibn Khaqan, dan banyak lagi yang lain.

TUGAS ULUMUL QUR’AN

Juni 4, 2010

I’jaz  Qur’an

· Menurut bahasa: Kata I’jaz adalah isim mashdar dari ‘ajaza-yu’jizu-I’jazan yang mempunyai arti “ketidak berdayaan dan keluputan”.

· Secara istilah: Penampakan kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW. dalam ketidakmampuan orang Arab untuk menandingi mukjizat nabi yang abadi, yaitu Al-qur’an

· I’jazul Qur’an adalah kekuatan, keunggulan dan keistimewaan yang dimiliki Al-Qur’an yang menetapkan kelemahan manusia, baik secara terpisah maupun berkelompok-kelompok, untuk bisa mendatangkan minimal yang menyamainya. Kadar kemukjizatan Al-Qur’an itu meliputi tiga aspek, yaitu : aspek bahasa (sastra, badi’, balagah/ kefasihan), aspek ilmiah (science, knowledge, ketepatan ramalan) dan aspek tasyri’ (penetapan hukum syariat).

· Mukjizat adalah sebuah perkara luar biasa yang disertai tantangan, yangselamat, dari penging karan, dan muncul pada diri seorang yang mengaku nabi sebagi penguat dan penyesuai dakwahnya. Syarat disebutnya mukjizat diantaranya :

1. Hal yang diluar kebiasaan.

2. Disertai tantangan untuk meniru, agar mereka yang di tantang mrasa tidak mampu untuk kemudan mengakui bahwa itu dari Allah.

· Pembagian Jenis Mukjizat:

1. Mu’jizat Indrawi ( kekuatan yang muncul dari fisik ). Ini yang sering terdapat pada diri nabi, kekuatan yang timbul atau disebut kesaktian

2. Mukjizat Rasionalis (lebih banya ditopang oleh kemampuan intelektual) Kemampuan intelektual yang rasional.

· Seg-segi Mukjiza Al-Qur’an:

1. Al-Qur’an memberikan ruangan sebebas-bebasnya pada pergaulan pemikiran ilmu pengetahuan. Segi bahasa dan susunan redaksinya

2. stimulus Al-quran kepada manusia untuk selalu berfikir atas didrinya sendiri dan alam semesta yang mengitarinya

3. Al-quran dalam mengemukakan dali-dalil argument serta penjelasan ayat-ayat ilmiah, menyatakan isyarat-isyarat ilmiah yang sebagiannya baru terungkap.

4. Segi sejarah dan pemberitaan yang ghaib.diantaranya : Sejarah/keghaiban masa lampau, Keghaiban masa kini, Ramalan kejadian masa yang akan datang.

5. Segi petunjuk penetapan hukum : Hukum hudud bagi pelaku zina, pencurian dsb. Hukum qishas bagi pembunuhan. Hukum waris yang detil. Hukum perang dan perdamaian.

6. Susunan kalimatnya indah.

7. Terdapat uslub (cita rasa bahasa) yang unik, berbeda dengan semua uslub-uslub bahasa Arab.

8. Menantang semua mahkluk untuk membuat satu ayat saja yang bisa menyamai Al-Qur’an, tapi tantangan itu tidak pernah bisa dipenuhi sampai sekarang ini.

9. Bentuk perundang-undangan yang memuat prinsip dasar dan sebagian memuat detail rinci yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia melebihi setiap undang-undang ciptaan manusia.

10. Menerangkan hal-hal ghaib yang tidak diketahui bila mengandalkan akal semata-mata.

11. Tidak bertentangan dengan pengetahuan ilmiah (ilmu pasti, science).

12. Tepat terbukti semua janji (ramalan) yang dikhabarkan dalam Al-Qur’an.

13. Mengandung prinsip-prinsip ilmu pengetahuan ilmiah didalamnya.

14. Berpengaruh kepada hati pengikut dan musuhnya

15. Gaya bahasa Al-Qur’an membuat orang Arab pada saat itu kagum dan terpesona. Kehalusan ungkapan bahasanya membuat banyak diantara mereka masuk islam.

16. Al-Qur’an muncul dengan uslub yang begitu indah.di dalam susunan kalimat tersebut terkandung nilai-nilai istimewa yang tidak akan pernah ada ucapan manusia.

17. Al-Qur’an menjelaskan pokok-pokok akidah, norma-norma keutamaan, sopan santun, undang-undang ekonomi, politik, social dan kemasyarakatan,serta hukum-hukum ibadah.

18. Ketelitian Redaksinya:

a. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dan antonimnya, beberapa contoh diantaranya :

i. Al-Hayah (hidup) dan Al-Maut (mati), masing-masing sebanyak 145 kali

ii. An-Naf (manfaat) dan Al-Madharah (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali

iii. Al-Har (panas) dan Al-Bard (dingin) sebanyak 4 kali

iv. As-Shalihat (kebajikan) danAs-Syyiat (keburukan) sebanyak masing-masing 167 kali

v. Ath-thuma’ninah (kelapangan/ketenangan) dan Adh-dhiq (kesempitan/kekesalan) sebanyak masing-msing 13 kali

b. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya atau makna yang dikandungnya

i. Al-harts dan Az-zira’ah (membajak/bertani) masing-masing 14 kali

ii. Al-‘ushb dan Adh-dhurur (membanggakan diri/angkuh) masing-masing 27 kali

iii. Adh-dhaulun dan Al-mawta (orang sesat/mati jiwanya) masing-masing 17 kali

iv. Al-infaq (infaq) dengan Ar-ridha (kerelaan) masing-masing 73 kali

v. Al-bukhl (kekikiran) dengan Al-hasarah (penyesalan) masing-masing 12 kali

vi. Al-kafirun(orang- orang kafir) dengan An-nar/Al-ihraq (neraka/pembakaran) masing-masing 154 kali

c. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabny

i. Al-israf (pemborosan dengan As-sur’ah (ketergesaan) masing-masing 23 kali

ii. Al-maw’izhah (nasihat/petuah) dengan Al-lisan (lidah) masing-masing 25 kali

iii. Al-asra (tawanan) dengan Al-harb (perang) masing-masing 6 kali

19. Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun, sedangkan kata hari dalam bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni), berjumlah tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain, kata yang berarti bulan (syahr) hanya terdapat dua belas kali sama dengan jumlah bulan dalam setahun.

20. Al-Qur’an menjelaskan bahwa langit itu ada tujuh macam. Penjelasan ini diulangi sebanyak tujuh kali pula, yakni dalam surat Al-Baqarah ayat 29, surat Al-Isra ayat 44, surat Al-Mu’minun ayat 86, surat Fushilat ayat 12, surat Ath-thalaq 12, surat Al- Mulk ayat 3, surat Nuh ayat 15, selain itu, penjelasan tentang terciptanta langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat.

21. Kata-kata yang menunjukkan kepada utusan Tuhan, baik rasul atau nabi atau basyir (pembawa berita gembira) atau (nadzir pemberi peringatan), kesemuanya berjumlah 5189 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut yakni 518.

22. Berita tentang hal-hal yang gaib

23. Banyak sekali isyarat ilmiah yang di temukan dalam Al-Qur’an, misalnya :

a. Cahaya matahari bersumber dari dirinya dan cahaya bulan merupakan pantulan. surat Yunus: 5

b. Kurangnya oksigen pada ketinggian dapat menyesakkan napas. surat Al-An’am ayat 25

c. Perbedaan sidik jari manusia.surat Al-Qiyamah ayat 4

d. Aroma atau bau manusia berbeda-beda. surat Yusuf ayat 94

e. Masa penyusunan yang tepat dan masa kehamilan minimal, surat Al-Baqarah ayat 233

f. Adanya nurani {superego} dan bawah sadar manusia. surat Al-Qiyamah ayat 14

g. Yang merasakan nyeri adalah kulit. Al-Qur’an surat An-nisa ayat 56

· Pendapat Para Ulama : Al-Baqillani dalam jaz Al-Qur’an menyebutkan tiga mukjizat dalam Al-Qur’an. Yakni, pemberitaan tentang perkara ghaib, penuturan kisah umat terdahulu dan keserasian yang menakjubkan

· Faedah Kajian Mukjizat Al-Qur’an : Al-Qur’an sebagai sosok kitab mukjizat yang didalamnya terdapat ilmu-ilmu yang menjdai pedoman bagi kaum muslim

Sabtu, 12 April 2008
Oleh: el-Hurr

“Al-Qur’an al-Karim, sebagai kitab terakhir nan sempurna yang diturunkan kepada Nabi pamungkas Muhammad saaw. memiliki keistimewaan khusus dari kitab-kitab langit yang lain. Kita menemukan pengakuan banyak ulama baik agama samawi maupun yang bukan atas perubahan kitab mereka bahkan terkadang menafikan ‘sifat langit’-nya kitab agama mereka. Para ilmuan Kristen sendiri mengakui bahwa kitab Injil yang empat ditulis setelah wafatnya al-Masih oleh empat Hawari (pengikut dan murid al-Masih). Mereka tidak menulis langsung melalui diktasi al-Masih, tapi tulisan tersebut berupa remembering atas peristiwa-peristiwa yang mereka alami selama menyertai al-Masih, seperti biografi, perilaku dan nasehat-nasehat, kisah perjalanan al-Masih. Selain itu, di antara injil tersebut bahkan berisikan surat-surat yang ditulis dan dikirim oleh para Hawari dan ulama-ulama Kristen kepada pengikutnya.”

Karenanya Injil bagi umat Kristen bukanlah merupakan kitab langit, tapi lebih merupakan biografi hidup al-Masih dan para Hawari. Demikian halnya umat Yahudi. Mereka mengakui bahwa dalam kitab Perjanjian Lama, tidak ada kalimat apapun yang merupakan firman langsung Tuhan kepada nabi Musa as. Sedangkan penganut Zarahustra mengakui bahwa dari 50 jilid kitab Avista, hanya satu yang mereka terima selebihnya mereka bakar.

Tinggallah al-Qur’an satu-satunya kitab suci yang diturunkan Tuhan kepada Rasulullah saw. didiktekan langsung maupun melalui perantara  dan dibacakan kepada umat manusia yang originalitasnya otentik serta terjaga.

Dengan perbedaan yang tegas ini, penganut agama lain merasa bahwa bahwa al-Qur’an merupakan gangguan serius bagi kelangsungan agama mereka, dan dengan bermodalkan kedengkian, mereka kemudian melakukan kerja serius untuk merendahkan kitab suci ini.[1]

Mereka dengan membawa dua semangat; pertama; berusaha menyamai posisi atau berusaha lebih dari yang mereka anggap musuh. Kedua; apabila mereka tidak dapat melakukan yang pertama, maka mereka mencari-cari kesalahan dan kelemahan musuh.

Para pembesar Gereja mengalami kebuntuan di jalan pertama, selain itu mereka juga melihat bahwa, kaum muslim sendiri tidak memiliki kemampuan atau kemungkinan merubah al-Qur’an, maka mereka memilih menggembar-gemborkan serta memperluas isu perubahan al-Qur’an.

USAHA MENCARI KELEMAHAN AL-QUR’AN

Di Munich Jerman, sebelum perang dunia ke dua tahun 1939-1945 proyek penulisan dan penyebarluasan tulisan-tulisan menyangkut al-Qur’an digalakkan. Untuk menjamin save-nya karyakarya tersebut, dibangunlah kemudian sebuah pusat reseach dan kepustakaan yang mereka namakan The Qur’anic Centre.

Ribuan naskah al-Qur’an dalam beragam bentuk dari berbagai kota dan negara dikumpulkan serta terjaga dengan baik di tempat itu. Setelah dilakukan penelitian panjang, mereka menemukan bahwa dari semua naskah-naskah al-Qur’an dalam bentuk sama, tidak ditemukan perubahan atau kelainan satu naskah al-Qur’an dengan naskah al-Qur’an yang lain. Tidak adanya perbedaan dari masing-masing naskah memustahilkan kemungkinan campur tangan manusia dalam ‘proyek’ kitab suci ini.[2]

INJIL DAN AL-QUR’AN

Salah satu kerja keras yang dilakukan oleh kaum Orientalis adalah penelitian seputar sejarah dan metodologi penulisan dan pengumpulan al-Qur’an. Isu perubahan al-Qur’an dari usaha mereka tersebut dimulai dari banyaknya mushhab al-Qur’an masing-masing sahabat. Bukan hanya memperluas beberapa perbedaan yang ada dalam mushhah-mushhab sahabat tersebut, isu yang lebih serius kemudian dikembangkan (baca; membesar-besarkan?) yaitu perubahan al-Qur’an.

Apa yang melatari kerja besar para orientalis ini? Kontra prestasi apa yang diinginkan dalam  mega proyek yang menelan dana super besar ini? Dengan mudah jawabannya dapat kita dapatkan bila membaca kembali sejarah agama Kristen ataupun Yahudi. Dengan membandingkan Injil dan al-Qur’an. titik terang dari usaha mereka akan tampak jelas.

Dewasa ini, para peneliti beragama Kristen dalam penelitiannya terhadap Injil, menemukan sekaligus mengakui ahistoris-nya kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Inseklopedia Pengetahuan di Inggris, menulis, pada abad pertama Masehi, terdapat 25 Injil beredar di kalangan penganut Kristen. Kitab Injil yang empat yang diakui sekarang ini, sampai tahun 325 Masehi belum diterima atau direkomendasikan oleh umunya gereja-gereja. Barulah setelah Persatuan gereja-gereja dengan mengumpulkan ribuan tokoh dari beragam kota melakukan penelitian atas ratusan naskah Injil, dari 50 Injil yang dianggap paling muktabar, empat Injil yang ada sekarang dipilih secara resmi sebagai kitab suci agama Kristen dan melarang Injil selainnya.[3]

Perlu dicatat juga bahwa, dalam pertemuan tersebut, hadirin terbagi menjadi dua, 2/3 menyakini bahwa al-Masih adalah manusia biasa. Sedangkan 1/3 menyakini ketuhanan al-Masih dan keyakinan Trinitas untuk pertama kali menjadi akidah Kristiani. Tapi penguasa akhirnya mendukung minoritas, alasannya sangat politis; karena Pendeta Estasius (pemimpin agung gereja Roma) adalah teman akrab imperator Konstantin, dan mayoritas di bawah tekanan Konstantin menerima akidah tersebut, ditambah lagi pendeta Arius yang menentang akidah mayoritas ini, ditemukan terbunuh oleh pihak kerajaan.[4]

Dr. Husain Taufiqi, seorang peneliti agama Kristen dari Iran menulis; “Perhelatan akbar ini dilaksanakan di Lawekiyah Suria pada tahun 364 M.” Irinayus, untuk mendukung rekomendasi empat Injil ini menulis; “sebab penjuru angin berjumlah empat, Tuhan juga memiliki perjanjian dengan manusia, maka Injil pun berjumlah empat..”

DUA A’UDZU VERSI ORIENTALIS

Sebagian orientalis berusaha mencari perbedaan antara mashahib al-Qur’an kumpulan sahabat Nabi dengan mushhab sekarang (yang ditulis oleh Taha Utsmany). Sebagai contoh, salah seorang dari mereka mengatakan bahwa, Ibnu Mas’ud meyakini bahwa Ma’udzatain (surah an-Nas dan al-Falaq) bukan merupakan bagian al-Qur’an, di mana kedua surah ini merupakan yang paling terkenal.[5]

Pendapat ini tentu saja sangat lemah dan mudah dijawab. Berikut ini beberapa komentar dari tokoh-tokoh besar Islam;

  1. Fakhr ar-Razi mengatakan; nukil menukil riwayat lemah ini hanya terdapat dalam kitab-kitab tua saja dan tentu saja tidak dapat diterima. Bagi kami, selain bahwa al-Qur’an merupakan rangkaian yang tidak terputus bukan saja pada zaman sahabat, mengingkari sebagian dari al-Qur’an yang ada dihukumi sebagai kafir.[6]
  2. Ibnu Hazm dalam al-Muhalla menulis; nukilan ini adalah kebohongan atas Ibn Mas’ud dan ini hanya kabar yang dibuat-buat. Dalam bacaan Ashim dan Zar’an –yang menukil dari Ibn Mas’ud- terdapat kedua surah ini, ini sudah cukup membuktikan bahwa Ibn Mas’ud meyakini kedua surah ini merupakan bagian dari al-Qur’an.[7]
  3. Qadi Abu Bakar al-Baqlany menulis; seandainya tuduhan atas Ibn Mas’ud itu benar dan berbeda dengan mushhab sahabat yang lain, tentunya akan terjadi perdebatan di antara mereka, tapi berita tentang itu tidak pernah kita temukan.

Atau anggaplah Ibn Mas’ud tidak memasukan kedua surah  tersebut dalam mushhabnya, tapi bukan berarti bahwa ia tidak meyakini bahwa keduanya memang bukan bagian dari al-Qur’an, sebagaimana ia tidak menulis dalam mushhabnya surah al-Fatihah dengan alasan surah ini sangat terkenal dan sedemikian dihapal hingga tidak akan mungkin dilupakan oleh kaum muslim.[8]

TUDUHAN LAIN DARI BELACHER

Selain tuduhan di atas, Belacher menulis; ayat-ayat yang turun di Makkah belum dikumpulkan dan tidak ada di dalam al-Qur’an sekarang. Pengoleksian dan penulisan ayat al-Qur’an dimulai di Madinah, karenanya Qur’an yang ada sekarang ini hanya memuat ayat-ayat yang turun di Madinah saja.[9]

Dr. Dasuqy memberikan jawaban yang atas tuduhan  ini. Ia menulis; “ayat yang turun di Makkah sekitar 19/30 dari keseluruhan ayat al-Qur’an, atas dasar apa Belacher tidak memperhatikan dan menafikan hal ini?”

Rudi Paret, orirentalis asal Jerman dalam mukaddimah terjemahan al-Qur’an bahasa Jermannya, menulis; “kami tidak mendapatkan bukti apa-apa yang bisa meyakinkan kami walau satu ayat saja yang original berasa dari nabi Muhammad.”

Belacher jauh menukik ke jantung mazhab-mazhab dalam Islam. Dengan mengorek-ngorek riwayat simpan siur dari beberapa mazhab semisal Mu’tazilah, Abadhiyah dan Syi’ah dan lain-lain. Tuduhan yang paling keras ditujukan kepada mazhab Syi’ah.[10]

BEBERAPA JAWABAN

  1. Tuduhan ini sangat tidak berdasar pada sejarah yang kuat. Meski tidak sangkal bahwa ada dari kalangan mazhab-mazhab Islam yang menukil perubahan al-Qur’an. tapi jumlah mereka sangat minim dan tentu saja tidak bisa dijadikan sebagai ukuran.
  2. khusus terhadap Syi’ah, Belacher membagi Syi’ah ke dalam dua golongan; Rafidhy yang ia tuduh sangat meyakini terjadinya perubahan radikal dari al-Qur’an. Imamiyah tidak meyakini perubahan radikal dari al-Qur’an.

Kesimpulan Belacher, semua golongan Syi’ah meyakini adalah Tahrif (perubahan) al-Qur’an. Tapi kenyataan sebenarnya adalah sebaliknya. Sebab sepanjang sejarah, mayoritas Syi’ah menolak secara tegas adanya tahrif . Demikian halnya penganut Syi’ah yang sekarang meyakini hal yang sama. Kitab-kitab tafsir Syi’ah, ulum al-Qur’an dan Akidah Syi’ah bisa kita jadikan buktinya.

Sejumlah kitab Syi’ah semisal di bawah menjadi bukti bahwa tuduhan keyakinan Syi’ah atas tahrif adalah tidak berdasar dan sangat lemah.

  1. Syaikh Shaduq (w. 381 ) Risalah al-I’tiqad hal. 48
  2. Syaikh Mufid (w. 413 ) al-Masail as-Sururiyah hal. 78
  3. Sayyid Syarif Murtadha (w. 436 ) az-Zakhirah fi al-Kalam hal.361
  4. Syaikh Tusi (w. 460) at-Tibyan fi Tafsir al-Qur’an 1/3
  5. Syaikh Tabarsy (w. 548 ) Majma’ul Bayan 1/83
  6. Sayid Ibn Thawus (w. 664 ) Mir’at al-Uqul 5/58
  7. Muhaqqiq Karaki al-Amili (w. 940 ) at-Tahqiq fi Nafy at-Tahrif hal. 22
  8. Syaikh Baha’I (w. 1030) Risalah al-Urwah al-Wutsqah hal. 16
  9. Faizd Kasyany (w. 1090) Tasfir as-Shafi 1/46

10.    Ayatullah al-Khu’i al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an hal. 26

11.    Allamah Thabathabai al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an

Masih banyak ulama kontemporer Syi’ah menulis ulasan-ulasan penolakan atas tahrif yang tidak bisa disertakan di sini.[11]

Selayaknyalah Belacher sebelum mengeluarkan tuduhan, merujuk kepada kitab-kitab Syi’ah muktabar kemudian selanjutnya kepada Belacher; Fa undzuru kaifa tahkumun….!

TUDUHAN F. BUHL

Dalam akhir jilid ke empat Eksiklopedia Pengetahuan Leinden, Buhl menulis Tahrif. Dengan berang, ia menuduh al-Qur’an telah melakukan telah mendistorsi Taurat dan Injil. Sebenarnya dalam tulisannya ini, ia lebih menekankan penyerangan terhadap al-Qur’an dalam misinya mempertahankan Taurat dan Injil. Selebihnya ia hanya menulis sedikit tentang keyakinan perubahan al-Qur’an dalam mazhab-mazhab Islam, itu pun dengan dua kekeliruan fatal telah dilakukannya.

Ia menulis; “kaum Syi’ah menuduh Sunni telah menghilangkan ayat-ayat yang membenarkan mazhab Syi’ah, demikian sebaliknya Sunni menuduh Syi’ah.”[12]

Ia memberikan dua tuduhan;

  1. Syi’ah meyakini adanya pengurangan ayat al-Qur’an
  2. Syi’ah meyakini adanya Penanmbahan ayat al-Qur’an

Di atas telah dibuktikan penyataan ulama besar Syi’ah yang menolak adanya tahrif. Merujuk kepada kitab-kitab mereka akan memberikan penjelasan yang terang atas masalah ini.

TUDUHAN ETAN KOHLBERG

Kohlberg dengan nada prokatif menuduh bahwa tahrif yang dilakukan oleh Syi’ah sebagai pay back atas kekhalifahan –selain Imam Ali- meski sebenarnya nampak ia kurang yakin dengan tuduhannya sendiri;

sejumlah kitab ulama besar Syi’ah menunjukkan adanya keyakinan sejumlah kitab ulama besar Syi’ah menunjukkan adanya keyakinan tahrif. Semisal; Tafsir Ali bin Ibrahim al-Qummy, Tafsir Imam Askary, Tafsir Furat, Tafsir ‘Ayasy, Awail Maqalat oleh Syaikh Mufid dan Fashlul Khitab oleh Mirza Husein Nury.” “Usaha kaum Syi’ah melakukan tahrif ini, adalah untuk membalas tersingkirnya Ali bin Abi Thalib dari posisi khalifah dan ketidak mampuan kaum Syi’ah untuk mencapai kekuasaan.”

Setelah itu ia menulis; “Sebenarnya sejumlah ulama kontemporer Syi’ah juga menolak adanya tahrif, di antaranya; Sayyid Syahristany, Burujerdi dan Khu’i.”[13]

TUDUHAN MICHAEL BRASHER

Ia menulis dalam desertasi doktoralnya; “dengan menelaah kitab-kitab muktabar  Syi’ah (tafsir Qummi, Furat Kafi, ‘Ayasyi, Tulisan-tulisan Syaikh Thusi dan Thabarsi, Bashair ad-Darajat, as-Shafy Faidh Kasyani, Bihar al-Anwar dll..), bisa dikatakan bahwa; meski pun penambahan dalam tafsir adalah keterangan dan bukan penambahan ayat  al-Qur’an. Tapi dalam hal ini, itu secara tidak langsung mengindikasikan keyakinan Syi’ah akan adanya tahrif…… Dalam kitab Bashair ad-darajat juga diriwayatkan bahwa para Imam mengizinkan membaca al-Qur’an yang dikumpulkan khalifah Utsman sampai munculnya Imam Mahdi as.”

Tuduhan Brasher ini dapat disimpulkan dalam empat sisi:

  1. Ulama-ulama Syi’ah meyakini adanya Tahrif
  2. Riwayat di atas menunjukkan bahwa hadits Syi’ah juga menerima adanya tahrif.
  3. Hadits dalam Bashair ad-Darajat menunjukkan adanya tahrif dan tidak otentiknya Qur’an yang ada sekarang bagi orang Syi’ah

JAWABAN:

  1. Tidak benarnya tuduhan Tahrif terhadap Syaikh Mufid, at-Thusi, at-Thabarsi, Faidh Kasyani dan al-Qummi.

Meski tidak memungkiri adanya riwayat-riwayat tahrif dalam beberapa kitab di atas, tapi ulama-ulama Syi’ah sendiri menolak riwayat-riwayat tersebut. Dua catatan bisa diketengahkan untuk menjawab Kohlberg dan Brasher;

1.     Terkadang Ulama di bawah tekanan penguasa zalim terpaksa mengakui tahrif atau mengubah menyamarkan hukum agama. Meski tidak menafikan adanya hal tersebut, tapi tidak juga bisa secara otomatis menuduh bahwa itu adalah akidah mereka.

2.     Ulama-ulama yang disebutkan kedua orientalis di atas, dalam kitab mereka telah memberikan penjelasan ketiadaan tahrif. Adapun Kohlberg dan Brasher, entah keduanya tidak melihat atau membaca langsung kitab-kitab yang mereka sebutkan dan hanya menukil dari penulis-penulis barat atau orang-orang yang anti Syi’ah, atau kalaupun mereka membaca dan memahami kitab-kitab tersebut, maka mereka telah melakukan kebohongan dan tuduhan!

Untuk memperjelas, beberapa bagian dari kitab-kitab yang dituduhkan sebagai berikut;

1.    Syaikh Mufid (w. 413) dalam Awail Maqalat menulis; “Adapun bahwa terdapat penanmbahan ayat di dalam al-Qur’an, tidak saya terima, sebagaimana Imam Shadiq berpendapat demikian.”[14]

2.    Syaikh Thusi (w. 460) dalam mukadimah tafsirnya secara tegas menolak tahrif. Sayangnya kedua ilmuan (?) orientalis ini tidak bersedia membaca sama sekali awal-awal halaman at-Thusi.

At-Thusi menulis; “membicarakan tahrif al-Qur’an (bertambah atau berkurang) merupakan hal yang sia-sia, sebab itu sebuah kebatilan dan mayoritas ulama secara ijma’ menolaknya…dan mazhab kami Syi’ah demikian meyakininya (ketiadaan tahrif)…sebab al-Qur’an yang ada sekarang adalah sempurna secara benar…”[15]

At-Thusi dalam mukadimah juga selanjutnya mengmukakan beberapa bukti ringkas ketiadaan tahrif dan mengingatkan dengan tegas bahwa sejumlah sedikit dari riwayat-riwayat tahrif adalah hadis ahad, “tidak usah diperhatikan, dan jangan habiskan waktu anda untuk membahasnya!”

3.    Syaikh Thabarsi (w. 548) dalam mukadimah tafsirnya sebagaimana dengan Syaikh Thusi dengan tegas menulis;

Sia-sia bila dalam kitab tafsir, membicarakan tentang tahrif. Sebab ijma’ kaum muslim meyakini ketiadaan penambahan. Adapun pengurangan –meski ada sebagian golongan yang menerima- tapi menurut riwayat yang benar, ulama Syi’ah menentang hal tersebut.”[16]

4.    Feidz Kasyani (w. 1090) pada point keenam mukadimah tafsirnya, setelah menyebutkan beberapa riwayat tahrif kemudian mengkritik tajam. Ia menulis;

penolakan atas riwayat-riwayat tahrif adalah jelas, sebab bila kita terima riwayat-riwayat (yang bertentangan dengan al-Qur’an) ini, maka tidak akan tersisa dari ayat al-Qur’an, karena setiap ayat akan berpotensi sama terhadap tahrif dan alQur’an tidak bisa diterima sebagai hujjah yang mutlak dan diturunkannya merupakan kesia-siaan…”[17]

Ini merupakan pernyataan tegas Feidz Kasyani yang sayangnya tidak disebut oleh para orientalis. Lantas di manakah Buhl, Kohlberg dan Brasher serta tuduhan-tuduhan terhadap ulama-ulama yang telah menghabiskan dan mengabdikan hidup dan ilmunya untuk semangat akademis, ilmiah dan mencari hakikat?? Sekali lagi para orientalis tidak menunjukkan semangat keilmuan dalam setiap penelitian dan aktifitas ilmiah yang mereka lakukan.

Semangat permusuhan telah mendistorsi posisi ilmiah mereka. Mereka lebih mengedepankan emosi dan tendensi fanatic, ideologis buta dan….aktsaruhum li al-haqqi karihun!


[1] . Lihat Orientalis dan al-Qur’an (1) Antara Ilmu dan Tendensi

[2] . al-Mustasyriqun wa Tarjamah al-Qur’an, Hal. 24

[3] . Dairah al-Ma’arif al-Injiliziah, Hal. 13.

[4] . al-Bisyarat, Hal. 33-35

[5] . al-Istisyraq wa al-Khalifah, Hal. 29

[6] . Suyuty, al-Itqan, Hal. 79

[7] . Ibid

[8] . al-Baqlany, I’jaz al-Qur’an, Hal. 292

[9] . al-Fikr al-Istisyraqy, Hal. 112

[10] . Rangkaian tuduhan Belacher atas perubahan al-Qur’an kepada mazhab-mazhab dalam Islam akan dibahas pada bagian ke 3 dari rangkaian tulisan ini. Tulisan ini, hanya akan menyoroti dan menjawab tuduhan kepada Syi’ah atas perubahan al-Qur’an.

[11] . Lih. Ara’ Haul al-Qur’an, hal 22

[12] .  F. Buhl, 4/608

[13] . Nukatat Chan dar Baray-e Maudhe-e Imamiy-e Nisbat be Qur’an, Hal. 77

[14] .  Hal. 54

[15] . al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, 1/3

[16] . Majma’ al-Bayan, Hal. 1/15

[17] . as-Shafi, 1/46

Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), Maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” (QS: Yunus:38).

Al-quran sebagai pegangan dasar bagi umat islam tentu mencakup segala aspek kehidupan yang dijalani, karena islam itu bukanlah agama teori semata bahkan melebihi dari itu. Segala aspek yang mendasar baik pra-islam maupun yang akan datang nantinya telah tercantum di dalamnya.

Al-quran yang mempunyai ayat sebanyak 6436 ayat, 114 surah dan 30 juz, secara fisik tidak menampung semua jenis permasalahan. Namun dilihat dari sini maknanya sangat menghimpun segala permasalahan, bukan hanya di dunia bahkan mulai dari nol penciptaan alam semesta sampai digulungnya kembali tikar hamparan bumi, bahkan ke alam yang tidak ada penghujungnya.

Ilmu tafsir merupakan jalur yang tepat untuk menggali kandungan Alquran. I’jaz al-quran merupakan salah satu sub bidang yang tidak pernah ditinggalkan baik dalam buku berskala kecil apalagi ensiklopedia.

I’jaz atau mu’jizat sebagai mana didefenisikan Imam As-Suyuthy adalah kejadian atau perkara yang di luar jangkauan hukum alam untuk mengalahkan bantahan, terhindar dari kontradiksi baik secara fisik maupun rasional.

Al-quran sendiri adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad saw., dan Alquran juga mempunyai mu’jizat (mu’jizat di dalam mu’jizat) dari dua aspek.

Pertama; I’jaz bi Nafsihi yaitu mukjizat yang terkandung di dalamnya meliputi keindahan tata bahasa al-quran, kolaborasi antara susunan huruf, ayat dan surah, bahkan keserasian antara faktor turun ayatnya dengan ayat yang diturunkan. Kevalidan data yang tidak bisa dibantahkan juga mengukukuhkan posisi al-quran sebagai i’jaz di tengah-tengah masyarat. Sungguh indah sekali apa yang tercantum dalam al-quran pada awal ayat surah al-Baqarah Allah berfirman:
“Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS: Albaqarah: 2).

Kedua Ijaz ‘An Ghairihi artinya al-quran sebagai mukjizat ditilik dari luar subtansi Alquran. Allah telah menegaskan dalam firman-Nya:

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS: 23)

Kelemahan manusia meniru al-quran bahkan satu ayat sekalipun memperjelas i’jaz-nya al-quran. Hal ini berimbas dari i’jaz bi nafsihi. Sudah barang tentu kepribadian menggambarkan coraknya di mata orang lain.

Sebagai contoh kemukjizatan al-quran Allah ‘mempermainkan’ akal manusia melalui satu harkah tasydid saja namun menyibak arkeolegi yang terjadi di masa Nabi Musa as. (Baca; Tasydid Pembukti sejarah).

Informasi kepesatan tekhlonogi di akhir zaman jauh sebelumnya telah diinformasikan, melalui gaya bahasa sastra yang sensitive. Contoh kongkritnya seperti ilmu perkembangan Janin yang dipaparkan al-quran dalam beberapa ayat seperti berikut:

“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.” (QS: Al Mu’min: 12-15)

Tidak ada yang membantah konsep kandungan yang dipaparkan al-quran, karena pembuat konsep adalah Sang pencipta kandungan itu sendiri. Informasi Alquran walaupun bersifat pra-sejarah namun jika dili dan digali ternyata memiliki objek yang takkan pernah kadaluarsa.

Qashasul qur’an

A. Pendahuluan
“kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu (QS. Yusuf: 3)
Sebagai sebuah kitab suci, Al-Qur’an memuat kisah-kisah yang tak terkotori oleh oleh goresan pena tangan-tangan jahil dan tidak tercampuri kisah-kisah dusta dan rekayasa. Kisah-kisahnya merupakan kisah yang benar, yang Allah kisahkan untuk segenap manusia, sebagai cerminan dan contoh bagi kehidupan manusia sekarang dan yang akan datang.
Allah memberitahukan dan menceritakann kisah kepada kita agar kita berfikir, dan Allah memerintahkan kita untuk menceritakan (kembali) kisah ini kepada umat manusia agar mereka berfikir, sebagaimana Allah juga telah memberitahukan kepada kita bahwa ia menceritakan kisah itu kepada kita untuk memberikan hiburan ketabahan, keteguhan hati, dan kesabaran untuk tetap melakukan usaha dan perjuangan.
Tujuan dihadirkannya kajian kisah ini adalah dalam rangka menemukan tujuan-tujuan al-Qur’an dari kisahnya, mengalihkan perhatian kita kepada kisah ini dalam kebenaran, prinsip, dan pengarahan, dalam rangka melaksanakan perintah Allah untuk memperhatikan dan memikirkan, dan mengambil pelajaran dari setiap bait yang ada dalam kitab sucinya yaitu al-Qur’an al-Karim.
B. Kisah-Kisah Dalam Al-Qur’an
1. Pengertian Kisah
Al-Qur’an telah menyebutkan kata qashas dalam beberapa konteks, pemakaian, dan tashrif (konjungsi) nya: dalam bentuk fi’il madhi, fi’il mudhori’, fi’il amr, dan dalam bentuk mashdar . Menurut bahasa, kata qashash berarti kisah, cerita, berita atau keadaan . kisah sendiri berasal dari kata al-qassu yang berarti mencari atau mengikuti jejak . sependapat dengan al-Qattan, Imam ar-Raghib al-Isfahani dalam kitab al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an juga mengartikan kata “Qashashtu atsarahu” sebagai “Saya mengikuti jejaknya” .
Hasbi Ashiddieqy menyatakan bahwa pengertian dari qashash adalah mencari bekasan atau mengikuti bekasan (jejak). Lebih lanjut, beliau juga menerangkan bahwa Lafadz qashash adalah bentuk mashdar yang berarti mencari bekasan atau jejak , dengan memperhatikan ayat-ayat berikut ini.
“lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula” (QS. Al-Kahfi:64)
“Sesungguhnya Ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan Sesungguhnya Allah, dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” . (QS. Ali Imran : 62)
” Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS. Yusuf: 111)

Dari berbagai pengertian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa secara global pengertian dari qashash adalah pemberitahuan Qur’an tentang hal ihwal umat yang telah lalu, nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Di samping itu, Qur’an juga juga banyak mengandung keterangan-keterangan tentang kejadian pada masa lalu, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri dan peninggalan atau jejak setiap umat. Dan Qur’an juga menceritakan keadaan mereka dengan cara yang menarik dan mempesona baik dalam pengkisahan atau dalam setiap lafadz yang menceritakannya.
2. Metodologi Mencermati Kisah-kisah Dalam Al-Qur’an
Berbagai penelitian tentang kisah dalam al-Qur’an harus memiliki konsep yang jelas dan benar, sehingga dapat merenungkan letak-letak yang mengandung pelajaran dari kisah-kisah orang terdahulu agar tidak keluar menuju ketersesatan, mitos-mitos, dongeng-dongeng, cerita-cerita, legenda bohong. Dalam al-Qur’an, terdapat beberapa indikator seputar pengamatan terhadap kisah orang-orang terdahulu dan seputar metodologi ilmiah yang benar .
Banyak sekali terdapat metodologi dalam memahami kisah-kisah dalam al-Qur’an, namun diantara yang paling mudah dipahami adalah metode dimana kisah-kisah tersebut di kelompokan dalam katagori “berita-berita gaib” . Kategori gaib dijadikan tawaran metode dengan kenyataan bahwa diantara karakteristik orang-orang mu’min yang paling nayata dan menonjol adalah beriman kepada ayang gaib (transenden), selain itu hal ini juga diperkuat dengan landasan dari bagian rukun iman yaitu beriman kepada yang gaib.
Rasionalitas ghaib dalam karakteristik pemahaman terhadap Islam adalah unsur utama pembentukan rukun iman , dan al-Qur’an sendiri dengan tegas mengkategorikan bahwa kisah-kisah orang-orang terdahulu yang termaktub di dalam-nya adalah termasuk ke dalam alam gaib. Dalam memahami kisah gaib dalam al-Qur’an, kisah tersebut dapat ditinjau dari segi waktu, antara lain:
1. Gaib pada masa lalu; dikatakan masa lalu karena kisah-kisah tersebut merupakan hal gaib yang terjadi pada masa lampau, dan disadari atau tidak kita tidak menyaksikan peristiwa tersebut, tidak mendengarkan juga tidak mengalaminya sendiri. Contoh-contoh dari kisah ini adalah:
a. Kisah tentang dialog malaikat dengan tuhannya mengenai penciptaan kholifah di bumi, sebabagaimana tercantum dalam QS. Al-Baqarah: 30-34
b. Kisah tentang penciptaan alam semesta, sebagaimana diceritakan dalam QS. Al-Furqon: 59 dan QS. Qaf: 38.
c. Kisah tentang penciptaan nabi Adam AS dan kehidupannya ketika d surga, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-A’raf: 7
2. Gaib pada masa kini; dalam artian bahwa kisah tersebut terjadi pada masa sekarang, namun kita tidak dapat melihatnya di bumi ini. Contoh-contoh dari kisah ini adalah;
a. Kisah tentang turunnya Malaikat-malaikat pada malam Lailatul Qadar, seperti disebutkan dalam QS. Al-Qadar: 1-5
b. Kisah tentang kehidupan makhluq-mahkluq gaib seperti setan, jin, Iblis, seperti tercantum dalam QS. Al-A’raf: 13-14.
3. Gaib pada masa depan; dengan penjelasan bahwa semua akan terjadi pada masa depan ( di akhir zaman), Contoh-contoh dari kisah ini adalah;
a. Kisah tentang akan datangnya hari kiamat, seperti tercamtu dalam QS. Qori’ah, Al-Zalzalah.
b. Kisah Abu Lahab kelak di akhirat, seperti terdapat pada QS. Al-Lahab.
c. Kisah tentang surga dan neraka orang-orang di dalamnya, seperti dijelaskan dalam QS. Al-Ghosiyah dan surat-surat yang lain .
Mengamati pembagian diatas, hemat penulis masih terdapat sedikit kekurangan yang menyangkut qashashul Qur’an atau kisah-kisah dalam al-Qur’an. Kalau kita teliti lebih lanjut, ternyata ktiteria ghaib yang terjadi pada masa sekarang yang dipakai oleh Shalah Al-Khalidy tidak cukup mewakili terhadap kejadian-kejadian yang diprediksikan oleh al-Qur’an. Labih jauh, terdapat beberapa ayat al-Qur’an yang menceritakan berbagai kisah dan prediksi tentang masa sekarang yang sifatnya nyata (bukan goib), seperti ayat tentang perputaran bumi, tata surya dan planet-planet yang mengelilinginya, ataupun ayat yang menceritakan tentang kerusakan yang akan terjadi di bumi ini adalah ulah dari manusia itu sendiri.
Dengan melihat kenyataan pada masa kekinian, ternyata kisah ataupun cerita-cerita dalam al-Qur’an banyak yang sudah bisa dirasionalkan oleh manusia, dengan berbagai teknologi yang telah dikembangkan, ini artinya kisah yang terdapat dalam al-Qur’an tidak selamanya bersifat gaib. Selain itu, fenomena alam yang banyak terjadi seperti gempa bumi, tanah longsor dan lain sebagainya juga sangat mendukung kenyataan bahwa al-Qur’an tetap mengakui rasionalitas dan eksistensi yang dimiliki manusia sebagai kholifah yang diperintahkan untuk membaca dan menjaga ayat-ayat qouniyah Allah yang ada di muka bumi ini.
2. Macam-macam Isi Kisah Dalam Al-Qur’an
Secara garis besar, ksah-kisah yang terdapat dalam al-Qur’an dibedakan menjadi tiga bagian, dengan pembagian sebagai berikut;
a. Kisah para nabi, kisah ini bercerita mengenai dakwah mereka kepada umatnya, mu’jizat-mu’jizat yang diberikan Allah kepadanya, sikap dan reaksi orang yang menentag dakwahnya, tahapan dakwah serta akibat-akibat yang diterima mereka dari orang-orang yang mempercayai dan menentangnya. Kisahkisah ini bayak diceritakan al-Qur’an seperti kisah tentang Nabi Adam (QS. Al-Baqarah: 30-39 dan QS. Al-A’raf; 11), kisah tentang Nabi Nuh (QS. Hud: 25-49), kisah tentang Nabi Ibrahim (QS. QS. Al-Baqarah: 124, 132, dan QS. Al-An’am: 74-83) dan kisah para nabi dan rosul yang lainnya.
b. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi pada masa lalu, dan orang-orang yang tidak dipastikan kenabiannya. Diantara kisah ini adalah kisah tentang Luqman (QS. Luqman: 12-13), kisah tentang Dzul Qornain (QS. Al-Kahfi: 9-26), kisah tentang Thalut dan Jalut (QS. Al-Baqarah: 246-251), dan kisah-kisah yang lain.
c. Kisah-kisah yang terjadi pada msa Rosulullah Muhammad SAW, seperti kisah tentang Perang Badar dan Perang Uhud (QS. Ali Imran), kisah tentang Ababil (QS. Al-Fil: 1-5), kisah tentang peristiwa hijrah (QS. Muhammad: 13) .
3. Hikmah dan Tujuan dari Kisah-Kisah Dalam Al-Qur’an
Allah menetapkan bahwa dalam kisah orang-orang tedahulu tedapat hikmah dan pelajaran yang bagi orang-orang yang berakal, serta yang mampu merenungi kisah-kisah itu, menemukan hikmah dan nasihat yang ada di dalamnya, serta menggali pelajarn dan petunjuk hidup dari kisah-kisah tersebut. Allah juga memerintahkan kita untuk ber-tadabbur terhadapnya, mnyuruh unutk meneladani kisah orang-rang yang sholeh dan mushlih, serta mengambil metode mereka dalam berdakwah dalam posisi kita sebagai makhluq dan kholfah di muka bumi ini.
Diantara hikmah yang dapat kita ambil dari kajian kisah-kisah dalam al-Qur’an seperti yang disebutkan oleh Manna Khalil al-Qattan dan Ahmad Syadali dalam buku mereka masing-masing antara lain sebagai berikut;
a. Menjelaskan asas-asas dan dasar-dasar dakwah agama Allah dan menerangkan pokok pokok syari’at yang diajarkan oleh para Nabi.
b. Meneguhkan Hati Rosulullah SAW dan umatnya dalam mengamalkan agama Allah (Islam), serta menguatkan kepercayaan para mu’min tentang datangnya pertolongan Allah dan kehancurang orang-orang yang sesat.
c. Menyibak kebohongan para Ahli Kitab dengan hujjah yang membenarkan keterangan dan petunjuk yang mereka sembunyikan, dan menentang mereka tentang isi kitab mereka sendiri sebelum kitab tersebut diubah dan diganti seperti firman Allah;

“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan[212]. Katakanlah: “(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), Maka bawalah Taurat itu, lalu Bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar”. (QS. Ali Imran: 93)

dan masih banyak faedah-faedah lain yang kita dapt dari kisah-kisah yang ada dalam al-Qur’an .

4. Bukti Arkeologis yang Mendukung Kisah-kisah dalam Al-Qur’an
Banyak temuan arkeolog yang memuat catatan-catatan kuno dan bukti-bukti geografis yang mendukung atau sesuai dengan penuturan al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa cerita atau kisah-kisah yang dimuat oleh al-Qur’an adalah benar adanya, karena secara periwayatan Allah sendiri telah menjamin . Catatan tertua yang ditemukan adalah catatan inskripsi atau naskah Ebla yang diperkirakan berumur 2500 tahun SM. Kumpulan naskah ini digali dari sebuah tempat yang bernama Tell Mardikh, sebelah barat Syiria, dan sekarang terdiri dari 15000 potongan lembengan tablet dan fragmen. Lempengan ini bersama temuan-temuah di Timur Dekat, Mesir dan Arabia dapat digunakan sebagai catatan Independen untuk membenarkan dan menguatkan kisah-kisah dalam al-Qur’an .
Sayangnya, kebanyakan temuan-temuan arkeologis tersebut banyak ditemukan oleh lembaga-lembaga arkeologi Barat-Kristen, seperti Pontifical Biblical Institute di Vatican, Misi Arkeolog lemabaga-lembaga AS, Perancis, Inggris dan lain sebagainya. Meskipun penelitian mereka didasarkan atas metode ilmiah, namun tidak diragukan lagi bahwa kepentingan mereka adalah untuk mencocokan tablet atau lempeng arkeologis tersebut dengan kisah-kisah Injil yang mempengaruhi mereka-baik sengaja ataupun yang tidak sengaja-telah banyak melakukan kesalahan tafsir terhadap lempeng-lempeng tersebut dan menguntungkan kepentingan mereka .
Bukti sejarah yang dapat kita lihat sampai sekarang dan masih tetap eksis adalah adalah baitullah Ka’bah serta runtutan ritual ibadah Hajji yang dilaksanakan di Mekkah, yang kebanyakan diambil dari kisah nabi Ibrahim dan keluarganya. Selain itu, sudah banyak video-video yang memperlihatakan kepada kita peninggalan dari para Nabi terdahulu, seperti penayangan “Jejak Rosul” yang dapat kita saksikan di setiap bulan Ramadhan, serta bukti-bukti arkeolog lain yang telah banyak ditemukan.
C. Nilai-Nilai Pendidikan dari Kisah-kisah Dalam Al-Qur’an
Tidak diragukan lagi bahwa kisah yang baik dan cermat akan digemari dan menembus relung jiwa manusia dengan mudah. Segenap perasaan mengikuti alur kisah tersebut tanpa merasa jemu atau kesal, serta unsur-unsurnya dapat dijelajahi akal sehingga ia dapat memetik dari keindahan tamannya aneka ragam bunga dan buah-buahan.
Dalam kisah-kisah Qur’ani terdapat lahan subur yang dapat membantu kesuksesan para pendidik dan peserta didik dalam melaksanakan tugasnya dan membekali mereka dengan bekal pendidikan berupa peri hidup para Nabi, berita-berita tentang umat terdahulu, sunnatullah dalam kehidupan dan hal ihwal bangsa-bangsa pada masa sebelumnya. Para pendidik terutama harus dapat menyuguhkan kisah-kisah Qur’ani dengan uskub bahasa yang sesuai dengan tingkat nalar para peserta didik dalam segala tingkatan.
Ada beberapa nilai pendidikan yang dapat di ambil dari beragam kisah yang terdapat dalam al-Qur’an. Para ulama’ besar sepeerti Sayyid Qutub dan yang lain telah banyak menyusun kisah-kisah tersbeut dan berhasil membekali kita dengan beragam manfaat sebagai i’tibar. Demikian juga Al-Jarim yang telah menyajikan kisah-kisah Qur’ani dengan gaya sastra yang indah dan tinggi .
Hasbi Ash Shiddieqy dalam buku Ilmu-ilmu al-Qur’an; Media Pokok Dalam Penafsiran al-Qur’an menyebutkan, beberapa nilai pendidikan yang terdapat dalam kisah-kisah Qur’ani diantaranya sebagai berikut.
a. menjelaskan dasar-dasar metode dakwah agama Allah dan menerangkan pokok-pokok syari’at yang disampaikan oleh para Nabi .
b. Mengokohkan hati Rosul dan hati umat Muhammad dalam menyembah Allah dan menguatkan kepercayaan para mu’min tentang datangnya pertolongan Allah dan hancurnya kebhatilan .

c. Menyikap kebohongan Ahlul Kitab yang telah menyembunyikan isi kita mereka yang masih murni .
D. Kesimpulan
Sungguh al-Qur’an merupakan sebuah kitab suci yang layak untuk dipuji dan diamalkan oleh seluruh hamba Allah yang ada di muka bumi ini, khususnya umat Muhammad SAW. Bagaimana tidak, karena di dalam al-Qur’an kita dapat menjumpai berbagai pembahasan seputar kehidupan yang ada dan terdahulu.
Dari berbagai pemaparan yang telah disebutkan, kita selayaknya dapat mengambil beberapa manfaat dari Qashashul Qur’an. Kita wajib percay bahwasanya kisah-kisah dalam al-Qur’an merupakan bagian sejarah umat manusia yang diungkapkan oleh Allah berupa kisah- kisah dan cerita-cerita gaib yang mengisahkan para Nabi dan Rosul Allah, peristiwa para umat terdahulu baik individu maupun golongan dan kehidupan Muhammad SAW serta kehidupan yang semasa dengan beliau.
Kita juga harus percaya bahwa kisah-kisah dalam al-Qur’an itu dikemukakan bukan sekedar untuk menambah pengetahuan yang dapat dibuktikan dengan berbagai temun ilmiah yang ada, karena jauh dari semuanya maksud dari cerita-cerita dalam al-Qur’an adalah menuntun manusia agar mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut.

Daftar Pustaka

Ahmad Ash-Shouwi, Dkk, Mukjizat al-Qur’an dan as-Sunnah Tentang IPTEK, Gema Insani Press, Jakarta 1995

Ahmad Syadali, Ahmad Rafi’I, Ulumul Qur’an, Jilid II, Pustaka Setia, Bandung 1997

Al-Qur’an Dan Terjemahannya, Depag RI, Jakarta 1989

Shalah Al-Khalidy, Terj. Setiawan Budi Utomo, Kisah-kisah Al-Qur’an; Pelajaran Dari orang-orang Terdahulu Jilid I, Gema Insani Press, Jakarta 1999

———————–, Terj. Setiawan Budi Utomo, Kisah-kisah Al-Qur’an; Pelajaran Dari orang-orang Terdahulu Jilid II, Gema Insani Press, Jakarta 1999

Manna Khalil al-Qattan, Terj. Mudzakir AS, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an,Litera Antar Nusa, Jakarta 2006

M. Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-ilmu al-Qur’an; Media Pokok Dalam Penafsiran al-Qur’an, Bulan Bintang, Jakarta 1972

Quraish Shihab, Mu’jizat Al-Qur’an, Mizan, Bandung 1998

A. Pengertian Kisah Dalam Al-Qur’an.
Menurut bahasa kata Qashash jamak dari Qishah, artinya kisah, cerita, berita, atau keadaaan. Sedangkan menurut istilah Qashashul Qur’an ialah kisah-kisah dalam Al-Qur’an tentang para Nabi dan Rasul mereka, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini dan masa akan datang.

B. Macam-Macam Kisah Dalam Al-Qur’an.
Didalam Al-Qur’an banyak dikisahkan beberapa peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah. Dari Al Qur’an dapat diketahui beberapa kisah yang pernah dialami orang-orang jauh sebelum kita sejak Nabi Adam ; seperti kisah para Nabi dan kaumnya. Kisah orang-orang Yahudi, Nasrani, Sabi’in, Majuzi dan lain sebagainya.
Selain itu Al-Qur’an juga menceritakan beberapa peristiwa yang terjadi di jaman Rasulullah SAW. Seperti kisah beberapa peperangan ( Badar, Uhud, Hunain ) dan perdamaian ( Hudaibiyah ) dan lain sebagainya.
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an dapat dibagi menjadi beberapa macam, adalah sebagai berikut :
1. Dari segi waktu.
Ditinjau dari segi waktu kisah-kisah dalam Al-Qur’an ada tiga macam, yaitu :
a) Kisah hal gaib yang terjadi pada masa lalu.
Contohnya :
q Kisah tentang dialog Malaikat dengan Tuhannya mengenai penciptaan khalifah bumi sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 30 – 34.
Kisah tentang penciptaan ama semesta sebagaimana terdapat dalam ( QS Al-Furqan : 59 ).q
Kisah tentang penciptaan Nabi Adam dan kehidupannya ketika di surga sebagaimana terdapat didalam ( QS Al-Araf : 11 – 25 ).q

b) Kisah hal gaib yang terjadi pada masa kini.
- Kisah tentang turunya malaikat-malaikat pad malam Laitlatul Qadar seperti diungkapkan dalalm ( QS Al-Qadar : 13 – 14 ).
- Kisah tentang kehidupan makhluk-makhluk gaib seperti jin, syetan, jin atau iblis seperti diungkapkan dalam ( QS Al-Araf : 13 –14 )

c) Kisah hal gaib yang akan terjadi pada masa akan datang.
- Kisah tentang akan datangnya hari kiamat seperti dijelaskan dalam Al-Quran Surat Al-Qaria’ah, surat Al-Zalzalah dan lainnya.
- Kisah tentang kehidupan Abu Lahab kelak diakhirat seperti diungkapkan dalam Al-Qur’an surat Al-Lahab.
- Kisah tentang kehidupan orang-orang di Surga dan orang-orang yang hidup didalam neraka seperti diungkapkan dalam Al-Quran surat Al-Gasyiah dan lainnya.

2. Dari segi materi.
Ditinjau dari segi materi, kisah-kisah dalam Al-Qur’an ada tiga yaitu :
a. Kisah-kisah para Nabi, seperti :
- Kisah Nabi Adam ( QS Al-Baqarah : 30-39 ).
- Kisah Nabi Nuh ( QS Al-Baqarah : 25 – 49 ).
- Kisah Nabi Hud ( QS Al-Araf : 65 –72 ).
- Kisah Nabi Yunus ( QS Al-Anam : 86 – 87 )
- Dll
a. Kisah tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi masa lampau yang tidak dapat dipastikannya kenabiannya.
- Kisah Tentang Luqman ( Qs Luqman : 12-13 ).
- Kisah tentang Zulqarnain ( QS Al-Kahfi : 83-98 ).
- Kisah tentang Thalut dan Jalut : ( QS Al-Baqarah : 246 – 251 ).
- Dll.
a. Kisah yang berpautan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dimasa Rasulullah SAW.
- Kisah tentang Ababil ( QS Al-Fil : 1 –5 ).
- Kisah tentang Hijrahnya Nabi SAW ( QS Muhammad : 13 ).
- Kisah tentang perang Hunain dan At-Tabuk dan lainnya.

C. Faedah Kisah Dalam Al-Qur’an.
Pertama, Qashash yang terdapat didalam Al-Quran itu bentuknya dapat ditangkap dan dimengerti oleh orang banyak. Karena artin-artinya itu masuk akal, masuk kedalam hati sanubari orang yang membacanya itu.
Kedua, Qashash itu dapat menyingkapkan tabir tentang hakikat mengemukakan yang ghaib kepada orang-orang yang mendengarkannya.
Ketiga, Mengumpukan Qashash yang mengagumkan didalam ibarat-ibarat pendek, seperti Qashahul Kaminah dan Qashashul Mursalah seperti ayat yang terdahulu.
Keempat, contoh yang dikemukakan itu untuk merangsang orang-orang yang dicontohkan, karena yang diumpamakan itu dalam hal ini sesuatu yang dapat merangsang jiwa.
Kelima, ada pula contoh yang dikemukakan itu ialah untuk mengejutkan yang dicontohkannya itu yaitu tentang apa yang tidak disukai.
Keenam, contoh yang dikemukakan itu untuk memuji orang yang dicontohkan.
Ketujuh, contoh yang dikemukakan itu adalah karena orang-orang yang dicontohkan itu mempunyai sifat-sifat yang menjengkelkan.
Kedelapan, contoh-contoh yang terjadi pada diri, disampaikan dengan pengajaran, dikuatkan dalam mencela, dan ditegakkan dalam sifat qana’ah.

Amtsal Qur’an

BAB I
PENDAHULUAN

Sebuah kata yang indah akan tampak lebih indah jika penggunaan kata tersebut menggunakan permitsalan, karena dengan permitsalan seseorang dapat mudah untuk memahami arti makna kalimat tersebut. Tamtsil merupakan kerangka yang dapat menampilkan makna-makna dalam bentuk yang hidup dan mantapdidalam pikiran.

A. Latar Belakang
Salah satu aspek keindahan retorika al-Qur’an adalah amtsal (perumpamaan-perumpamaan)-Nya. Al-Qur’an tidak hanya membicarakan kehidupan dunia yang di indra, tetapi juga memuat kehidupan akhirat dan hakikat lainnya yang memiliki makna dan tujuan ideal yang tidak dapat di indra dan berada di luar pemikiran akal manusia. Pembicaraan yang terakhir ini dituangkan dalam bentuk kata yang indah, mempesona dan mudah dipahami, yang dirangkai dalam untaian perumpamaan dengan sesuatu yang telah diketahui secara yakin yang dinamai tamtsil (perumpamaan) itu. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini saya akan mencoba membahas tentang amtsal al-Qur’an lebih dalam pada makalah saya.

B. Rumusan Masalah

1. Pengertian amtsal
2. Rukun amtsal
3. Macam-macam amtsal
4. Manfaat amtsal
5. Penggunaan amtsal

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Amtsal

Secara bahasa amtsal adalah bentuk jamak dari matsal, mitsl dan matsil yang berarti sama dengan syabah, syibh, dan syabih, yang sering kita artikan dengan perumpamaan : الأمثال جمع المثل كا لشبة والشبيه . Sedangkan menurut istilah ada beberapa pendapat, yaitu :
1. Menurut ulama ahli ‘Adab, amtsal adalah upacara yang banyak menyamakan keadaan sesuatu yang diceritakan dengan sesuatu yang dituju.
2. Menurut ulama ahli Bayan, amtsal adalah ungkapan majaz yang disamakan dengan asalnya karena adanya persamaan yang dalam ilmu-ilmu balaghoh disebut tasyabih.
3. Menurut ulama ahli tafsir adalah menampakkan pengertian yang abstrak dalam ungkapan yang indah, singkat dan menarik yang mengena dalam jiwa, baik dengan bentuk tasybih maupun majaz mursal

B. Rukun Amtsal (Tasybih)

Rukun amtsal ada empat, yaitu:
1. Wajah syabbah;
Yaitu pengertian yang bersama-sama yang ada pada musyabbah dan musyabbah bih.
2. Alat tasybih;
Yaitu kaf, mitsil, kaanna, dan semua lafadz yang menunjukkan makna perseruan
3. Musyabbah;
Yaitu sesuatu yang diserupakan (menyerupai) musyabbah bih.
4. Musyabbah bih;
Yaitu sesuatu yang diserupai oleh musyabbah.
Sebagai contoh, firman Allah SWT (QS. 2: 261)

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ في كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةَ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَآءُ وَ اللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah milipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Wajhu Syabah yang terdapat pada ayat ini adalah pertumbuhan yang berlipat-lipat. Tasybihnya adalah kata matsal. Musyabahnya adalah infaq atau shodaqoh dijalan Allah, sedangkan musyabbah bihnya adalah benih.

C. Macam-Macam Amtsal

1. Amtsal musharrahah
Yaitu amtsal yang jelas, yakni yang jelas menggunakan kata-kata perumpamaan atau kata menunjukkan penyerupaan.
Contohnya : QS Al-Baqarah [2] : 17-20 :
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka ini bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat. …. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”

2. Amtsal kaminah
Yaitu amtsal yang tidak menyebutkan dengan jelas kata-kata yang menunjukkan perumpamaan tetapi kalimat itu mengandung pengertian mempesona, sebagaimana yang terkandung di dalam ungkapan-ungkapan singkat (ijaz).
Contohnya : QS Al-Baqarah [2] : 68 :
“Sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan dari itu “

3. Amtsal mursalah
Yaitu kalimat-kalimat al-Qur’an yang disebut secara lepas tanpa ditegaskan redaksi penyerupaan, tetapi dapat digunakan untuk penyerupaan. Tetapi khusus mengenai amtsal mursalah, para ulama berbeda pendapat dalam menganggapinya.
a. Sebagian ulama menganggap amtsal mursalah telah keluar dari etika al-Qur’an. Menurut Ar-Razi ada sebagaian orang-orang menjadikan ayat lakum dinukum wa liyadin sebagai perumpamaan ketika mereka lalai dan tak mau menaati perintah Allah. Ar-Razi lebih lanjut mengatakan bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan sebab Allah tidak menurunkan ayat ini untuk dijadikan perumpamaan, tetapi untuk diteliti, direnungkan dan kemudian diamalkan.
b. Sebagian ulama lain beranggapan bahwa mempergunakan amtsal mursalah itu boleh saja karena amtsal, termasuk amtsal mursalah lebih berkesan dan dapat mempengaruhi jiwa manusia. Seseorang boleh saja menggunakan amtsal dalam suasana tertentu.
Contoh : QS [11] : 81 :
“Bukankah subuh itu sudah dekat” sebagai perumpamaan waktu yang udah dekat. Kitab yang khusus membahas Amtsalul Qur’an diantaranya Amtsal Al-Qur’an karangan Ibnu Qayyim Jauziah.

D. Manfaat Amtsal Al-Qur’an

Manna al-Qaththan menjelaskan bahwa diantara manfaat al-Qur’an adalah berikut ini:
1. Menampilkan sesuatu yang abstrak (yang hanya ada dalam pikiran) ke dalam sesuatu yang konkret-material yang dapat di indera manusia.
2. Menyingkap makna yang sebenarnya dan memperlihatkan hal yang gaib melalui paparan yang nyata.
3. Menghimpun arti yang indah dalam ungkapan yang singkat sebagaimana terlihat dalam amtsal kaminah dan amtsal mursalah.
4. Membuat si pelaku amtsal menjadi senang dan bersemangat.
5. Menjauhkan seseorang dari sesuatu yang tidak disenangi.
6. Memberikan pujian kepada pelaku.
7. Mendorong giat beramal, melakukan hal-hal yang menarik dalam al-Qur’an.
8. Pesan yang disampaikan melalui amtsal lebih mengena di hati lebih mantap dalam menyampaikan nasehat dan lebih kuat pengaruhnya.
9. Menghindarikan dari perbuatan tercela. Allah banyak menyebut amtsal dalam al-Qur’an untuk pengajaran dan peringatan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar : 27:

Artinya: “Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini Setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran”.
QS. Al-Ankabut : 43

Artinya: “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”.

E. Penggunaan Amtsal Sebagai Media Dakwah.

Berkaitan dengan media dakwah, Musthafa Mansyur menyatakan bahwa setiap pendakwah harus membekali dirinya dengan pengetahuan yang dapat mengetuk dan membuka hati pendengarnya sehingga ia dapat menyampaikan pesan-pesannya. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah melalui media amtsal. Pesan yang disampaikan melalui amtsal lebih mengena di hati, lebih mantap dalam menyampaikan nasehat, dan lebih kuat pengaruhnya. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW banyak menggunakan amtsal ketika menyampaikan dakwahnya dan banyak pula juru dakwah dan pendidik yang menyampaikan pesan-pesannya melalui media matsal.

Contoh-contoh amtsal dalam al-Qur’an

Berikut ini adalah beberapa contoh amtsal dalam al-Qur’an:

1. Perumpamaan tentang orang kafir (QS. Al-baqarah : 71)

Artinya : Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”. kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

2. Perumpamaan orang-orang musyrik (QS. Al-Ankabut : 41)

Artinya : Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.

3. Perumpamaan orang mukmin (QS. Huud ; 24)
*
Artinya : Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama Keadaan dan sifatnya?. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada Perbandingan itu)?.

4. Perumpamaan orang menafkahkan harta (QS. Al-Baqarah : 261)

Artinya : Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.

5. Perumpamaan tentang kehidupan dunia (QS. Yunus : 24)
$
Artinya : Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya[683], dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya[684], tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.

[683] Maksudnya: bumi yang indah dengan gunung-gunung dan lembah-lembahnya telah menghijau dengan tanam-tanamannya.
[684] Maksudnya: dapat memetik hasilnya.

6. Perumpamaan tentang pergunjingan (QS. Al-Hujurat : 12)
$
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Amtsal Al-qur’anBAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Allah menggunakan banyak perumpamaan (amtsal) dalam Al-Qur’an. Perumpamaan-perumpamaan itu dimaksudkan agar manusia memperhatikan, memahami, mengambil pelajaran, berpikir dan selalu mengingat. Sayangnya banyaknya perumpamaan itu tidak selalu membuat manusia mengerti, melainkan tetap ada yang mengingkarinya/ tidak percaya. Karena memang tidaklah mudah untuk memahami suatu perumpamaan. Kita perlu ilmu untuk memahaminya. Sudah digambarkan dengan perumpamaan saja masih susah apalagi tidak. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami mencoba menjelaskan sedikit tentang ilmu amtsal Al-Qur’an.

B. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah tentang amtsal Qur’an ini adalah menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu amtsal sehingga para pembaca yang awalnya belum pernah mengetahuinya menjadi tahu. Setelah memahami ilmu amtsal Qur’an diharapkan para pembaca mampu memahami, mangambil pelajaran, berpikir, dan selalu mengingat ayat-ayat Al-Qur’an.

C. Rumusan masalah
Dalam makalah ini kami hanya membahas beberapa ruang lingkup saja, yaitu:
1. Definisi Amtsal Al-Qur’an
2. Unsur-unsur Amtsal Al-Qur’an
3. Macam-macam Amtsal Al-Qur’an
4. Faedah Amtsal Al-Qur’an

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Amtsal Al-Qur’an
Dari segi bahasa, Amtsal merupakan bentuk jama’ dari matsal, mitsl, dan matsil yang berarti sama dengan syabah, syibh, dan syabih, yang sering diartikan dengan perumpamaan. Sedangkan dari segi istilah, amtsal adalah menonjolkan makna dalam bentuk perkataan yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh mendalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih ataupun perkataan bebas (lepas, bukan tasybih).

B. Unsur-unsur Amtsal Al-Qur’an
Sebagian Ulama mengatakan bahwa Amtsal memiliki empat unsur, yaitu:
1. Wajhu Syabah: segi perumpamaan
2. Adaatu Tasybih: alat yang dipergunakan untuk tasybih
3. Musyabbah: yang diperumpamakan
4. Musyabbah bih: sesuatu yang dijadikan perumpamaan.
Sebagai contoh, firman Allah swt. (Q. S. Al-Baqarah: 261)
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Wajhu Syabah pada ayat di atas adalah “pertumbuhan yang berlipat-lipat”. Adaatu tasybihnya adalah kata matsal. Musyabbahnya adalah infaq atau shadaqah di jalan Allah. Sedangkan musyabbah bihnya adalah benih.

C. Macam-macam Amtsal dalam Al-Qur’an
1. Al-Amtsal Al-Musharrahah
Yaitu matsal yang di dalamnya dijelaskan dengan lafadz matsal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih. Contohnya Q. S. Al-Baqarah: 261 sebagaiamana telah dijelaskan di atas.
2. Al-Amtsal Al-Kaminah
Yaitu matsal yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafadz tamsil tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik dalam kepadatan redaksinya dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya.
Misalnya adalah firman Allah Q. S. Al-Furqan: 67
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
Contoh lainnya adalah Q. S. Al-Isra’: 29
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.”
Kedua ayat di atas menggambarkan tentang keutamaan sebaik-baik perkara adalah yang pertengahannya.
3. Al-Amtsal Al-Mursalah
Yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafadz tasybih secara jelas, tetapi kalimat-kalimat tersebut berlaku sebagai tasybih.
Contohnya adalah Q. S. Hud: 81
“Bukankah subuh itu sudah dekat?”

Q. S. Fathir : 43
“rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.”

D. Faedah Amtsal Al-Qur’an
1. Menonjolkan sesuatu yang hanya dapat dijangkau dengan akal menjadi bentuk kongkrit yang dapat dirasakan atau difahami oleh indera manusia.
2. Menyingkapkan hakikat dari mengemukakan sesuatu yang tidak nampak menjadi sesuatu yang seakan-akan nampak. Contohnya Q. S. Al-Baqarah: 275
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
3. Mengumpulkan makna yang menarik dan indah dalam ungkapan yang padat, seperti dalam amtsal kaminah dan amtsal mursalah dalam ayat-ayat di atas.
4. Memotivasi orang untuk mengikuti atau mencontoh perbuatan baik seperti apa yang digambarkan dalam amtsal
5. Menghindarkan diri dari perbuatan negatif
6. Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat memuaskan hati. Dalam Al-Qur’an Allah swt. banyak menyebut amtsal untuk peringatan dan supaya dapat diambil ibrahnya.
7. Memberikan kesempatan kepada setiap budaya dan juga bagi nalar para cendekiawan untuk menafsirkan dan mengaktualisasikan diri dalam wadah nilai-nilai universalnya.

BAB III
KESIMPULAN

Allah menggunakan banyak perumpamaan (amtsal) dalam Al-Qur’an. Perumpamaan-perumpamaan itu dimaksudkan agar manusia memperhatikan, memahami, mengambil pelajaran, berpikir dan selalu mengingat. Sayangnya banyaknya perumpamaan itu tidak selalu membuat manusia mengerti, melainkan tetap ada yang mengingkarinya/ tidak percaya. Karena memang tidaklah mudah untuk memahami suatu perumpamaan. Kita perlu ilmu untuk memahaminya.
Amtsal Qur’an penting untuk memotivasi orang untuk mengikuti atau mencontoh perbuatan baik seperti apa yang digambarkan dalam amtsal, menghindarkan diri dari perbuatan negatif. Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat memuaskan hati. Dalam Al-Qur’an Allah swt. banyak menyebut amtsal untuk peringatan dan supaya dapat diambil ibrahnya. Amtsal juga memberikan kesempatan kepada setiap budaya dan juga bagi nalar para cendekiawan untuk menafsirkan dan mengaktualisasikan diri dalam wadah nilai-nilai universalnya.

PENDAHULUAN
Segala puja dan puji sukur kepada Allah dan nabi nmuhammad SAW atas selsainya makalah ini.salah satu aspek keindahan retorika Al Quran tidak hanya memuat masalah kehidupan dunia yang diindera, tetapi juga memuat kehidupan akhirat dan hakikit ainnya yang memiliki tujuan dan makna ideal yang tidak dapat diindera dan berada diluar pemikiran akal manusia. Pembicaran yang terakhir ini dituang kan dalam bentuk kata yang indah mempesona dan mudah dipahami, yang dirangkai dalam untaian perumpamaan dengan ssuatu yang telah diketahuisecara yakin yang dinamai tamtsil (perumpamaan) itu.
Tamtsil (membuat prumpamaan) merupakan gaya bahasa yang dapat menampilkan pesan yang bebekas pada Hti snubari. Muhammad Mahmud Hujazi enyatakan bahwa entuk amtsal yang merupakan inti sebuah kaimat yang sangat berdampak bagi jiwa dan berbekas bagi akal.Oleh karena itu Allah membuat perumpamaan bagi manusa bukan binatang atau makhluk lainnya agar manusia dapat memikirkan dam memahami rahasia serta isyarat yang terkandung didalamnya.
Berkaitan dengan amtsal Al quran ini, kuntowjoyo memandang bahwa pada dasarnya kandungan Al Quran itu terbagi menjadi dua bagian, bagian pertama: erisi konsep-konsep dan baian kedua berisi kisah-kisa sejarah dan amtsal. Bagia pertama dimaksudkan untuk membentu pemahaman dan komprehansif mengenai nilai-nilai sejarah islam,sedangkan bagian kedua dimaksdkan sebagai ajakan perenungan untuk memeperoleh hikmah. Kisah kesabaran nabi ayyub

AMSTSAL AL-QURAN
Aamtsal adalah bentuk jamak darikata matsal (perumpaman)atau mutsil (serupa) atau matsil, sama halnya dengan kata syabah atau syabih karena itu dalam kata syabah atau syabih karena itu dalam ilmu balaghah. pembahasan ini lebih dikenal dengan istilah yasybih, bukan amtsal.Dalam pengertian bahasa (etimoligi) amtsal dalam menurut ibn Al Asfahani, amtsal berasal dari kata al mutsul , yakni al iuntishab (asal bagian) mastal berarti perumpamaan,

Amtsal menurut pengertian istilsah (tertimologi)dirumuskan oleh para ulama dengan redaksi yang berbeda-beda,
1. Menurut Rasyid Ridha
Amtsal adalah kalimat yang digunakan untuk memberi kesan dan menggerakkan hati nurani, Bila didengar terus, pengaruhnya akan menyentuh lubuk hati yang paling dalam
2. Menurut Ibnu Al-Qayyim

Artinya:
”Menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hukumya. Mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan sesuatu yang kongkret, atau salah satu dari keduanya dengan yang lainnya”
3. Menurut Muhammad Bakar Ismail
Amtsal alquran adalah mengumpamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Baik dengan jalan isti’arah. Kinayah. Atau tasbiyah
Berdasarkan pengertian diatas . baik secara bahasa atau istilah. Dapat disimpulkan bahwa amtsal Al-Quran adalah menampilkan sesuatu yang hanya ada dalam pikiran. dengan diskripsi sesuatu yang dapat dindera. Melalui pengungkapan yang indah dan mempesona. Baik dengan jalan tasbiyah. Istiarah. Kinayah.atau mursal.
Dilihat dari segi istilah amtsal dikenal sebagai salah satu aspek ilmu sastra arab. Pengertian amtsal dalam Al-Quran lebih tepat digunakan untuk mengacu pada kesan dan sentuhan perasaan terhadap apa yang dikandungnya. Tanpa mempersoalkan ada atau tidak adanya kisah yang berhubungan dengan amtsal itu.

A. Macam-macam amtsal Al-Quran
Menurut Al Qathan. Amtsal Al Quran dapat dibagi menjadi tiga bagian. Yaitu berikut ini,
1) Amtsal Musharrahah
Yang dimaksudkan dengan amtsal musharrahah adalah amtsal yang jelas. Yakni yang jelas menggunakan kata-kata perumpamaan atau kata yang menunjukkan penyerupaan tasybih
2) Amtsal kaminah
Yang dimaksud dengan amtsal kaminah adalah matsal yang tidak menyebutkan dengan jelas dengan kata-kata yang menunjukkan kata-kata perumpamaan tetapi kalimat itu mengandung pengertian yang mempesona. Sebagaimana terkandung didalam ungkapan-ungkapan singkat (ijaz).
3) Amtsal mutsalah yang dimaksud dengan amtsal mursalah adalah kalimat-kalimat Al Quran yang deisebut secara secara lepas tanpa ditegaskan redaksi penyerupaan. Tetapi dapat digunakan untuk penyerupaan.

B. Manfaat-manfaat amtsalul Quran
Ungakapan-ungkapan dalam bentuk amtsal dalam Al Quran mempunyai beberapa manfaat, diantaranya:
a) Pengungakapan pengertian yang abstrak dengan bentuk yang kongkrit yang dapat ditangkap dengan indera manusia,
b) Dapat mengungkapkan kenyataan dan mengkongkitkan hal yang abstrrak.
c) Dapat mengumpulkan kata yang indah , menarik dalam ungkapan yang singkat dan padat,
d) Mendorong giat beramal, melakukan hal-hal menarik dalam Al Quran,
e) Menghindarkan dari perbuatan tercela.

C. Rukun amtsal terbagi empat macam:
a) Wajah syabbah
Yaitu pengertian yang bersama-sama yang ada musyabbah dam musyabbah bih.
b) Alat tasybih
Yaitu kaf, mistily, kaanna, dan semua lafadz yang menunjukkan makna perserupaan.
c) Musyabbah
Yaitu sesuatu yang diserupakan (mwnyerupai) musyabbah bih.
d) Musyabbah bih
Yaitu sesuatu yang diserupai oleh musyuabbah.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.